Pemilu Sela AS 2026: Demokrat Ambil Alih DPR dan Senat dari Republik
Partai Demokrat menang telak di pemilu sela AS 2026, rebut kendali penuh DPR dan Senat dari Republik. Trump akui perang Iran jadi penyebab kekalahan.
Oleh Adi Rahmadi · · Internasional

Rangkuman
- Partai Demokrat berhasil merebut kendali penuh DPR dan Senat AS dalam pemilu sela 3 November 2026, dengan proyeksi 220–224 kursi DPR dan 53–54 kursi Senat.
- Gelombang biru (blue wave) melanda tujuh negara bagian basis Republik: North Carolina, South Carolina, Texas, Ohio, Iowa, Kansas, dan Maine.
- Trump mengakui perang Iran yang berlarut-larut turut menjadi penyebab kekalahan Partai Republik, sementara Iran menyambut hasilnya sebagai sinyal "No to War".
WASHINGTON DC — Partai Demokrat meraih kemenangan telak dalam pemilu sela Amerika Serikat yang digelar Selasa (3/11) waktu setempat, berhasil merebut kendali penuh atas Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Senat sekaligus dari Partai Republik yang dikuasai selama dua tahun terakhir. Hasil ini merupakan pukulan besar bagi Presiden Donald Trump di sisa masa jabatannya hingga Januari 2029.
Berdasarkan proyeksi media-media terkemuka AS, seperti dilansir AFP, Rabu (4/11/2026), CNN memproyeksikan Partai Demokrat mengamankan 224 kursi DPR melawan 127 kursi Republik dari total 435 kursi yang diperebutkan — jauh di atas ambang mayoritas 218 kursi. Proyeksi CNBC menunjukkan hasil serupa: 220 kursi untuk Demokrat. Untuk Senat, proyeksi CNN dan CNBC sama-sama menempatkan Demokrat menguasai 53 kursi melawan 41 kursi Republik. The Guardian bahkan mencatat Demokrat mencapai 54 kursi Senat.
Setidaknya tujuh kursi Senat yang sebelumnya dikuasai Partai Republik direbut Demokrat di North Carolina, South Carolina, Texas, Ohio, Iowa, Kansas, dan Maine. Di North Carolina, mantan Gubernur Roy Cooper mengalahkan Michael Whatley, mantan Ketua Komite Nasional Partai Republik pilihan langsung Trump. Di South Carolina — negara bagian konservatif yang belum pernah memilih Senator Demokrat sejak 1998 — dokter anak Annie Andrews menumbangkan kandidat yang didukung Trump, Darline Graham. Di Kansas, pendeta Metodis Adam Hamilton mengalahkan petahana Roger Marshall, menjadikannya Senator Demokrat pertama dari Kansas sejak 1932.
Kejutan terbesar datang dari Texas. Kandidat Demokrat James Talarico menumbangkan Jaksa Agung Texas Ken Paxton, sekutu dekat Trump, dalam perebutan kursi Senat. Di pemilihan gubernur, Demokrat Gina Hinojosa mengalahkan petahana Republik Greg Abbott, mengakhiri dominasi puluhan tahun Partai Republik atas jabatan tertinggi di negara bagian itu.
Hasil pemilu sela ini mencerminkan kemarahan publik atas melonjaknya biaya hidup, kebijakan tarif, dan terutama perang melawan Iran yang memicu lonjakan harga bahan bakar. Trump sendiri mengakui faktor Iran dalam kekalahan partainya. "Saya pikir salah satu penyebabnya adalah Iran," kata Trump dalam wawancara dengan Fox News, dikutip Reuters. Namun Trump tetap bersikukuh dengan keputusannya menyerang Iran: "Saya telah melakukan hal yang benar. Saya akan tetap melakukannya lagi," katanya kepada Wall Street Journal.
Dalam tanggapannya, Trump mengucapkan selamat kepada Partai Demokrat — pujian langka dari presiden yang dikenal kontroversial ini. Meski demikian, ia mengindikasikan akan tetap bersikap keras menghadapi Kongres yang dikuasai lawan politiknya.
Kemenangan Demokrat ini juga mencetak sejarah lain: Abdul El-Sayed, dokter dan mantan pejabat kesehatan masyarakat dari Michigan, menjadi Muslim pertama yang terpilih menjadi anggota Senat AS. El-Sayed mengalahkan mantan anggota DPR Republik Mike Rogers dalam perebutan kursi yang ditinggalkan Senator Gary Peters yang pensiun. Dalam pidatonya yang emosional, El-Sayed menyinggung Trump dan Wakil Presiden JD Vance: "Ada ironi yang menarik di sini, mengingat Anda secara konstitusional berkewajiban untuk melantik saya pada bulan Januari nanti," ujarnya, merujuk proses pengambilan sumpah senator baru.
Di Teheran, hasil pemilu sela disambut dengan kepuasan. Ketua parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menilai hasil itu menunjukkan rakyat Amerika menolak perang. "Rakyat Amerika mengatakan NO TO WAR, dan kami mendukung pesan ini," kata Ghalibaf dalam unggahannya di media sosial X.
Dengan Kongres di tangan Demokrat mulai Januari 2027, sisa masa jabatan Trump hingga 2029 diprediksi akan berjalan berat. Setiap legislasi dan agenda presiden dapat ditolak, dan Demokrat akan memiliki wewenang untuk menyelidiki dugaan penyalahgunaan kekuasaan selama dua tahun terakhir masa jabatan Trump.
Sumber
- Menang Telak di Pemilu Sela AS, Demokrat Ambil Alih DPR-Senat dari Republik — Detik
- Trump Akui Perang Iran Berperan dalam Kekalahan Republik di Pemilu Sela AS — Detik
- Abdul El-Sayed Jadi Muslim Pertama Terpilih Masuk Senat AS — Detik
- Hasil Pemilu AS: Demokrat Kuasai DPR dan Senat, Trump Dibuat Lumpuh? — CNBC Indonesia
- Iran Komentari Hasil Pemilu Sela AS: Rakyat Amerika Pilih NO TO WAR! — Detik
Topik
Berita terkait
- Pezeshkian di PBB: Iran Tak Akan Bertekuk Lutut, Siap Berdialog Tanpa Paksaan
- Trump tolak tawaran Iran buka Selat Hormuz, pertimbangkan serangan baru
- Selat Trump: Trump Tolak Proposal Gencatan Iran, Ejek Hormuz di Medsos
- Iran Tegaskan Hanya Negosiasi Bisa Akhiri Konflik dengan AS
- Selat Hormuz: Iran Tunggu Jawaban Resmi AS atas Rencana Tujuh Poin