AS Siapkan Rangkaian Serangan Baru ke Iran usai Pemilu Sela
AS meminta negara-negara Teluk bersiap menghadapi kampanye militer singkat dan intensif terhadap Iran setelah pemilu sela 3 November 2026.
Oleh Adi Rahmadi · · Internasional

Rangkuman
- WSJ: AS meminta beberapa negara Teluk bersiap untuk serangan militer singkat dan intensif terhadap Iran usai pemilu sela 3 November 2026
- AS memindahkan sistem Patriot dari Texas, menarik pasukan dari pangkalan rawan, dan menambah kapal induk ke Timur Tengah
- Senator Chris Murphy menyebut rencana itu gila; Iran menegaskan tujuh syarat garis merah sebelum membuka Selat Hormuz
WASHINGTON — Amerika Serikat dilaporkan meminta sejumlah negara Teluk Arab untuk bersiap menghadapi kampanye militer singkat dan intensif terhadap Iran setelah pemilihan umum sela (midterm elections) pada 3 November 2026. Laporan Wall Street Journal itu, yang dikutip Shafaq News dan Middle East Eye, menjadi indikasi terbaru bahwa Washington dan Israel sedang menyiapkan rangkaian serangan baru untuk menekan Teheran agar kembali ke meja perundingan.
Menurut laporan tersebut, peringatan disampaikan lewat saluran diplomatik dan militer. Militer AS disebut tengah memindahkan sistem pertahanan rudal Patriot dari Texas ke kawasan, menarik pasukan dari pangkalan-pangkalan yang dinilai berpotensi menjadi sasaran serangan balasan, serta mengisi ulang stok amunisi dan menyiapkan pengebom serta jet tempur. Satu kelompok kapal induk tambahan dan satu unit ekspedisi Marinir dijadwalkan bergabung dengan sekitar 20 kapal perang AS yang sudah dikerahkan di Timur Tengah pada bulan depan.
Gedung Putih menolak berkomentar soal rencana militer yang sensitif. Namun seorang juru bicara menegaskan bahwa Presiden Donald Trump menyimpan semua opsi untuk memastikan Iran tidak pernah memiliki senjata nuklir. Trump sendiri, dalam kampanye di Lubbock, Texas, Selasa (27/10/2026), berkata, "Anda akan melihat Iran dalam beberapa pekan ke depan, jika Anda tidak keberatan." Ia juga mengklaim AS telah meluluhlantakkan kapasitas pengayaan nuklir Iran lewat Operation Midnight Hammer dan Operation Epic Fury.
Di dalam negeri AS, rencana itu menuai kritik keras. Senator Demokrat Chris Murphy mengaku sudah menerima taklimat soal rencana memulai kembali perang terhadap Iran dan menyebutnya gila. Berbicara dalam acara Middle East Institute di Washington, Murphy menilai rencana tersebut akan berujung pada eskalasi yang menghancurkan dan meruntuhkan komitmen AS pada supremasi hukum. "Kita melihat presiden bersiap untuk kampanye militer mematikan lainnya setelah pemilu, sama ilegalnya dengan yang pertama, sementara rakyat Amerika sudah muak dengan perang ini," kata Murphy.
Dari sisi Teheran, seorang sumber tepercaya Iran kepada Al Mayadeen menegaskan Iran tidak akan mengambil langkah baru sebelum Washington memenuhi tujuh syarat yang sudah disampaikan — yang ia sebut garis merah dan harus dipenuhi sekaligus, bukan bertahap. Ketujuh syarat itu adalah: menghentikan seluruh aksi militer di semua lini termasuk Lebanon; mencairkan aset Iran yang dibekukan; mencabut blokade laut dan minyak; menghapus seluruh sanksi ekonomi dan politik; menarik armada laut dan udara AS dari sekitar Iran; memberikan ganti rugi atas kerusakan akibat perang; serta menghentikan ancaman dan penghinaan dari AS.
Sumber yang sama membantah narasi Trump soal korespondensi antara Wakil Presiden JD Vance dan Sekretaris Dewan Tertinggi Keamanan Nasional Iran, Mohsen Rezaei. Ia menilai laporan media AS yang menggambarkan surat itu sebagai kemajuan perundingan atau tanda Iran mundur adalah keliru. Iran, katanya, baru akan membeberkan isi surat pada waktu yang dianggap tepat. Sumber itu juga mengimbau para mediator berhenti sekadar menyalurkan tuntutan AS, dan memperingatkan bahwa pangkalan negara kawasan yang dipakai untuk menyerang Iran akan dibalas setimpal dengan bentuk serangannya.
Ketegangan AS-Iran memanas sejak perang yang dimulai akhir Februari 2026, yang memicu serangan rudal dan drone balasan Iran serta penutupan efektif Selat Hormuz — jalur krusial pasokan energi dunia. Sebuah nota kesepahaman untuk mengakhiri perang diteken pada Juni, tetapi prosesnya macet akibat perselisihan soal navigasi di selat tersebut.
Sumber
- US alerts Gulf states to possible Iran war — Shafaq News
- Senator AS Ungkap Sudah Diinfo Rencana 'Gila' Perang Baru Terhadap Iran, Trump akan Gunakan Nuklir? — Republika
- Tujuh Syarat Iran Jadi Garis Merah untuk Berdiplomasi dengan AS — Republika
Topik
Berita terkait
- Iran Tegaskan Selat Hormuz Tetap Ditutup, AS Wanti-wanti Warganya
- Pezeshkian di PBB: Iran Tak Akan Bertekuk Lutut, Siap Berdialog Tanpa Paksaan
- Trump tolak tawaran Iran buka Selat Hormuz, pertimbangkan serangan baru
- Iran Tegaskan Hanya Negosiasi Bisa Akhiri Konflik dengan AS
- Selat Hormuz: Iran Tunggu Jawaban Resmi AS atas Rencana Tujuh Poin