Selat Hormuz: Iran Tunggu Jawaban Resmi AS atas Rencana Tujuh Poin
Iran menunggu jawaban resmi AS lewat mediator Qatar atas rencana tujuh poin pembukaan Selat Hormuz, setelah Donald Trump menolak proposal itu.
Oleh Adi Rahmadi · · Internasional

Rangkuman
- Menlu Iran Abbas Araghchi menyebut rencana tujuh poin pembukaan bertahap Selat Hormuz telah disampaikan ke AS lewat mediator Qatar.
- Donald Trump menolak proposal itu dan mengklaim AS sudah menguasai Selat Hormuz, namun Teheran tetap menunggu jawaban resmi mediator.
- Selat Hormuz yang dilalui sekitar seperlima minyak dan gas dunia praktis tertutup sejak perang pecah Februari 2026.
TEHERAN — Iran menegaskan masih menunggu jawaban resmi Amerika Serikat atas rencana tujuh poin pembukaan kembali Selat Hormuz, meski Presiden Donald Trump secara terbuka telah menolak proposal tersebut. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan pihaknya hanya akan mengambil keputusan setelah mediator menyampaikan sikap definitif Washington.
"Rencana kami, yang dikenal sebagai rencana tujuh poin, telah disampaikan kepada pihak Amerika melalui perantara Qatar," kata Araghchi kepada wartawan di New York, Senin (29/9/2026) waktu setempat, dikutip dari CBS News. "Terlepas dari hal-hal yang disampaikan presiden Amerika dan lainnya, saya katakan kami menunggu jawaban resmi dari Amerika melalui perantara."
Menurut Democracy Now, rencana yang dibahas dengan mediator Qatar itu mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz secara bertahap dalam tujuh hari. Sebagai gantinya, Iran meminta penghentian seluruh permusuhan di Iran dan Lebanon, pencabutan blokade angkatan laut AS terhadap Iran, pencairan aset Iran bernilai miliaran dolar yang dibekukan, dan diakhirinya sanksi terhadap minyak Iran. Associated Press melaporkan, berdasarkan rencana itu langkah-langkah awal akan berjalan empat sampai lima hari dan selat dapat dibuka pada hari keenam.
Trump sebelumnya menolak proposal tersebut. "Saya menolak kesepakatan mereka," kata Trump di Gedung Putih, dilansir BBC. Ia mengklaim AS sudah memiliki "kendali total" atas Selat Hormuz dengan "minyak dalam jumlah besar" tetap melintas, dan menuduh Teheran ingin bersepakat karena "kalah telak". Merespons pernyataan itu, Araghchi menulis di Telegram bahwa Trump "telah membuat banyak pernyataan baik, maupun banyak yang kontradiktif, yang sayangnya kerap kami dengar." Ia menegaskan Teheran akan menunggu "pandangan definitif" para mediator sebelum memutuskan langkah berikutnya.
Selat Hormuz, jalur sempit yang biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia, praktis tertutup sejak perang pecah pada Februari 2026. Iran membalas serangan udara AS dan Israel dengan menyerang Israel, pangkalan AS di Teluk, serta sekutu Arab Washington, dan memblokade selat itu. Data pelayaran yang dikutip Reuters dari firma analitik Kpler menunjukkan rata-rata lintasan hanya sekitar 18 kapal per hari dalam sepuluh hari terakhir, bahkan sempat turun ke sembilan kapal pada hari-hari tertentu. Penutupan itu memicu gejolak harga energi global; Irak bahkan mulai mengimpor bensin lewat pelabuhan Baniyas di Suriah untuk mengakali tertutupnya Hormuz, menurut CBS News.
Di tengah kebuntuan diplomatik, Washington justru memperkeras tekanan ekonomi. Departemen Keuangan AS pada Selasa menjatuhkan sanksi baru terhadap sepuluh individu dan entitas di Iran, Hong Kong, dan Pakistan yang dituduh menjadi fasilitator rantai pasok militer Teheran, sebagai bagian dari kampanye "Operation Economic Outcast". "Treasury tidak akan menoleransi dukungan apa pun kepada rezim," kata Menteri Keuangan AS Scott Bessent.
Nada keras juga datang dari pejabat keamanan Iran. Kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mayjen Mohsen Rezaei menilai Trump buntu. "Kami sudah menyampaikan syarat-syarat kami, tetapi Trump tidak mampu mengambil keputusan. Trump terjebak dalam kubangan: tidak bisa bernegosiasi, tidak bisa pula berperang," kata Rezaei, dikutip CBS News. Perlu dicatat, sebagian besar informasi mengenai isi rencana tujuh poin masih bersumber dari pernyataan pejabat Iran; Gedung Putih, menurut laporan Amwaj Media, meyakini Iran tidak benar-benar mengendalikan Hormuz sehingga tidak berhak menawarkan pembukaannya. Sampai jawaban resmi disampaikan lewat mediator, nasib jalur energi paling strategis di dunia itu masih menggantung.
Sumber
- Trump rejects Iran deal to reopen Strait of Hormuz in seven days — BBC
- Iran War Updates: Tehran says it expects U.S. response to ceasefire proposal already rejected by Trump today — CBS News
- U.S. and Iran Hold Indirect Talks on Deal to End Fighting, Lift Sanctions and Reopen Hormuz — Democracy Now
- Iran proposes deal that could reopen Strait of Hormuz in 7 days — Associated Press