Serangan Houthi di Bandara Riyadh: 12 Tewas dari 7 Negara, 309 Terluka
Rudal Houthi hantam Bandara King Khalid Riyadh Sabtu sore, 12 orang dari tujuh negara tewas dan 309 terluka; Trump pertimbangkan ikut serang Houthi.
Oleh Adi Rahmadi · · Internasional

Rangkuman
- Rudal dan drone Houthi menghantam Bandara Internasional King Khalid, Riyadh, Sabtu sore 10 Oktober 2026; operasional bandara dihentikan sementara.
- Otoritas penerbangan sipil Saudi mencatat 12 tewas dari tujuh negara dan 309 terluka, beberapa kritis; ini serangan paling mematikan di kawasan Teluk sejak perang AS-Israel melawan Iran dimulai Februari.
- Pejabat senior Houthi Mohammed al-Bukhaiti mengklaim serangan sebagai balasan atas pengeboman Saudi di Yaman; Presiden AS Donald Trump mempertimbangkan bergabung dalam serangan Saudi terhadap Houthi.
RIYADH — Serangan yang diklaim kelompok Houthi Yaman menghantam Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Arab Saudi, pada Sabtu sore (10/10/2026) waktu setempat. Otoritas penerbangan sipil Arab Saudi mengonfirmasi 12 orang tewas dan 309 lainnya terluka, sementara seluruh operasional bandara dihentikan sementara.
Dalam pernyataannya pada Minggu (11/10/2026) pagi, otoritas penerbangan sipil Saudi merinci kewarganegaraan korban tewas: empat warga Arab Saudi, dua warga Bangladesh, serta masing-masing satu orang dari Amerika Serikat, Mesir, Yordania, Suriah, Palestina, dan Sudan. Beberapa dari 309 korban luka dilaporkan dalam kondisi kritis. Angka ini jauh lebih tinggi dari laporan awal yang menyebut dua orang tewas, yakni seorang pramugari asal Mesir dan seorang warga Palestina.
"Bandara Riyadh menjadi sasaran serangan pada Sabtu sore, 10 Oktober 2026, di tengah rangkaian serangan yang terus menyasar fasilitas penerbangan sipil kerajaan," demikian bunyi pernyataan otoritas penerbangan sipil Saudi, dikutip dari AFP. Seorang reporter The New York Times melihat sedikitnya enam ambulans bergegas menuju bandara, sementara polisi menutup seluruh akses masuk ke lokasi. Para saksi mata sebelumnya mengatakan kepada AFP bahwa perintah evakuasi telah dikeluarkan di dalam bandara.
Pejabat senior Houthi, Mohammed al-Bukhaiti, mengakui milisinya bertanggung jawab atas serangan tersebut. Ia menyebut serangan itu sebagai balasan atas kampanye pengeboman Arab Saudi, termasuk terhadap infrastruktur sipil di Yaman. "Houthi melancarkan serangan tersebut agar dunia memahami bahwa bandara, pelabuhan laut, gedung pernikahan dan pemakaman, rumah sakit, serta pasar di Yaman merupakan fasilitas sipil yang tidak boleh menjadi sasaran atau dirusak," katanya.
Serangan ini menjadi yang paling mematikan di negara-negara Teluk sejak perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran dimulai pada Februari lalu. Bandara Riyadh sendiri sudah berulang kali menjadi sasaran sepanjang pekan ini: pada Kamis (8/10), tiga orang tewas dalam serangan serupa, termasuk seorang pilot maskapai Saudia, dan sebuah pesawat Airbus A320 hancur. Gelombang serangan ini menghantam langsung ambisi Putra Mahkota Mohammed bin Salman menjadikan Riyadh sebagai pusat perjalanan dan bisnis global, sekaligus mengancam sejumlah acara internasional yang dijadwalkan berlangsung dalam beberapa pekan mendatang.
Di sisi lain perbatasan, pesawat-pesawat tempur Arab Saudi terus membombardir posisi Houthi di Yaman. Menurut Anees al-Asbahi, juru bicara kementerian kesehatan yang berafiliasi dengan pemerintahan Houthi, serangan udara sejak 3 September telah menewaskan 91 orang di Yaman, sebagian besar perempuan dan anak-anak. PBB menyebut pertempuran di Yaman kini menjadi front paling aktif dalam perang Timur Tengah, dengan lebih dari 184.000 orang terusir dari rumah mereka.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan akan segera memutuskan apakah Washington bergabung dalam serangan Saudi terhadap Houthi yang didukung Iran. "Kami mungkin akan melakukannya. Kami akan mempertimbangkannya. Kami baru saja mengetahui tentang serangan terkini itu, jadi kami akan mengambil keputusan. Kami bertindak sangat cepat," ujar Trump kepada wartawan di Gedung Putih, dikutip dari AFP.
Sejumlah kedutaan besar negara Barat di Riyadh, termasuk Amerika Serikat, Inggris, Kanada, Jerman, dan Spanyol, memperingatkan warganya untuk menjauhi bandara dan mematuhi instruksi keamanan setempat. Kedutaan Spanyol menyebut peringatan itu dikeluarkan menyusul adanya "serangan baru" Houthi terhadap bandara tersebut.
Eskalasi ini terjadi di tengah meluasnya konflik regional. Sebelumnya pada Senin (6/10), Houthi juga mengklaim menyerang bandara Riyadh, kilang milik raksasa minyak negara Aramco, dan sejumlah target lain, sementara Pakistan dan Turki berjanji mengerahkan pasukan ke Arab Saudi di bawah pakta pertahanan bersama. Serangan Houthi terhadap infrastruktur energi juga sempat menghentikan pemompaan pipa East-West, dan CEO Aramco Amin Nasser memperingatkan bahwa stok minyak global kini "menipis menakutkan" akibat perang yang tak kunjung mereda.
Sumber
- 12 Orang Tewas Akibat Serangan Houthi di Bandara Riyadh WN AS-Mesir — Detik
- Rudal Houthi Serang Bandara Riyadh Arab Saudi, 12 Orang Tewas, 309 Terluka — Sindonews
- Operasional Bandara Riyadh Disetop Sementara Buntut Serangan Houthi — Detik
- Yemen's Houthis say they struck Riyadh airport, other Saudi sites — Channel News Asia
Topik
Berita terkait
- Serangan Udara Guncang Sana'a Yaman, Houthi Tuding Agresi Saudi
- Houthi Serang Bandara Riyadh dan Abha, 3 Tewas dan 36 Terluka
- Pakta Pertahanan Mekkah Gelar Rapat Darurat Bahas Serangan Houthi
- Perang Iran: Teheran Bertahan di Hormuz, Biaya Perang AS Tembus Rp706 T
- Iran Belum Putuskan Keluar dari NPT, Trump Ancam 'Hal Besar akan Terjadi'