Perang AS-Iran: Menlu Iran Siap 'Perang Kiamat', Usulan Hormuz Ditolak Trump
Menlu Iran Abbas Araghchi tegaskan Teheran siap hadapi perang penghabisan dengan AS usai Trump tolak usulan pembukaan kembali Selat Hormuz di PBB.
Oleh Adi Rahmadi · · Internasional

Rangkuman
- Menlu Iran Abbas Araghchi: Iran siap menghadapi 'doomsday war' namun tetap membuka diplomasi nyata
- Trump menolak usulan tujuh hari Iran: pencabutan blokade laut, sanksi minyak, dan pencairan aset 12 miliar dolar AS
- Terungkap delapan marinir AS terluka akibat rudal jelajah Iran di Selat Hormuz pada 14 September, menurut laporan NBC News
TEHERAN — Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat memasuki babak baru setelah Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan negaranya sepenuhnya siap menghadapi perang terbuka dengan Washington, bahkan jika itu berujung pada apa yang ia sebut perang penghabisan. Pernyataan itu disampaikan menyusul penolakan Presiden AS Donald Trump terhadap usulan perdamaian tujuh hari yang dibawa Teheran ke Sidang Umum PBB di New York pekan lalu.
"Presiden Pezeshkian dan saya tidak datang ke New York untuk mengobarkan perang. Kami datang untuk mewujudkan perdamaian," tulis Araghchi di platform X, dikutip Republika. "Kendati demikian, Iran tetap teguh menghadapi agresi apa pun—bahkan jika itu berujung pada perang penghabisan hari akhir. Pada saat yang sama, kami siap untuk diplomasi yang nyata."
Dalam wawancara dengan acara Meet the Press NBC News, sebagaimana dimuat CNBC Indonesia, Araghchi menggunakan istilah "doomsday war". "Kami siap bernegosiasi sebanyak kami siap menghadapi tantangan apa pun... Kami berdiri teguh dalam menghadapi agresi apa pun terhadap kami, bahkan jika itu berujung pada doomsday war," tegasnya. Ia mengakui tidak ada alasan kuat untuk kembali ke jalur diplomasi, namun menyebut dirinya masih mencoba karena tidak ingin melewatkan peluang perdamaian.
Usulan Iran yang ditolak Trump mencakup pencabutan blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, penghapusan sanksi atas penjualan minyak Iran, pencairan aset Iran yang dibekukan senilai sekitar 12 miliar dolar AS, serta kepatuhan terhadap gencatan senjata regional yang lebih luas, termasuk di Lebanon dan Yaman. Setelah itu, Iran akan membuka kembali Selat Hormuz dan memulai negosiasi akhir dengan Washington. "Saya menolak usulan mereka," ujar Trump kepada wartawan, Sabtu waktu AS, seraya berpendapat Iran menginginkan kesepakatan karena sedang "kalah telak".
Utusan AS untuk PBB Mike Waltz menyebut tawaran itu sebagai upaya sinis karena disertai permintaan akses dana miliaran dolar dan pencabutan sanksi. "Ini bukan sekadar sanksi dari Amerika Serikat. Ini adalah sanksi global," katanya kepada NBC News, seraya mengingatkan tujuh resolusi Dewan Keamanan PBB dalam 20 tahun terakhir yang melarang program senjata nuklir Iran. Mengutip The Wall Street Journal, Trump juga mengancam melanjutkan pemboman terhadap Teheran setelah pemilu paruh waktu AS pada November.
Di tengah perang kata-kata itu, muncul pengungkapan baru dari sisi militer. NBC News, mengutip tiga pejabat AS, melaporkan delapan anggota Korps Marinir AS terluka setelah kapal yang mereka operasikan di Selat Hormuz dihantam rudal jelajah antikapal Iran pada 14 September lalu. Menurut Sindonews, para marinir tidak mengalami luka serius tetapi dilaporkan menghirup asap dan mengalami gejala mirip gegar otak. Tujuh di antaranya personel tamtama dan satu perwira; seluruhnya telah kembali bertugas. Para pejabat menegaskan kapal yang dihantam bukan kapal Angkatan Laut AS, melainkan kapal maritim yang jenisnya dirahasiakan.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) juga mengklaim menyita kendaraan bawah air tak berawak Remus 600 milik AS di Selat Hormuz dan menyerahkannya ke spesialis untuk pemulihan data, menurut Kantor Berita Tasnim. Panglima militer Iran Amir Hatami menegaskan perang belum berakhir dan musuh harus bersiap menerima pukulan berikutnya. Klaim-klaim Iran ini belum diverifikasi independen, dan perlu dibedakan dari fakta terkonfirmasi seperti penolakan resmi AS atas usulan tujuh hari tersebut.
Dampak ekonomi dari kebuntuan ini mulai terasa. Sindonews melaporkan harga minyak dunia kembali meroket setelah Trump menolak mentah-mentah proposal damai Iran. Qatar dikabarkan berperan sebagai mediator dalam pembicaraan di sela-sela Sidang Umum PBB, namun hingga kini belum ada tanggapan resmi dari Washington melalui pihak penengah. Situasi di Selat Hormuz, jalur sekitar seperlima perdagangan minyak dunia, tetap tertutup untuk lalu lintas yang disebut Iran tidak sah.
Sumber
- Menlu Iran: Kami Siap Hadapi Perang Penghabisan AS — Republika
- Dunia Makin Kacau, Iran Siap "Perang Kiamat" dengan AS — CNBC Indonesia
- Rudal Jelajah Iran Hantam Kapal AS, 8 Marinir Terluka — Sindonews
- Harga Minyak Dunia Meroket Lagi usai Trump Tolak Mentah-mentah Proposal Damai Iran — Sindonews