Iran Tutup Selat Hormuz sampai AS Penuhi Syarat, Trump Ancam Serang
Iran menegaskan Selat Hormuz tetap ditutup sampai AS memenuhi tujuh syarat kesepahaman; Trump mengancam menyerang dan mengerahkan rudal Patriot ke Teluk.
Oleh Adi Rahmadi · · Internasional

Rangkuman
- Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf menyatakan periode tarik-ulur oleh AS telah berakhir; Selat Hormuz tetap ditutup sampai tujuh syarat dalam Nota Kesepahaman Islamabad dipenuhi.
- Menlu Iran Abbas Araghchi mengklaim Selat Hormuz bisa dibuka dalam tujuh hari jika rencana penyelesaian Teheran diterima, dan memastikan Iran lebih siap dari sebelumnya bila AS memilih jalur militer.
- AS mengerahkan dua baterai rudal Patriot tambahan ke Arab Saudi dan Qatar untuk melindungi fasilitas minyak-gas, di tengah ancaman Trump menghidupkan kembali serangan terhadap Iran.
TEHERAN — Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat memasuki babak baru. Teheran menegaskan akan terus menutup rapat Selat Hormuz — jalur pelayaran yang dilalui sekitar seperlima minyak dunia — sampai Washington memenuhi tujuh syarat yang tertuang dalam Nota Kesepahaman Islamabad.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf mengatakan, AS memang baru mengajukan balasan proposal diplomatik melalui seorang mediator, tetapi sikap Washington dinilai masih berkubang dalam taktik mengulur waktu. "Pihak Amerika, yang mengatakan hal berbeda di media, perlu tahu bahwa periode mengulur-ulur proses dan mendikte tuntutan sepihak telah berakhir," kata Qalibaf, dikutip CNBC Indonesia dari Arab News, Minggu (4/10).
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menambahkan, rencana penyelesaian yang diajukan Teheran — jika diterima — dapat membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari. Sejumlah laporan media AS yang mengutip pejabat anonim menyebut proposal itu mencakup pencabutan blokade laut terhadap pelabuhan Iran, pelonggaran sanksi termasuk ekspor minyak, serta pencairan aset Iran yang dibekukan. Sebelumnya, Trump dilaporkan menolak proposal gencatan tujuh hari yang disertai pembukaan kembali selat itu.
Araghchi juga mengirim sinyal militer yang gamblang. Ia mengatakan Iran berharap AS memilih diplomasi, tetapi Teheran siap menghadapi skenario terburuk. "Jika mereka kembali pada solusi militer, kami lebih siap dari sebelumnya dan akan mengambil tindakan apapun untuk membela diri," ucapnya. Klaim kesiapan militer ini belum bisa diverifikasi secara independen.
Di sisi lain, Washington memperkuat payung pertahanan sekutunya di Teluk. Laporan Axios yang dikutip Sindonews menyebut AS mengirim dua baterai rudal Patriot tambahan dalam beberapa pekan terakhir — satu ke Arab Saudi untuk melindungi fasilitas minyak utama, satu lagi ke Qatar untuk menjaga fasilitas gas alam. Pengerahan itu disertai jaminan perlindungan bagi Riyadh dan Doha jika Presiden Donald Trump kembali melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran.
Menurut laporan yang sama, Washington membutuhkan akses ke wilayah udara Arab Saudi untuk skenario serangan baru, tetapi Riyadh kemungkinan tidak akan memberikan akses itu tanpa jaminan infrastruktur energinya terlindungi. Juru bicara Komando Pusat AS (CENTCOM) Kapten Tim Hawkins menolak berkomentar atas laporan tersebut.
Penutupan Selat Hormuz oleh Iran sebelumnya memicu lonjakan harga minyak dan gangguan rantai pasok global. Sejumlah negara, termasuk Indonesia, memantau dampaknya terhadap impor energi dan harga BBM dalam negeri. Selat selebar sekitar 33 kilometer pada titik tersempitnya itu merupakan satu-satunya jalur laut bagi ekspor minyak dari Arab Saudi, Irak, Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab.
Hingga Minggu malam, belum ada tanda-tanda kedua pihak melunak. Trump sebelumnya mengancam akan "menghancurkan Iran" jika Teheran tidak memenuhi tuntutannya, sementara parlemen dan diplomat Iran sama-sama menegaskan bola ada di tangan Washington.
Sumber
- Iran Tegas Tutup Selat Hormuz sampai AS Penuhi Syarat — CNBC Indonesia
- Trump Ancam Serang Iran Lagi, AS Kerahkan Rudal Patriot ke Arab Saudi dan Qatar — Sindonews