Serangan Iran Ditunda hingga Pemilu AS, Pentagon Siapkan Opsi Tempur 3 Hari
Trump memastikan AS tidak menyerang Iran sebelum pemilu paruh waktu 3 November, di tengah laporan Pentagon menyiapkan rencana serangan intensif tiga hari.
Oleh Adi Rahmadi · · Internasional

Rangkuman
- Trump janji tidak menyerang Iran sebelum pemilu paruh waktu AS 3 November 2026
- New York Times: Pentagon susun rencana serangan 3 hari, target markas IRGC dan fasilitas energi
- Iran tegaskan tak akan menghentikan pengayaan uranium; Putin temui Pezeshkian tawarkan bantuan
JAKARTA — Presiden Amerika Serikat Donald Trump memastikan negaranya tidak akan menyerang Iran sebelum pemilihan paruh waktu 3 November 2026, meski pada saat bersamaan Pentagon dilaporkan telah menyusun rencana serangan intensif tiga hari terhadap Teheran. Pernyataan Trump meredakan kekhawatiran eskalasi dalam waktu dekat, tetapi laporan persiapan militer menunjukkan opsi perang tetap terbuka lebar.
"Kami tidak akan menyerang Iran kapan pun sebelum pemilihan paruh waktu," tulis Trump di Truth Social, Kamis (8/10/2026), dikutip CNBC Indonesia. Ia mengklaim Washington sedang menggelar "diskusi produktif" dengan Teheran. Pernyataan itu berbalik arah dari ucapannya sehari sebelumnya, ketika ia mengatakan pemerintahannya sedang mempertimbangkan untuk kembali menyerang Iran sebelum pemilu — pernyataan yang sempat mendorong harga minyak mentah Brent melonjak lebih dari 4 persen hingga menembus 104 dolar AS per barel pada perdagangan Kamis.
Di balik pernyataan publik itu, The New York Times melaporkan Pentagon telah merancang rencana kampanye serangan intensif selama tiga hari. Sasarannya antara lain kemampuan rudal dan drone Iran, fasilitas energi, hingga markas Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Rencana tersebut belum disetujui, dan cakupan maupun waktu pelaksanaannya belum pasti. Laporan terpisah dari Axios menyebut Komando Pusat AS (CENTCOM) telah diperintahkan bersiap untuk kemungkinan operasi, dengan lokasi-lokasi terkait nuklir masuk dalam daftar target potensial.
Menurut laporan yang sama, Trump telah menolak lima usulan operasi besar terhadap Iran atau kelompok Houthi dalam beberapa bulan terakhir. Sebagian penasihatnya meragukan serangan tambahan akan mengubah sikap Teheran, sementara pihak lain menilai kampanye singkat nan intensif bisa semakin menekan ekonomi Iran yang sudah melemah. Meski menunda serangan, AS justru memperkuat kehadiran militer: Associated Press melaporkan sekitar 9.000 pelaut dan marinir serta kapal induk ketiga dikirim ke kawasan, sehingga AS berpotensi mengoperasikan tiga kapal induk di Timur Tengah pada akhir Oktober — untuk pertama kalinya sejak 2003.
Perhitungan politik domestik terlihat jelas. Survei Reuters/Ipsos pada Agustus menunjukkan hanya 31 persen warga AS mendukung aksi militer terhadap Iran, turun dari 37 persen pada Maret, dan 83 persen responden memperkirakan konflik akan berlangsung lama. Harga bensin rata-rata nasional menyentuh 4,36 dolar AS per galon menurut data AAA, naik sekitar 40 persen dibanding setahun lalu, dan isu biaya hidup menjadi kekhawatiran utama pemilih. Reuters melaporkan sejumlah orang dekat Trump mendorong agar konflik tidak meluas hingga pemilu demi menyelamatkan peluang Partai Republik mempertahankan Kongres, sambil membuka opsi serangan lebih besar setelah penghitungan suara.
Dari sisi diplomasi, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan Teheran telah menerima respons Washington atas proposal tujuh hari Iran — yang antara lain bertujuan menciptakan kondisi untuk membuka kembali Selat Hormuz — dan sedang meninjaunya. Iran menegaskan tidak akan membuka selat itu sebelum syarat-syaratnya dipenuhi. Data Kpler mencatat sekitar 11,3 juta barel minyak mentah dan produk minyak keluar melalui Selat Hormuz setiap hari dalam sepekan terakhir.
Teheran juga tak menunjukkan sikap lunak soal nuklir. Kepala Organisasi Energi Atom Iran, Mohammed Eslami, menegaskan negaranya tidak akan menghentikan pengayaan uranium. "Pengayaan adalah bagian integral dari proses nuklir, dan kami tidak akan meninggalkannya dengan cara apa pun," ujarnya, Kamis, dikutip Republika dari Al Arabiya. Iran diketahui memperkaya uranium hingga 60 persen sejak keluar dari komitmen JCPOA, menyusul penarikan AS dari kesepakatan nuklir 2015 pada era Trump pertama.
Di tengah kebuntuan itu, Presiden Rusia Vladimir Putin bertemu Presiden Iran Masoud Pezeshkian di sela KTT Persemakmuran Negara-Negara Merdeka di resor Avaza, Laut Kaspia, Turkmenistan. "Kami siap melakukan segala daya kami untuk berkontribusi dalam penyelesaian situasi ini," kata Putin, dilansir Detik dari AFP, seraya menilai Iran telah melakukan "upaya nyata untuk mengakhiri perang". Pezeshkian sendiri pekan ini menyebut negosiasi dengan Washington "tidak ada artinya".
Sumber
- Trump Tiba-Tiba Janji Tak Serang Iran, tapi... — CNBC Indonesia
- Militer AS Susun Rencana Serangan Intensif 3 Hari terhadap Iran, Ini Targetnya — Sindonews
- Iran Tegaskan tak akan Turuti Tuntutan AS Setop Pengayaan Uranium — Republika
- Putin Bertemu Presiden Iran, Siap Bantu Segala Daya untuk Akhiri Perang — Detik
- Pentagon draws up intense three-day Iran strike plan: NYT — Roya News