AS Sita 6 Juta Barel Minyak Iran, Dibawa Diam-diam Lintasi Atlantik ke Amerika
Hampir 6 juta barel minyak mentah Iran hasil sitaan tiga kapal tanker AS sedang melintasi Samudra Atlantik menuju pelabuhan AS, nilainya ditaksir Rp11 triliun.
Oleh Adi Rahmadi · · Internasional

Rangkuman
- Tiga kapal tanker terkait Iran — Majestic X, Tifani, dan Lenore — disita pasukan AS pada April–Juni, muatannya hampir 6 juta barel
- Nilai minyak sitaan diperkirakan USD600 juta atau sekitar Rp11 triliun, kini dibawa melintasi Atlantik ke pelabuhan-pelabuhan AS
- Penyitaan terjadi di tengah kebuntuan diplomasi: Trump menolak proposal Iran membuka kembali Selat Hormuz dalam 7 hari
WASHINGTON — Amerika Serikat diam-diam memindahkan hampir 6 juta barel minyak mentah Iran hasil sitaan melintasi Samudra Atlantik menuju pelabuhan-pelabuhan di AS. Muatan yang diangkut tiga kapal tanker itu diperkirakan bernilai sekitar 600 juta dolar AS atau setara Rp11 triliun.
"Hampir 6 juta barel minyak mentah Iran sitaan sedang diam-diam melintasi Samudra Atlantik menuju Amerika Serikat," ungkap firma pelacak kapal TankerTrackers.com dalam pernyataannya, dikutip dari AFP, Minggu (27/9), sebagaimana dilansir Sindonews.
Tiga armada pengangkut minyak terkait Iran yang disita pasukan AS itu masing-masing bernama Majestic X, Tifani, dan Lenore. Ketiganya dicegat di lokasi berbeda melalui serangkaian operasi Angkatan Laut AS yang berlangsung sepanjang periode April hingga Juni.
Berdasarkan data firma analitik maritim Kpler, kapal Majestic X dan Tifani disita pada April setelah memuat minyak dari Iran dan sempat terdeteksi di lepas pantai utara Brasil. Saat dicegat, transponder kedua kapal terbukti secara keliru mencantumkan China dan Singapura sebagai pelabuhan tujuan — indikasi upaya menyamarkan asal-usul kargo, praktik yang lazim dipakai jaringan perkapalan bayangan untuk mengelabui sanksi.
Sementara itu, supertanker Lenore disita pada awal Juni di Samudra Hindia, dan tercatat memasuki perairan Atlantik melalui rute Tanjung Harapan di lepas pantai Afrika Selatan. Aksi penyitaan ini merupakan bagian dari kampanye blokade pelabuhan Iran oleh Washington yang berlangsung sejak konflik AS-Iran memanas.
Operasi penyitaan minyak ini berjalan paralel dengan kebuntuan diplomatik yang makin dalam. Wall Street Journal melaporkan Jumat bahwa Presiden AS Donald Trump menolak usulan Teheran untuk membuka kembali Selat Hormuz selama sepekan, dan sedang mempertimbangkan serangan baru usai pemilihan umum sela di AS.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengakui pihaknya sudah mengetahui respons awal Trump, tetapi menegaskan belum ada tanggapan resmi yang diterima Iran melalui para mediator. "Kami telah melihat reaksi pertama dari presiden AS, tetapi belum ada yang disampaikan kepada kami dari para mediator," kata Araghchi, dikutip CNBC Indonesia dari CNN World, Minggu.
Proposal Iran menawarkan pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari, sekaligus membuka jalan kelanjutan pembicaraan nuklir dengan AS. Namun, rencana itu mensyaratkan pencabutan blokade angkatan laut AS dan penghapusan sanksi terhadap minyak Iran. "Jika syarat-syarat yang diperlukan terpenuhi, selat tersebut dapat dibuka kembali, dan jalur pelayaran normal dapat dipulihkan dalam waktu tujuh hari. Pilihan sekarang ada di tangan Amerika Serikat," tutur Araghchi. Menurutnya, syarat itu tidak melebihi Nota Kesepahaman AS-Iran yang ditandatangani Juni lalu — kesepakatan yang kemudian gagal setelah pertempuran kembali pecah.
Di sisi militer, Teheran memperkeras retorika. Juru Bicara Angkatan Bersenjata Iran Abolfazl Shekarchi menyatakan Iran akan melancarkan serangan yang lebih dahsyat, besar, dan presisi jika AS dan Israel kembali menyerang. "Jika Amerika Serikat dan rezim Israel kembali salah perhitungan dan membuat kesalahan dengan menyerang kami, serangan kami kali ini akan lebih dahsyat, besar, dan presisi dari sebelumnya," kata Shekarchi seperti dikutip kantor berita Fars, dilansir Antara. Ia menambahkan pasukan militer Iran sepenuhnya siap bertempur.
Sebagai catatan, pernyataan-pernyataan dari kedua pihak — baik klaim kesiapan tempur Iran maupun opsi serangan baru yang dipertimbangkan Trump — sejauh ini belum terverifikasi sebagai keputusan resmi, dan diplomasi lewat mediator masih berjalan. Konflik AS-Iran yang dimulai dengan serangan AS-Israel terhadap sasaran di Iran pada 28 Februari, disusul balasan Iran dan nota kesepahaman gencatan pada pertengahan Juni, hingga kini belum menemukan penyelesaian. Para analis memperingatkan, penyitaan minyak bernilai triliunan rupiah ini bisa menjadi pemantik baru eskalasi, mengingat pendapatan minyak adalah urat nadi ekonomi Iran yang selama ini menjadi sasaran utama kampanye tekanan maksimum Washington.
Sumber
- AS Sita 6 Juta Barel Minyak Iran, Diam-diam Dibawa Berlayar ke Amerika — Sindonews
- Ditolak Trump, Iran Masih Tunggu Jawaban AS Soal Hormuz — CNBC Indonesia
- Iran janjikan serangan lebih dahsyat jika AS kembali gempur Teheran — Antara