Iran Terima Jawaban Resmi AS soal Gencatan Senjata Selat Hormuz

Teheran mengaku menerima jawaban resmi AS atas usulan gencatan tujuh hari dan pembukaan bertahap Selat Hormuz, diserahkan ke Presiden Pezeshkian, Rabu (30/9).

Oleh · · Internasional

Iran Terima Jawaban Resmi AS soal Gencatan Senjata Selat Hormuz

Rangkuman

TEHERAN — Pemerintah Iran mengumumkan telah menerima jawaban resmi dari Amerika Serikat atas usulan gencatan senjata tujuh hari yang diajukan Teheran, Rabu (30/9) waktu setempat. Pengumuman itu disampaikan juru bicara pemerintah Fatemeh Mohajerani kepada kantor berita resmi IRNA, beberapa hari setelah Presiden Donald Trump secara terbuka menolak usulan tersebut.

Menurut Mohajerani, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menyerahkan proposal dari pihak Amerika itu langsung kepada Presiden Masoud Pezeshkian dalam rapat kabinet. Seorang pejabat Iran yang dikutip Reuters menyebut perdebatan kedua pihak saat ini berpusat pada urutan tahapan dalam rencana gencatan senjata tujuh hari yang disertai pembukaan bertahap Selat Hormuz. Araghchi dijadwalkan membahasnya lebih lanjut di Teheran. Belum ada perincian resmi mengenai isi jawaban Washington, dan kantor berita AS belum mengonfirmasi secara terpisah apakah dokumen itu merupakan penerimaan, penolakan, atau usulan balik.

Usulan Iran sendiri, yang diajukan pekan lalu, menawarkan gencatan senjata tujuh hari untuk membangun kepercayaan, disertai pembukaan kembali Selat Hormuz secara bertahap, dengan syarat AS memenuhi sejumlah butir dalam nota kesepahaman pertengahan Juni yang runtuh beberapa pekan kemudian. Trump menolaknya di muka umum, tetapi di sisi lain mengakui sedang mempertimbangkan dua opsi. "Kita harus mengambil keputusan: kita hancurkan mereka atau membuat kesepakatan. Tapi waktunya sudah dekat. Ini akan segera berakhir, dengan satu cara atau cara lain," kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih, Rabu, dikutip CBS News.

Di lapangan, perang yang meletus sejak serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu itu justru terus meluas. Badan maritim Angkatan Laut Inggris, UKMTO, melaporkan tiga kapal — satu tanker minyak mentah dan dua kapal lain — terkena proyektil tak dikenal di Selat Hormuz pada Selasa (29/9). Sebelum perang, sekitar seperlima minyak dan LNG dunia melintasi selat itu. Data perusahaan analitik Kpler menunjukkan ekspor minyak dari Teluk kini kembali mendekati level sebelum perang, rata-rata 21,8 juta barel per hari dibandingkan 23,3 juta barel per hari, berkat rute alternatif lewat Laut Merah, Terusan Suez, pipa ke Fujairah, serta jalur malam yang dikawal AS.

Eskalasi juga terasa di negara-negara sekitar. Militer AS resmi menuntaskan penarikan seluruh pasukannya dari Irak pada Rabu, mengakhiri misi 12 tahun melawan ISIS — disambut perayaan oleh milisi pro-Iran seperti Kataib Hezbollah, yang sekaligus menolak melucuti senjata dan mengancam menggulingkan pemerintah federal Irak jika merugikan kepentingan Teheran. Bahrain bergabung dengan gugus tugas drone multinasional pimpinan AS, Falcon Strike. Pakistan menyatakan akan membela Arab Saudi dengan "segala cara yang tersedia" dari serangan Houthi. Presiden Mesir Abdel-Fattah el-Sissi mengungkapkan pendapatan Terusan Suez negaranya susut 20 miliar dolar AS sejak perang Gaza 2023 dan gangguan pelayaran yang menyusul.

Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian memilih nada diplomatis. Dalam pesan peringatan Hari Maritim Sedunia yang disiarkan IRNA, ia menegaskan keamanan abadi Teluk Persia dan Selat Hormuz menjadi tanggung jawab negara-negara kawasan, dan menyebut pendekatan Iran terhadap selat strategis itu sebagai pendekatan yang bertanggung jawab. Di sisi lain, petinggi Dewan Keamanan Nasional Iran, Mayjen Mohsen Rezaei, mengejek Trump dengan menyebutnya "terjebak dalam kubangan" dan tak mampu mengambil keputusan antara perang dan perundingan.

Tekanan dalam negeri Iran juga memanas. Lembaga pemantau HAM melaporkan eksekusi terhadap dua pria terkait protes anti-rezim Januari lalu, dan seorang perempuan bernama Mahboubeh Shahbani (33) yang divonis mati mengirim pesan audio dari penjara Vakilabad, Mashhad, memohon masyarakat internasional bertindak. Amnesty International mencatat penggunaan hukuman mati di Iran lebih dari dua kali lipat pada 2025. Apakah jawaban resmi AS kali ini membuka jalan menuju gencatan senjata, atau justru menjadi babak baru eskalasi, akan ditentukan oleh keputusan Trump dalam hitungan hari ke depan.

Sumber

  1. Live Updates: Iran says it has received U.S. counterproposal to 7-day ceasefire plan rejected by Trump — CBS News
  2. Iran Update, September 29, 2026 — Institute for the Study of War
  3. Iran Bantah Pembicaraan dengan AS Dibatalkan, Tolak Gencatan Senjata Sementara Fokus Selat Hormuz — Tribunnews

Berita terkait