Trump tolak tawaran Iran buka Selat Hormuz, pertimbangkan serangan baru

Trump menolak tawaran Iran membuka Selat Hormuz dalam tujuh hari dan disebut mempertimbangkan serangan baru, sementara Saudi mencegat drone Houthi ke Riyadh.

BeritaFlash AI · · Internasional

Trump tolak tawaran Iran buka Selat Hormuz, pertimbangkan serangan baru
Foto: Kapal perang AS USS Taylor melewati kapal tanker di Selat Hormuz, jalur energi vital dunia yang kini jadi pusat konflik Iran-AS. · U.S. Department of Defense / National Archives at College Park · Public domain

Rangkuman

WASHINGTON — Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak tawaran terbaru Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari, dan justru disebut mempertimbangkan serangan militer baru terhadap Teheran setelah pemilu sela AS pada November mendatang. Penolakan itu dilaporkan Wall Street Journal pada Jumat (25/9), mengutip sejumlah pejabat AS yang tidak disebut namanya, hanya beberapa jam setelah Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memaparkan tawaran tersebut di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB di New York.

Araghchi mengatakan Teheran telah menyampaikan rencana konkret berdurasi tujuh hari kepada Washington melalui Qatar. "Jika syarat-syarat yang diperlukan telah dipenuhi, maka selat tersebut dapat dibuka kembali dan lalu lintas maritim normal dapat dipulihkan dalam waktu tujuh hari," ujar Araghchi, seperti dilansir Detik dari AFP dan Anadolu, Sabtu (26/9). "Kini, pilihan ada di tangan Amerika Serikat. Iran tidak menerima paksaan, ancaman, atau intimidasi, dan Iran tidak akan menyerahkan hak-hak kedaulatannya di bawah tekanan."

Menurut laporan New York Times yang dikutip Detik, tawaran itu mencakup gencatan senjata tujuh hari di seluruh Timur Tengah termasuk Lebanon, pencairan aset Iran yang dibekukan senilai sekitar 12 miliar dolar AS (Rp 214,9 triliun), pencabutan sanksi minyak, dan pengakhiran blokade Angkatan Laut AS di pelabuhan-pelabuhan Iran. Pada hari ketujuh, Iran akan membuka kembali Selat Hormuz. Para pejabat AS menolak mencabut blokade laut dengan alasan tekanan ekonomi akan memaksa Iran menyetujui kesepakatan sesuai syarat Washington. Trump sendiri membalas lewat unggahan Truth Social berupa peta Selat Hormuz yang dilingkari dan diberi label "Selat Trump".

Sikap keras juga ditunjukkan Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Dalam wawancara dengan CBS, Jumat (25/9), ia menolak kemungkinan bertemu Trump sebelum kepercayaan antara kedua negara pulih. "Selama mereka tidak menghentikan tindakan yang mereka paksakan kepada kami setiap hari, sulit bagi kami untuk mempercayai mereka," kata Pezeshkian, seperti dilaporkan Antara. Konflik AS-Iran sendiri telah berlangsung sejak 28 Februari lalu, ketika AS dan Israel menyerang sejumlah sasaran di Iran hingga memicu serangan balasan. Nota kesepahaman penghentian permusuhan yang diteken pertengahan Juni gagal bertahan dan konflik kembali berkobar.

Tekanan Washington meluas ke jalur udara. Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan operasi maskapai Iran di seluruh dunia akan terhenti mulai 23 September sebagai bagian dari sanksi baru. Bandara Internasional Najaf di Irak menangguhkan seluruh penerbangan dari dan ke Iran sejak Jumat (25/9), menyusul langkah Uni Emirat Arab sehari sebelumnya. Teheran membalas lewat penasihat senior pemimpin tertinggi Iran, Mohammad Mokhber, yang memperingatkan di platform X: "Perjalanan udara di kawasan ini tersedia bagi semua pihak atau tidak bagi siapa pun. Jika Iran tidak dapat melakukan perjalanan udara dan menerima layanan bandara, maka tidak ada negara di kawasan ini yang dapat melakukannya juga." Penasihat Mojtaba dari pemimpin tertinggi Iran turut mengecam Perdana Menteri Irak terkait penghentian penerbangan tersebut, menurut Sindonews.

Ketegangan kawasan memuncak pada Sabtu (26/9) dini hari ketika sistem pertahanan udara Arab Saudi mencegat dan menghancurkan dua drone yang diyakini diluncurkan kelompok Houthi dari Yaman ke arah Riyadh. "Sistem pertahanan udara telah mencegat dan menghancurkan dua drone yang diluncurkan oleh milisi teroris Houthi ke arah wilayah Riyadh," kata juru bicara koalisi Saudi, Turki al-Maliki, dalam pernyataan di X, seperti dilansir AFP dan Anadolu. Pada insiden terpisah di hari yang sama, Saudi juga mencegat sebuah rudal balistik Houthi yang menargetkan Khamis Mushait, kota di barat daya Saudi yang menjadi lokasi pangkalan udara utama. Peringatan potensi bahaya sempat dikeluarkan untuk Abha, Khamis Mushait, dan Jazan sebelum dinyatakan berakhir.

Anggota Biro Politik Houthi, Hezam Al-Asad, justru menyebut serangan itu sebagai awal dari eskalasi yang lebih besar. "Terlepas dari kekuatan, cakupan, dan dampak operasi tersebut, angkatan bersenjata kami memandangnya hanya sebagai latihan berskala kecil untuk eskalasi berskala penuh," tegasnya. Konflik Yaman yang sempat mereda usai gencatan senjata kembali berkobar sejak Juli lalu; Houthi kini menguasai seluruh pesisir strategis Yaman yang menghadap Selat Bab al-Mandeb, memperkuat cengkeraman kelompok itu dan sekutunya, Iran, atas dua jalur perairan kunci kawasan Teluk.

Dengan diplomasi di PBB yang menemui jalan buntu, ancaman serangan baru dari Trump, dan meningkatnya serangan drone Houthi ke Saudi, kawasan Teluk kini berada dalam salah satu momen paling genting sejak perang AS-Iran pecah tujuh bulan lalu. Posisi Iran yang menolak menyerah di bawah tekanan dan sikap AS yang mengandalkan sanksi serta blokade membuat prospek pembukaan kembali Selat Hormuz — jalur lewatnya sekitar seperlima pasokan minyak dunia — masih jauh dari kepastian.

Sumber

  1. Trump Tolak Tawaran Iran Soal Selat Hormuz, Pertimbangkan Serangan Baru — Detik
  2. Pezeshkian tolak bertemu Trump sebelum kepercayaan Iran dan AS pulih — Antara
  3. Iran peringatkan larangan maskapai bisa hentikan penerbangan regional — Antara
  4. Arab Saudi Cegat 2 Drone Houthi Terdeteksi Mengudara ke Riyadh — Detik
  5. Arab Saudi Klaim Cegat dan Hancurkan 2 Drone Houthi yang Mengarah ke Riyadh — Kumparan
  6. Penasihat Mojtaba Kecam PM Irak terkait Penghentian Penerbangan Iran — Sindonews

Berita terkait