Iran Belum Putuskan Keluar dari NPT, Trump Ancam 'Hal Besar akan Terjadi'
Pejabat senior Iran Mohsen Rezaei menyebut Teheran belum memutuskan keluar dari NPT dan menunggu sikap AS, sementara Trump ancam 'hal besar akan terjadi'.
BeritaFlash AI · · Internasional

Rangkuman
- Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mohsen Rezaei mengatakan Iran belum memutuskan menarik diri dari NPT; setiap keputusan bergantung pada sikap Washington.
- Iran menyampaikan syarat mengakhiri perang lewat mediator Qatar dan Pakistan: penghentian permusuhan di semua front, pencairan aset yang dibekukan, dan pencabutan blokade maritim.
- Trump dalam wawancara Fox News menyebut opsi 'menghancurkan Iran, membiarkannya membusuk secara ekonomi, atau mencapai kesepakatan', namun membuka kemungkinan bertemu Presiden Pezeshkian di sela Sidang Umum PBB pekan ini.
TEHERAN — Iran belum memutuskan apakah akan menarik diri dari Perjanjian Non-Proliferasi Senjata Nuklir (NPT), dan setiap keputusan soal itu akan bergantung pada sikap Washington. Hal itu disampaikan Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mohsen Rezaei dalam wawancara dengan stasiun televisi Qatar, Al Jazeera, yang dipublikasikan Sabtu (19/9/2026), sebagaimana diberitakan Antara mengutip Xinhua.
Rezaei menegaskan negaranya masih berkomitmen pada fatwa keagamaan mendiang pemimpin tertinggi Ali Khamenei yang melarang pengembangan senjata atom. "Namun, kami tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan," ujarnya. Ia menekankan bahwa kepentingan Washington adalah menerima syarat-syarat Iran untuk mengakhiri perang: penghentian permusuhan di semua front, pencairan aset Iran yang dibekukan, dan pencabutan blokade maritim anti-Iran. Konsultasi dengan mediator dari Qatar dan Pakistan disebut masih terus berlanjut.
Sebelumnya, pada 28 Februari, Israel dan AS melancarkan serangan gabungan terhadap Teheran dan sejumlah kota lain di Iran. Iran membalas dengan gelombang serangan rudal dan drone ke Israel serta pangkalan dan aset AS di kawasan, sekaligus memperketat kendalinya atas Selat Hormuz. Pada 18 Juni, AS dan Iran meneken nota kesepahaman (MoU) untuk mengakhiri perang di semua front, dengan tenggat perundingan 60 hari yang berakhir 17 Agustus — namun nasib perundingan itu kini tidak jelas setelah rangkaian eskalasi terbaru.
Dari sisi Amerika, Presiden Donald Trump dalam wawancara dengan Fox News pada Minggu mengatakan hanya ada beberapa opsi bagi Washington: "menghancurkan Iran, membiarkannya membusuk secara ekonomi, atau mencapai kesepakatan". Ia juga melontarkan ancaman bernada tinggi: "Pertanyaan saya adalah kapan—dan apakah—saya akan meledakkan seluruh Iran. Mereka sebaiknya bersikap baik." Di saat yang sama, Trump mengaku terbuka bertemu Presiden Iran Masoud Pezeshkian di sela Sidang Majelis Umum PBB yang berlangsung pekan ini.
Trump juga menyebut sejumlah pejabat Iran sedang "bersembunyi seperti tikus" sehingga sulit menemukan pihak yang bisa mencapai kesepakatan. Soal Houthi di Yaman, ia mengklaim kelompok itu telah sepakat tidak berperang melawan AS, meski kedutaan virtual AS untuk Iran justru mengeluarkan peringatan keamanan agar warga AS tidak bepergian ke Iran dengan alasan apa pun, dengan alasan kelompok Houthi yang didukung Iran melakukan tindakan permusuhan terhadap Arab Saudi termasuk serangan terhadap bandara sipil.
Di dalam negeri Iran, Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf menyatakan negaranya harus "berjuang sekaligus bernegosiasi". Ia menegaskan Selat Hormuz akan tetap ditutup sampai syarat-syarat Iran dipenuhi. "Selama syarat-syarat tersebut belum dipenuhi, hak-hak mutlak bangsa Iran belum diakui, dan pihak Amerika belum menepati komitmen mereka, maka tidak ada kemungkinan untuk kembali ke kerangka negosiasi sebelumnya ataupun membuka kembali Selat Hormuz," katanya.
Sementara itu akademisi Iran Mostafa Khoshcheshm, dikutip Al Jazeera, menilai Iran meyakini semua skenario menunjukkan AS dan Israel sedang bersiap menghadapi perang skala penuh, sehingga Teheran merasa tidak punya pilihan selain memakai "bahasa kekuatan". Menurut dia, opsi terbaik Iran adalah menaikkan harga minyak mentah untuk memengaruhi pemilihan umum sela di AS, dan untuk itu Iran meyakini perlu menutup Selat Hormuz sementara, setidaknya beberapa bulan. Ia juga menilai Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kemungkinan kembali menempuh opsi militer karena posisinya lemah menjelang pemilu Israel.
Perlu ditegaskan, klaim bahwa AS-Israel tengah merencanakan "serangan besar-besaran" sejauh ini merupakan analisis dan penilaian dari pihak Iran, bukan fakta terkonfirmasi. Yang terkonfirmasi dari dua sumber berbeda adalah: Iran belum memutuskan keluar dari NPT, dan Trump mengancam sekaligus membuka pintu diplomasi di sela Sidang Umum PBB.
Sumber
- Pejabat senior sebut Iran belum putuskan keluar dari NPT, tunggu sikap AS — Antara
- Teheran Bersiap, AS-Israel Rencanakan Serangan Besar-Besaran — Republika
- Trump Ingatkan Iran: Hal Besar akan Terjadi — Republika
- Will Iran withdraw from nuclear non-proliferation treaty? — DW