Perang Iran: Trump Ancam 'Hal Besar', IRGC Siapkan Senjata Baru

Ketegangan AS-Iran memanas jelang Sidang Umum PBB. Trump ancam 'hal besar', IRGC siapkan senjata baru, sementara survei Reuters/Ipsos: approval Trump 32%.

BeritaFlash AI · · Internasional

Perang Iran: Trump Ancam 'Hal Besar', IRGC Siapkan Senjata Baru

Rangkuman

WASHINGTON — Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas menjelang Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-81 di New York. Presiden AS Donald Trump dan pejabat militer Iran saling lempar ancaman terbaru, sementara dukungan publik dalam negeri terhadap Trump justru anjlok ke titik terendah dalam karir politiknya.

Dalam wawancara dengan Fox News yang disiarkan Minggu (20/9) waktu setempat, Trump mengatakan dirinya sedang dalam "mode pengambilan keputusan" yang krusial terkait Iran. "Pertanyaannya adalah apakah dan kapan saya akan menghancurkan seluruh negara itu? Sebaiknya mereka bersikap baik," kata Trump, seperti dilansir Anadolu Agency. Trump menguraikan tiga pilihan yang dimilikinya: melenyapkan Iran, membiarkan negara itu "membusuk" secara ekonomi, atau merundingkan kesepakatan. "Hal-hal sangat besar akan terjadi dalam waktu dekat," ucapnya dengan nada memperingatkan.

Trump juga mengisyaratkan kesediaan untuk pendekatan diplomatik. Ditanya soal pekan tinggi Majelis Umum PBB yang dimulai Senin (21/9), Trump menyebut "kemungkinan terbuka" untuk bertemu dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian, yang akan menghadiri langsung Sidang Majelis Umum PBB di New York. Pemerintahan Trump mengizinkan delegasi Iran, termasuk Pezeshkian, menghadiri forum dunia tersebut, namun dengan pembatasan pergerakan dan larangan berbelanja selama berada di New York.

Namun, Iran merespons dengan ancaman balasan yang tak kalah keras. Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya, pusat komando seluruh angkatan bersenjata Iran, mengatakan pihaknya telah menerima informasi yang mengindikasikan AS telah memutuskan untuk kembali melancarkan serangan terhadap Iran. "Setiap serangan AS akan dibalas dengan serangan terus-menerus terhadap pangkalan dan kepentingan AS," demikian bunyi peringatan yang disiarkan televisi pemerintah IRIB, seperti dilansir Al Arabiya dan Anadolu Agency, Senin (21/9).

Khatam al-Anbiya juga memperingatkan negara-negara kawasan akan dianggap "terlibat" jika mereka "berpihak pada agresi" AS. "Kami memperingatkan jika negara-negara di kawasan ini — dengan terus menerapkan kebijakan bermuka dua terhadap Republik Islam Iran — berpihak pada agresi 'Setan Besar' terhadap Iran yang kuat dan berdaulat, maka mereka semua akan dianggap terlibat dalam tindak kejahatan ini dan tidak dapat lagi mengharapkan sikap menahan diri atau kesantunan dari Angkatan Bersenjata Iran yang tangguh," tegas pernyataan itu.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menambahkan ancaman dengan mengatakan akan menyerang target-target baru dan mengerahkan senjata baru jika AS kembali melancarkan serangan. "Jika terjadi agresi baru, kami tentu akan mengubah persenjataan dan cakupan wilayah perang," kata juru bicara IRGC, Hossein Mohebbi, seperti dilansir AFP dan Reuters. Mohebbi menambahkan pasukan IRGC siap menghadapi "perang berkepanjangan" dan menyatakan "pasti akan ada perubahan signifikan dalam pertahanan dan serangan balasan kami" jika terjadi serangan baru dari AS. "Kami akan menghadirkan senjata-senjata baru dengan kemampuan baru di medan perang, dan dunia akan terkejut. Target-target kami juga belum tentu sama seperti sebelumnya. Kami memiliki target-target baru yang belum pernah diserang," cetusnya.

Sementara di dalam negeri, Trump menghadapi tekanan politik yang semakin berat. Survei Reuters/Ipsos yang dilakukan Kamis (17/9) hingga Senin (21/9) terhadap 1.277 orang dewasa di seluruh AS menunjukkan tingkat kepuasan terhadap kinerja Trump anjlok ke 32 persen — terendah dalam karir politiknya. Angka itu turun dari 35 persen pekan sebelumnya, dan jauh di bawah 47 persen saat ia pertama kali dilantik pada Januari 2025.

Penurunan dukungan paling tajam datang dari basis Partai Republik sendiri. Hanya 73 persen anggota Partai Republik yang kini mendukung Trump, turun dari 82 persen pekan sebelumnya. Ketidakpuasan terutama dipicu oleh cara Trump menangani biaya hidup yang melonjak akibat perang Iran — hanya 17 persen responden yang menyetujui penanganan Trump terhadap isu tersebut. Untuk pertama kalinya, jumlah anggota Partai Republik yang tidak menyetujui cara Trump menangani biaya hidup melampaui mereka yang mendukungnya, yakni 51 persen berbanding 44 persen.

Khusus soal perang Iran, hanya 24 persen warga Amerika yang mendukung pendekatan Trump terhadap konflik dengan Iran. Jajak pendapat yang sama juga menunjukkan pemilih terdaftar lebih memilih Partai Demokrat dibandingkan Partai Republik dengan perolehan 43 persen berbanding 35 persen — keunggulan terbesar bagi Partai Demokrat dalam jajak pendapat Reuters/Ipsos tahun ini. Trump tetap populer di kalangan anggota Partai Republik terkait isu imigrasi dengan dukungan 79 persen, namun secara keseluruhan hanya 36 persen masyarakat Amerika yang mendukung pendekatannya terhadap masalah imigrasi, sementara 55 persen menyatakan ketidaksetujuan.

Sumber

  1. Psywar AS Vs Iran Semakin Menjadi-jadi — Detik
  2. Warga AS Protes Perang Iran, Tingkat Kepuasan Terhadap Trump Turun Jadi 32% — Detik
  3. Trump approval falls to record low of 32% as high costs bite, Reuters/Ipsos poll finds — Reuters
  4. Trump's approval rating hits career low of 32% amid Iran war, economy fallout — Al Jazeera
  5. IRGC to U.S.: We use new weapons in event of fresh attack — Omid Radio
  6. Iran threatens US with new weapons, new targets if attacks resume — Daily Sabah

Berita terkait