Iran Tegaskan Selat Hormuz Tetap Ditutup, AS Wanti-wanti Warganya

Ketua Parlemen Iran tegaskan Selat Hormuz tetap ditutup hingga AS penuhi komitmen; AS peringatkan warganya konflik bisa meningkat cepat.

BeritaFlash AI · · Internasional

Iran Tegaskan Selat Hormuz Tetap Ditutup, AS Wanti-wanti Warganya
Foto: Jet tempur F-14D Tomcat AS terbang di atas kapal tanker saat misi keamanan maritim di Teluk Persia. (Foto: U.S. Navy) · U.S. Navy photo by Lt.j.g. Scott Timmester · Public domain

Rangkuman

TEHERAN — Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas setelah Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf menegaskan Selat Hormuz akan tetap ditutup hingga Amerika Serikat memenuhi komitmennya berdasarkan kesepakatan Juni 2026. Di saat yang sama, Washington mengeluarkan peringatan keamanan bagi seluruh warganya di kawasan, menyusul eskalasi serangan antara Arab Saudi dan kelompok Houthi yang didukung Iran.

Berpidato di hadapan parlemen pada Minggu (20/9/2026), Qalibaf mengatakan Iran telah menyampaikan persyaratannya secara tegas kepada pihak lawan melalui para perantara, demikian laporan stasiun penyiaran pemerintah IRIB yang dikutip Antara dari Anadolu. "Pihak lawan sangat menyadari bahwa upaya penipuan dan pemaksaan sepihak telah tertutup. Sampai persyaratan ini dipenuhi, hak-hak sah rakyat Iran diakui, dan komitmen Amerika dipenuhi, tidak akan ada peluang untuk kembali ke kondisi perundingan sebelumnya atau membuka kembali Selat Hormuz," kata Qalibaf.

Selat Hormuz adalah salah satu jalur perairan terpenting di dunia untuk pengiriman minyak dan gas. Iran menutup selat itu setelah AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026, yang memicu balasan Teheran terhadap negara-negara di kawasan yang menjadi lokasi aset militer AS. Washington dan Teheran sempat mencapai kesepakatan pada Juni 2026 yang mencakup penghentian operasi militer dan pengaturan pembukaan kembali Selat Hormuz, namun kesepakatan itu gagal akibat perselisihan mengenai pengaturan pelayaran dan keamanan di jalur strategis tersebut.

Sementara itu, Departemen Luar Negeri AS dan sejumlah kedutaan besarnya mengeluarkan peringatan keamanan bagi warga Amerika di seluruh Timur Tengah. "Konflik militer ini berpotensi meningkat dengan cepat," demikian bunyi peringatan itu, seperti dilaporkan Detik dan Sindonews. Peringatan tersebut mencakup Israel, Lebanon, Yordania, Irak, Arab Saudi, Kuwait, Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Oman. Warga AS di kawasan itu diminta meningkatkan kewaspadaan dan menyadari potensi pembatalan penerbangan, penutupan wilayah udara, dan gangguan perjalanan, sedangkan mereka yang berada di luar kawasan diminta mempertimbangkan kembali rencana perjalanan ke dan melalui Timur Tengah.

Peringatan itu dikeluarkan setelah koalisi pimpinan Arab Saudi menyatakan Houthi menembakkan rudal balistik ke arah Riyadh pada Sabtu fajar, menyusul kebakaran di dekat bandara internasional ibu kota. Koalisi mengonfirmasi rudal itu berhasil dicegat, dan menyebut para pejuang pro-Iran itu juga mencoba menyasar warga sipil dan infrastruktur sipil di beberapa kota, termasuk pelabuhan Yanbu di Laut Merah, pusat ekspor penting minyak Saudi. Juru bicara militer Houthi Yahya Saree dalam pernyataan di Telegram mengklaim pihaknya melancarkan dua operasi militer menggunakan rudal balistik, rudal jelajah, dan drone, menyasar lokasi vital di Riyadh dan fasilitas Aramco di Yanbu. Klaim Houthi ini belum bisa diverifikasi independen; versi koalisi Saudi menyebut serangan-serangan itu digagalkan sistem pertahanan udara.

Di tengah eskalasi itu, Presiden AS Donald Trump dilaporkan mempersingkat libur akhir pekannya di Camp David dan kembali lebih awal ke Gedung Putih. Gedung Putih tidak memberikan penjelasan resmi, dan perubahan jadwal akhir pekan semacam itu bukan hal aneh — prakiraan cuaca menunjukkan hujan dan badai petir di kawasan Camp David. Namun kepulangan mendadak itu terjadi tepat saat ketegangan kawasan meningkat.

Beban perang bagi Washington juga terus bertambah. The Washington Post melaporkan, mengutip sumber-sumber militer, bahwa sedikitnya 22 personel militer AS tewas saat ditugaskan di Timur Tengah sejak perang Iran dimulai — lebih tinggi dari angka resmi Pentagon. Hingga Jumat (18/9/2026), Sistem Analisis Korban Pertahanan Pentagon mencatat 18 kematian. Lima sumber menyebut sedikitnya 22 kematian, sementara sumber keenam menyebut 23. Menurut keterangan itu, tidak semua kematian tambahan berkaitan langsung dengan konflik, dan tiga kontraktor AS di kawasan juga dilaporkan meninggal. Belum jelas apakah selisih angka itu disengaja atau akibat prosedur klasifikasi administratif.

Dari sisi anggaran, Pentagon melaporkan kepada Kongres bahwa biaya perang dengan Iran telah mencapai US$45,1 miliar atau sekitar Rp803 triliun, terdiri dari US$43,6 miliar per 3 September ditambah US$1,5 miliar untuk bahan bakar. Angka itu melampaui proyeksi Kantor Anggaran Kongres sebesar US$38 miliar hingga 1 Agustus, dan belum mencakup biaya perbaikan pangkalan yang rusak. Kantor Anggaran Kongres memperkirakan perang akan terus menelan US$2 miliar hingga US$3 miliar per bulan dan berpotensi mendorong inflasi AS pada kuartal pertama 2027.

Dengan Selat Hormuz yang masih ditutup, serangan lintas negara yang berlanjut, dan kedua belah pihak saling menuntut, prospek de-eskalasi dalam waktu dekat tampak tipis. Pasar energi global kini menanti kepastian jalur pengiriman yang dilalui sekitar sepertiga minyak dunia itu.

Sumber

  1. Iran ancam Selat Hormuz akan ditutup hingga AS penuhi komitmen — Antara
  2. AS Sebut Konflik Timur Tengah Berpotensi Meningkat Cepat — Detik
  3. AS Minta Warganya di Timur Tengah untuk Waspada — Sindonews
  4. WaPo: Setidaknya 22 Tentara AS Tewas di Timur Tengah, Lebih Tinggi dari Data Pentagon — Okezone
  5. Biaya Perang AS di Iran Membengkak! Pentagon Lapor Tembus Rp803,32 T — CNBC Indonesia

Berita terkait