Kapal Tanker Diserang di Selat Hormuz, AS Kirim 9.000 Pasukan
Kapal tanker terbakar diserang proyektil tak dikenal di Selat Hormuz di tengah pengerahan 9.000 personel AS dan ancaman baru Trump ke Iran.
Oleh Adi Rahmadi · · Internasional

Rangkuman
- UKMTO melaporkan sebuah kapal tanker terkena proyektil tak dikenal dan terbakar saat melintasi Selat Hormuz, Kamis (1/10/2026); seluruh awak dilaporkan selamat.
- Militer AS mengirim sekitar 7.000 pelaut dan 2.000 marinir beserta kapal induk ketiga ke Timur Tengah saat Trump memperingatkan serangan baru terhadap Iran.
- Harga minyak Brent naik ke USD102,60 per barel; laporan WSJ menyebut AS menyiapkan hingga 10.000 prajurit tambahan dan potensi serangan susulan ke Iran usai pemilu paruh waktu.
JAKARTA — Ketegangan di Selat Hormuz kembali memuncak. Sebuah kapal tanker diserang proyektil tak dikenal saat melintasi jalur pelayaran strategis itu pada Kamis (1/10/2026) waktu setempat, memicu kebakaran di kapal tersebut. Serangan ini terjadi bersamaan dengan pengerahan besar-besaran kekuatan militer Amerika Serikat ke Timur Tengah dan ancaman baru Presiden Donald Trump terhadap Iran.
United Kingdom Maritime Trade Operations Centre (UKMTO) — badan maritim Inggris — menyebut kapal terkena "proyektil tak dikenal" ketika berada di perairan Selat Hormuz. "Proyektil tersebut mengakibatkan kebakaran," demikian keterangan UKMTO, dikutip dari CNBC Indonesia, Jumat (2/10/2026). Kantor berita Iran International juga melaporkan insiden serupa, mengonfirmasi kapal tanker itu terbakar akibat serangan proyektil.
UKMTO mengatakan seluruh awak kapal dilaporkan selamat, meski badan itu belum mengetahui tingkat kerusakan kapal. Identitas kapal juga belum diungkap, termasuk negara bendera, tujuan pelayaran, dan apakah kapal mengangkut minyak mentah atau gas alam cair (LNG). Belum ada pihak yang mengklaim bertanggung jawab atas serangan ini.
Pada hari yang sama, seorang pejabat AS mengonfirmasi militer Amerika mengirimkan sekitar 7.000 pelaut dan 2.000 marinir beserta sejumlah kapal — termasuk kapal induk ketiga — ke Timur Tengah. Penguatan kehadiran militer ini terjadi ketika Presiden Donald Trump kembali memperingatkan bahwa serangan baru terhadap Iran mungkin akan segera terjadi, seperti dilaporkan Associated Press dan dikutip Okezone.
Pergerakan pasukan itu menggarisbawahi dinamika yang berkembang pesat dari konflik Trump melawan Iran, menjelang pemilihan paruh waktu di AS. Laporan The Wall Street Journal yang dikutip Sindonews bahkan menyebut pemerintahan Trump tengah menyiapkan hingga 10.000 prajurit tambahan ke kawasan, mengindikasikan potensi serangan susulan ke Iran usai pemilu sela — terlepas dari janji awal Trump bahwa kampanye militer hanya berlangsung beberapa minggu.
Trump juga mengangkat isu percobaan pembajakan penerbangan FlyDubai pada Rabu lalu, ketika seorang kopilot menikam kapten dan mencoba menabrakkan pesawat menuju Israel. Ketika ditanya wartawan di Gedung Putih apakah ada hubungan antara pelaku dan Teheran, Trump menjawab: "Berdasarkan apa yang saya dengar, saya akan mengatakan jawabannya adalah 'ya,' tetapi kami sedang mengerjakannya saat ini." Pernyataan itu belum disertai bukti rinci, dan klaim keterlibatan Iran masih dalam penyelidikan.
Selat Hormuz adalah jalur vital perdagangan energi dunia. Sebelum serangan AS dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari lalu, sekitar seperlima pasokan minyak dan LNG global melewati selat tersebut. Ketegangan meningkat setelah Iran menghalangi sejumlah kapal komersial dan menembaki kapal yang dituduh berlayar tanpa izin; AS merespons dengan blokade pelabuhan-pelabuhan Iran untuk menghambat ekspor minyak Teheran. AS sendiri belum melancarkan serangan terhadap target Iran sejak 1 September, namun kapal-kapal masih dilaporkan menjadi sasaran serangan di selat itu.
Kombinasi sinyal geopolitik yang kian panas ini langsung mengguncang pasar energi. Pada perdagangan Jumat pagi di Asia, harga minyak mentah Brent naik 0,28 persen menjadi USD102,60 per barel, sementara WTI menguat ke USD93,14 per barel. Kenaikan itu melanjutkan lonjakan tajam pada penutupan Kamis, ketika Brent melesat lebih dari USD4 per barel setelah laporan rencana militer AS terungkap. Tekanan bertambah dari langkah China yang membekukan ekspor BBM serta ancaman embargo diesel AS ke Eropa.
Hingga Jumat siang, Teheran belum memberikan respons resmi atas serangan tanker terbaru ini. Pasar dan pengamat keamanan maritim memperkirakan eskalasi di Selat Hormuz akan terus membayangi pasokan energi global dalam beberapa pekan ke depan.
Sumber
- Bom! Rudal Serang Kapal Baru di Selat Hormuz — CNBC Indonesia
- AS Kirim 9.000 Pasukan ke Timur Tengah, Bakal Serang Besar-besaran Iran? — Okezone
- Harga Minyak Dunia Naik Gila-gilaan: China Bekukan Ekspor BBM, Pasukan AS Bergerak — Sindonews
- Tanker struck by projectile in Strait of Hormuz, catches fire — Iran International