Pezeshkian di PBB: Iran Tak Akan Bertekuk Lutut, Siap Berdialog Tanpa Paksaan
Presiden Iran Masoud Pezeshkian tampilkan foto Khamenei dan anak korban serangan AS di Sidang Umum PBB, menegaskan Iran korban terorisme namun siap berdialog.
BeritaFlash AI · · Internasional

Rangkuman
- Pezeshkian menampilkan foto mendiang Ayatollah Ali Khamenei dan foto anak-anak korban serangan rudal saat pidato di Sidang Umum PBB, Rabu (23/9/2026) waktu New York.
- Delegasi AS meninggalkan ruang sidang saat pidato dimulai; Pezeshkian menyebut Iran korban terorisme dan menolak tudingan teroris dari Trump.
- Iran menegaskan siap berdialog dan bernegosiasi, tetapi menuntut blokade AS di Selat Hormuz diakhiri dan hak program nuklir sipil dihormati.
NEW YORK — Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyampaikan pidato perdananya di Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sejak perang gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Teheran meletus, Rabu (23/9/2026) waktu New York. Di hadapan para pemimpin dunia, ia menegaskan Iran tidak akan pernah bertekuk lutut meski hampir tujuh bulan menghadapi perang, sanksi, dan tekanan militer.
Momen paling menyita perhatian terjadi ketika Pezeshkian mengangkat foto mendiang Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, yang menurutnya dibunuh dalam serangan terhadap kediamannya pada hari pertama perang, 28 Februari lalu. Ia juga menampilkan foto-foto anak sekolah yang tewas. Menurut otoritas Iran, lebih dari 175 warga sipil, dua pertiga di antaranya anak-anak, tewas dalam serangan rudal terhadap sebuah sekolah dasar di Minab dan kompleks olahraga di Lamerd pada hari yang sama. AS membantah menyerang Lamerd dan menyatakan masih menyelidiki peristiwa di Minab.
"Presiden Amerika Serikat menyebut kami teroris. Padahal kamilah yang menjadi korban terorisme," kata Pezeshkian, dilansir dari BBC dan AFP. "Saya berasal dari Iran, tempat pemimpin tertinggi kami yang terhormat dibunuh tanpa dasar hukum atau alasan apa pun. Anda lihat anak-anak ini? Anak-anak ini tewas dalam pengeboman menggunakan senjata yang digunakan Amerika Serikat dan Israel. Mereka tidak bersalah."
Delegasi AS dilaporkan meninggalkan ruang sidang begitu Pezeshkian memulai pidatonya, dan Washington belum memberikan tanggapan resmi. Pezeshkian juga menanggapi ancaman Presiden Donald Trump sehari sebelumnya yang menyebut dirinya menghadapi keputusan besar: bernegosiasi atau "memusnahkan" Iran. Ancaman itu, kata Pezeshkian, adalah tanda mentalitas perundungan. "Perlawanan rakyat Iran justru akan semakin kuat dalam menghadapi sanksi, peningkatan tekanan, dan tindakan perundungan. Kami tidak akan pernah menundukkan kepala atau bertekuk lutut," ujarnya.
Meski bernada menantang, Pezeshkian menegaskan Iran tetap terbuka terhadap solusi diplomatik. "Kami siap untuk berdialog, diplomasi, dan bernegosiasi tanpa menerima bahasa paksaan dan kekerasan," katanya. Namun ia menggarisbawahi syarat utama: kesepakatan apa pun harus mencakup pengakhiran blokade AS yang menghalangi kapal-kapal Iran menggunakan jalur perairan Teluk. "Tidak bisa dibiarkan jika semua pihak mendapat keuntungan dari Selat Hormuz sementara kami justru dilarang mengakses jalur pelayaran di perairan ini," tegasnya.
Soal nuklir, Pezeshkian kembali menegaskan Iran tidak akan melepaskan haknya memiliki program nuklir sipil dan tidak berniat mengembangkan senjata nuklir. "Kami katakan dengan jelas: tidak ada senjata nuklir dan tidak ada pembatasan terhadap teknologi nuklir untuk tujuan damai," ujarnya. Ia juga menuding standar ganda internasional: Israel memiliki senjata pemusnah massal dan tidak tergabung dalam Perjanjian Non-Proliferasi tanpa pernah diinspeksi, sementara Iran justru dihukum sanksi.
Dalam pidatonya, Pezeshkian turut menyoroti Gaza, menyebut lebih dari 80.000 warga sipil tewas dan menyebut Palestina sebagai luka terbuka hati nurani dunia. Ia menegaskan perdamaian abadi di Asia Barat tidak mungkin terwujud tanpa keadilan bagi Palestina.
Konteks perang ini: pada Februari, Iran membalas kampanye udara besar AS-Israel dengan serangan rudal dan drone ke Israel serta negara-negara Teluk Arab yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS. Iran juga secara efektif menutup Selat Hormuz, jalur seperlima pengiriman minyak dan gas dunia, dengan menyerang kapal komersial. AS membalas dengan blokade pelabuhan dan kapal Iran sejak April. Kesepakatan awal Juni untuk mengakhiri perang dan membuka kembali selat itu runtuh dalam hitungan pekan. Pada Selasa, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dan utusan AS Steve Witkoff menggelar pembicaraan tidak langsung yang dimediasi Qatar di sela Sidang Umum PBB, pembicaraan pertama sejak Juni, meski juru bicara Kemenlu Iran Esmail Baqai menyebutnya "bukan hal baru" dan menegaskan Teheran tetap pada syaratnya: akhir blokade dan pelepasan aset Iran yang dibekukan.
Di hari yang sama dengan pidato itu, sebuah serangan terhadap kapal kargo di Selat Hormuz menewaskan seorang pelaut India, menurut otoritas Oman dan India yang dikutip AFP. Kementerian Luar Negeri India mengutuk serangan tersebut dan menyerukan pemulihan lintasan bebas hambatan di selat itu.
Sumber
- Sidang PBB, Presiden Iran Tampilkan Foto Anak Sekolah Korban Serangan AS — Detik
- Presiden Iran Pidato di PBB: Lawan Trump-Sebut Standar Ganda Nuklir — CNBC Indonesia
- Presiden Pezeshkian di PBB: Iran Korban Terorisme AS, Khamenei Dibunuh, Anak-anak Dibom! — Sindonews
- Iran's president tells Trump it will never 'bend the knee' — BBC