Ketegangan Iran: Houthi Tembakkan 6 Rudal ke Saudi, AS Kerahkan 12 F-16

Houthi Yaman menembakkan enam rudal balistik ke Arab Saudi dan AS memindahkan 12 jet tempur F-16 ke dekat Iran di tengah diplomasi PBB.

BeritaFlash AI · · Internasional

Ketegangan Iran: Houthi Tembakkan 6 Rudal ke Saudi, AS Kerahkan 12 F-16
Foto: Jet tempur F-16, ilustrasi pengerahan kekuatan udara AS di dekat Iran · Indonesian National Armed Forces Public Relations and Media Service · Public domain

Rangkuman

JAKARTA — Ketegangan di Timur Tengah kembali memuncak pada Kamis (24/9/2026) waktu setempat. Kelompok Houthi Yaman menembakkan sedikitnya enam rudal balistik ke arah kota-kota di Arab Saudi, sementara Amerika Serikat dilaporkan meningkatkan aktivitas militernya di dekat wilayah Iran di Selat Hormuz, termasuk memindahkan 12 jet tempur F-16 dari Jerman ke kawasan tersebut.

Juru bicara Koalisi untuk Memulihkan Legitimasi di Yaman, Mayor Jenderal Turki al-Malki, mengatakan kepada Saudi Press Agency (SPA) bahwa rudal-rudal Houthi dihancurkan saat mengarah ke kota Taif dan pelabuhan Yanbu, dua posisi strategis di Kerajaan Arab Saudi. "Sistem pertahanan udara Arab Saudi mencegat sebagian rudal yang mencoba menyasar kota-kota tersebut," kata al-Malki, Jumat (25/9/2026), dikutip dari Sindonews. Beberapa jam setelahnya, Houthi mengakui meluncurkan serangan rudal dan drone terhadap apa yang mereka sebut sebagai "target sensitif" di ibu kota Riyadh serta fasilitas Saudi Aramco di Yanbu. Kantor berita Reuters melaporkan sistem pertahanan udara yang dioperasikan personel militer Yunani di Arab Saudi juga berhasil mencegat sebuah rudal balistik dan drone di wilayah Yanbu, kawasan yang menjadi lokasi fasilitas penyulingan minyak utama.

Perlu dicatat, klaim Houthi soal sasaran di Riyadh dan Aramco belum bisa diverifikasi secara independen, sedangkan versi koalisi Saudi menyatakan seluruh serangan berhasil digagalkan tanpa laporan korban. Perbedaan keterangan semacam ini lazim terjadi dalam konflik Yaman dan perlu dibaca dengan hati-hati.

Di sisi lain Selat Hormuz, kantor berita Rusia RIA Novosti melaporkan pada Jumat (25/9/2026) bahwa Amerika Serikat meningkatkan aktivitas militernya di sekitar pulau-pulau milik Iran. Sumber-sumber yang mengetahui perkembangan tersebut mengatakan pesawat mata-mata AS terpantau pada malam hari di dekat Pulau Qeshm dan Hengam, sementara pesawat dan drone kecil terlihat terbang di atas Provinsi Kermanshah di Iran bagian barat. Washington juga disebut telah memindahkan 12 jet tempur F-16 dari Pangkalan Udara Spangdahlem di Jerman ke kawasan tersebut — pergerakan yang dinilai sejumlah pengamat sebagai sinyal kemungkinan eskalasi baru.

Laporan itu muncul ketika lalu lintas kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz meningkat tajam. Layanan pelacakan kapal TankerTrackers menyebut arus minyak mentah yang melintasi garis blokade Angkatan Laut AS meningkat dua kali lipat dalam waktu kurang dari sebulan menjadi sekitar 13 juta barel per hari. Setelah mengecualikan ekspor dari Fujairah (UEA) dan Mina al-Fahal (Oman), volume sebenarnya yang melewati Selat Hormuz diperkirakan sekitar 10,35 juta barel per hari. Selat Hormuz, salah satu jalur energi paling penting di dunia, menjadi titik konflik utama sejak pecahnya perang AS-Israel melawan Iran pada Februari lalu.

Di tengah eskalasi militer, diplomasi berjalan sengit di sela Sidang Umum PBB di New York. Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam menyampaikan pesan tegas kepada Presiden Iran Masoud Pezeshkian saat keduanya bertemu pada Kamis (24/9/2026). "Lebanon telah membayar harga yang mahal dalam hal keamanan, stabilitas dan ekonomi, dan tidak ingin menjadi arena konflik regional atau tempat pertukaran pesan antara pihak lain," kata Salam, dilansir AFP lewat Detik. Ia menyerukan hubungan kedua negara dibangun berdasarkan prinsip saling menghormati kedaulatan, sekaligus meminta Israel menarik seluruh pasukannya dari wilayah Lebanon dan menegaskan senjata harus berada di bawah kendali negara — pernyataan yang merujuk pada persenjataan Hezbollah yang didukung Iran.

Dari Gedung Putih, Presiden China Xi Jinping dalam pembicaraannya dengan Presiden AS Donald Trump pada Kamis (24/9) menyatakan harapannya agar AS dan Iran kembali ke jalur penyelesaian isu melalui dialog dan negosiasi sesegera mungkin. Menurut Antara yang mengutip Xinhua, Xi menyebut China mendukung kedua negara kembali ke Nota Kesepahaman (MoU) Islamabad dan berharap tercapai kesepakatan komprehensif yang mencakup isu nuklir serta berbagai persoalan lainnya.

Perkembangan 24 jam terakhir menunjukkan konflik kawasan bergerak di dua jalur sekaligus: militer yang terus memanas di Selat Hormuz dan Laut Merah, serta diplomasi intensif di New York dan Washington. Bagi Indonesia, eskalasi di Selat Hormuz tetap menjadi perhatian serius karena jalur itu menentukan pasokan dan harga minyak dunia yang berdampak langsung ke ekonomi dalam negeri.

Sumber

  1. 6 Rudal Balistik Houthi Serang Arab Saudi tapi Ditembak Jatuh — Sindonews
  2. AS Tingkatkan Aktivitas Militer di Dekat Iran, Kerahkan Pesawat Mata-mata hingga 12 Jet Tempur F-16 — Sindonews
  3. PM Lebanon Desak Iran Tak Jadikan Negaranya Arena Konflik Regional — Detik
  4. Presiden Tiongkok Desak AS-Iran Kembali ke Jalur Perundingan — Antara

Berita terkait