Presiden Iran Ancam Balas Tegas jika AS Lanjutkan Serangan

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan Teheran akan membalas keras jika AS melanjutkan serangan, di tengah kolapsnya nota kesepahaman pengakhiran perang.

BeritaFlash AI · · Internasional

Presiden Iran Ancam Balas Tegas jika AS Lanjutkan Serangan
Foto: Patrick Gruban , cropped and downsampled by Pine · CC BY-SA 2.0

Rangkuman

NEW YORK — Presiden Iran Masoud Pezeshkian memperingatkan Amerika Serikat bahwa Teheran akan membalas dengan keras jika Washington melanjutkan serangan, di tengah kolapsnya nota kesepahaman pengakhiran perang dan upaya diplomatik yang macet di sela Sidang Majelis Umum PBB pekan ini.

"Kami tidak pernah memulai perang, namun jika mereka ingin terus berperang melawan kami, kami akan merespons dengan keras dan secara tegas," kata Pezeshkian dalam wawancara dengan Bret Baier dari Fox News, seperti dilansir Press TV, Sabtu (26/9/2026). "Kami tidak memilih perang. Perang itu dipaksakan kepada kami. Kami tidak menginginkan perang. Sebaliknya, setiap kali mereka menyerang kami, kami terpaksa membela diri."

Pezeshkian menolak tekanan yang menurutnya bertujuan memaksa Iran menyerah di luar kerangka hukum internasional. Ia menegaskan posisi Teheran dalam negosiasi tidak langsung antara Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi dan Utusan Khusus AS untuk Timur Tengah Steve Witkoff di New York tetap berlandaskan hukum internasional, dan Iran bersedia menindaklanjuti nota kesepahaman (MoU) yang diteken Juni lalu. Namun ia mengakui hambatan terbesar adalah ketidakpercayaan mendalam setelah Presiden Donald Trump menarik AS keluar secara sepihak dari kesepakatan nuklir 2015. "Presiden Anda mengoyak kesepakatan itu," ujarnya. "Jika kita tidak bisa saling percaya dalam kerangka dialog, bagaimana kita bisa berharap masalah-masalah ini akan pernah bisa diselesaikan?"

Dalam wawancara terpisah dengan Al Jazeera, Pezeshkian menuduh Israel dan AS mengadu domba negara-negara Muslim satu sama lain demi menguasai kekayaan kawasan, dan menyebut Iran diserang dari wilayah udara negara-negara Muslim. Ia mengklaim Iran justru menyaksikan persatuan dan kekompakan yang belum pernah terjadi sebelumnya, serta menawarkan bantuan Teheran untuk mendamaikan Houthi Yaman dan Arab Saudi melalui dialog.

Perang yang berkecamuk sejak akhir Februari itu diawali serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran. MoU Juni untuk mengakhiri perang secara permanen kolaps setelah kedua pihak saling menuduh melanggar, dan pertempuran kembali berkobar dengan perebutan kendali atas Selat Hormuz memperumit diplomasi.

Di Washington, tekanan politik terhadap perang ini juga memanas. Senat AS pada Kamis (24/9) kembali menolak — dengan selisih tipis 50 berbanding 49 — resolusi yang menuntut Trump mengakhiri perang melawan Iran atau meminta izin Kongres untuk melanjutkannya. Hanya empat senator Republikan, yakni Susan Collins, Rand Paul, Thom Tillis, dan Lisa Murkowski, mendukung resolusi itu, sementara satu senator Demokrat, John Fetterman, menolaknya. Ini adalah voting ke-14 di Senat tahun ini soal wewenang perang terkait Iran; hanya dua yang pernah lolos, dan satu-satunya resolusi yang disetujui kedua kamar Kongres tetap diabaikan Gedung Putih.

Voting itu digelar dua hari setelah Trump mengancam akan memusnahkan Iran dalam pidatonya di Majelis Umum PBB. Partai Demokrat menilai voting ini cara memaksa Republikan menyatakan sikap resmi menjelang pemilu sela 3 November, ketika jajak pendapat Reuters/Ipsos menunjukkan hanya 34 persen responden menyetujui serangan AS terhadap Iran, sementara harga pangan dan bahan bakar di dalam negeri AS naik akibat konflik.

Sumber

  1. Presiden Iran Ingatkan Respons Tegas Jika AS Lanjutkan Serangan — Detik
  2. Presiden Iran: Israel dan AS Adu Domba Negara-negara Muslim — Sindonews
  3. Lagi-lagi, Senat AS Tolak Batasi Wewenang Perang Trump terkait Iran — Detik

Berita terkait