Trump Tolak Usulan Gencatan Senjata Iran untuk Buka Selat Hormuz
Trump menolak peta jalan tujuh hari dari Iran untuk mengakhiri perang dan membuka kembali Selat Hormuz; Teheran kini mempelajari kontrausul Washington.
Oleh Adi Rahmadi · · Internasional

Rangkuman
- Trump menolak usulan Iran yang meminta AS mencairkan dana beku, mencabut sanksi minyak, dan mengakhiri blokade angkatan laut dalam 4-5 hari agar Selat Hormuz dibuka kembali
- Wall Street Journal melaporkan Trump memperkirakan kampanye pengeboman baru terhadap Iran setelah pemilu sela AS November mendatang
- Ekspor minyak Teluk dilaporkan mendekati level sebelum perang lewat jalur alternatif dan rute kapal tanker yang dikawal AS pada malam hari
JAKARTA — Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak usulan gencatan senjata tujuh hari yang diajukan Iran untuk mengakhiri perang dan membuka kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran kritis bagi pasokan minyak dunia. Penolakan itu disampaikan Trump kepada wartawan di Gedung Putih pada Sabtu (27/9/2026) waktu setempat, dan hingga Rabu (30/9) belum ada terobosan baru meski Teheran menyatakan telah menerima kontrausul dari Washington, demikian dilaporkan Al Jazeera dan CBS News.
Usulan Iran diumumkan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi di Sidang Majelis Umum PBB di New York pada Jumat pekan lalu. Isinya: AS mencairkan dana Iran yang dibekukan, mencabut sanksi minyak, dan mengakhiri blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Menurut Araghchi, langkah-langkah itu bisa diselesaikan dalam empat sampai lima hari, membuka jalan bagi pembukaan kembali Selat Hormuz, dan negosiasi kesepakatan final dimulai pada hari ketujuh.
Trump menilai usulan itu tidak bisa diterima. "Mereka ingin membuat kesepakatan, dan menurut saya itu bagus. Saya juga ingin membuat kesepakatan," kata Trump, seraya mengeklaim Iran terdesak karena "kalah telak". Araghchi membalas lewat saluran Telegram-nya bahwa Iran "tidak akan mundur" dari syarat-syaratnya. "Kami telah melihat reaksi pertama dari presiden AS, tetapi belum ada apapun yang disampaikan kepada kami melalui para mediator," tulisnya, seraya menyebut Trump punya riwayat pernyataan yang saling bertentangan. Menurutnya, hanya solusi yang dinegosiasikan yang bisa mengeluarkan AS dari kebuntuan.
Wall Street Journal, mengutip sejumlah pejabat AS tanpa nama, melaporkan Trump secara pribadi skeptis Teheran akan memenuhi tuntutannya. Lebih jauh, Trump disebut mengatakan kepada para pembantunya bahwa ia memperkirakan kampanye pengeboman baru terhadap Iran akan dilancarkan setelah pemilu sela AS pada November. Duta Besar AS untuk PBB Mike Waltz, dikutip The Hill, mengatakan Trump menolak usulan gencatan itu antara lain karena tuntutan Iran akan pencabutan sanksi yang segera.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian, yang juga hadir di Sidang Umum PBB, menegaskan Teheran tidak lagi mempercayai negosiasi dengan Washington, mengacu pada putaran-putaran pembicaraan sebelumnya yang diikuti serangan militer dan sanksi baru. "Kami tidak punya kepercayaan pada pihak Amerika dan tidak tahu atas dasar apa kesepahaman bisa dicapai dengannya," kata Pezeshkian kepada Al Jazeera. Ia membantah Iran bertanggung jawab atas penutupan Selat Hormuz, dengan alasan AS lebih dulu "menutup jalur-jalur itu". Iran menutup selat tersebut tak lama setelah AS dan Israel melancarkan perang pada 28 Februari lalu, dan serangan-serangan terhadap kapal di perairan itu sejak saat ini memangkas tajam lalu lintas pelayaran.
Di lapangan, perang terus berdampak luas meski intensitas serangan menurun. Komando Pusat AS (CENTCOM) pada Rabu mengumumkan Bahrain bergabung dengan Task Force Falcon Strike, satuan tugas drone serang multinasional pertama di dunia yang dibentuk Agustus lalu. Bahrain menjadi sasaran rutin serangan Iran sejak perang pecah, termasuk serangan terhadap markas Armada Kelima Angkatan Laut AS pada hari-hari pertama perang. Dari Mesir, Presiden Abdel-Fattah el-Sissi menyebut Terusan Suez telah kehilangan pendapatan kumulatif 20 miliar dolar AS akibat gangguan pelayaran dari konflik Timur Tengah, dengan lalu lintas masih 60-70 persen di bawah level sebelum perang.
Di tengah kebuntuan diplomatik, ada tanda-tanda adaptasi ekonomi. Perusahaan data Kpler menyebut ekspor minyak dan bahan bakar dari Teluk telah mendekati level sebelum perang berkat rute-rute alternatif dan jalur kapal tanker yang dikawal AS pada malam hari melintasi Selat Hormuz. Rata-rata 21,8 juta barel per hari minyak mentah dan produk olahan kini dikapalkan per pekan, dibandingkan garis dasar sebelum perang sebesar 23,3 juta barel per hari. "Kita semakin mendekati keadaan normal, belum pada level sebelum konflik, tetapi semakin dekat," kata Matt Smith, direktur riset komoditas Kpler, seperti dikutip CBS News. Namun semua jalur pengalihan itu menyita waktu dan mahal, sehingga keseimbangan pasokan energi global tetap rapuh selama Trump dan Teheran bertahan pada posisi masing-masing.
Sumber
- Trump rejects Iran's seven-day roadmap to end war and reopen Hormuz — Al Jazeera
- Live Updates: Iran says it has received U.S. counterproposal to 7-day ceasefire plan rejected by Trump — CBS News
- Trump Rejects Iran Ceasefire, Expects Renewed Bombing After Midterms — Wall Street Journal
- Donald Trump rejected Iranian ceasefire due to demands for immediate sanction relief — The Hill