Houthi Serang Riyadh dan Aramco, Sirine Serangan Udara Pertama Berbunyi

Kelompok Houthi yang didukung Iran mengklaim menyerang Riyadh dan fasilitas Aramco dengan rudal balistik pada Sabtu (19/9). Saudi mengaku mencegat satu rudal.

Oleh · · Internasional

Houthi Serang Riyadh dan Aramco, Sirine Serangan Udara Pertama Berbunyi
Foto: Skyline Riyadh, ibu kota Arab Saudi, yang menjadi sasaran serangan rudal balistik Houthi. · B.alotaby · CC BY-SA 4.0

Rangkuman

RIYADH — Kelompok Houthi Yaman yang didukung Iran mengklaim melancarkan serangan drone dan rudal balistik ke ibu kota Arab Saudi, Riyadh, serta fasilitas energi di pesisir Laut Merah pada Sabtu (19/9). Serangan ini memicu sirine peringatan serangan udara pertama di Riyadh sejak Houthi meningkatkan serangan ke wilayah Saudi pada Juli lalu.

Otoritas Saudi menyatakan berhasil mencegat dan menghancurkan sebuah rudal balistik yang ditembakkan ke arah Riyadh, tanpa mengonfirmasi serangan lanjutan atau korban. Sebelumnya, kolom asap hitam tebal terlihat membubung dari tangki bahan bakar di dekat Bandara Internasional King Khalid, dan penerbangan di bandara itu dilaporkan terganggu untuk sementara. Seorang jurnalis AFP melaporkan petugas pemadam kebakaran tampak berupaya memadamkan api di sebuah tangki bahan bakar milik raksasa minyak negara Saudi Aramco.

Juru bicara militer Houthi Yahya al-Sarea dalam pernyataan daring mengatakan, serangan dilakukan dengan "sejumlah besar rudal balistik dan jelajah serta drone" yang menargetkan "lokasi-lokasi sensitif" di Riyadh dan fasilitas Aramco di Yanbu. Ia menyebut serangan itu sebagai balasan atas "upaya kriminal musuh Saudi" menargetkan ibu kota Yaman, Sanaa. Sebelumnya, al-Sarea menuduh Saudi melancarkan 300 serangan di seluruh Yaman dalam sepekan terakhir. Perlu dicatat, klaim Houthi soal keberhasilan serangan ke Yanbu ini belum dikonfirmasi pihak Saudi.

Juru bicara koalisi pimpinan Saudi menyatakan, pertahanan udara juga menghentikan "upaya permusuhan untuk menargetkan warga sipil" di kota-kota Bish, Taif, Farasan, dan Yanbu. Pertahanan Sipil Saudi sempat mengirim peringatan bahaya ke ponsel warga Riyadh dan sejumlah wilayah lain pada malam hari, sebelum mencabutnya pada Sabtu pagi.

Warga Riyadh yang dihubungi AFP dengan syarat anonim mengaku mendengar suara seperti rentetan ledakan yang bergema di kota itu setelah peringatan berbunyi. "Saya mendengar alarm, lalu jendela saya bergetar. Jelas menakutkan. Saya tidak menyangka ini terjadi," kata seorang warga Riyadh utara berusia 27 tahun.

Eskalasi ini terjadi di tengah memanasnya perang saudara Yaman. Menurut laporan AFP yang belum terkonfirmasi, mengutip sumber militer kedua pihak, pertempuran antara Houthi dan pasukan pemerintah yang didukung Saudi menewaskan 48 orang pada Sabtu: Houthi mengaku kehilangan 31 anggota, sementara sumber pemerintah menyebut 17 tentaranya tewas. Pada Jumat, Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) melaporkan jumlah pengungsi akibat pertempuran terbaru telah melampaui 104.796 orang.

Dalam beberapa pekan terakhir, Houthi juga merebut kota pelabuhan strategis Mokha dan Pulau Perim, gerbang jalur pelayaran penting yang digunakan Saudi untuk ekspor ke Asia dan Eropa. Langkah itu disebut sebagai balasan atas blokade Saudi terhadap pelabuhan dan bandara di wilayah barat laut Yaman yang dikuasai Houthi. Jalur Laut Merah itu makin vital bagi Saudi karena Selat Hormuz efektif tertutup sejak perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.

Dampaknya ke ekonomi global mulai dihitung. Bank investasi JP Morgan dalam catatan langka kepada investor pada Jumat mengaku kesulitan memprediksi dampak perang terhadap harga minyak. "Kami benar-benar tidak tahu bagaimana memodelkan akhir dari semua ini," tulis bank tersebut, dikutip dari BBC.

Sumber

  1. Houthis say they targeted Saudi capital with ballistic missiles — BBC News
  2. Houthi Serang Fasilitas Aramco di Dekat Bandara Riyadh, Asap Hitam Membubung — Kumparan

Berita terkait