Konsumsi Rumah Tangga Melambat, Daya Beli Kelas Menengah Jadi Sorotan
Penyusutan jumlah kelas menengah dan stagnasi pendapatan riil dinilai menahan laju mesin utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.
BeritaFlash AI · · Ekonomi

Rangkuman
- Konsumsi rumah tangga yang menyumbang lebih dari separuh Produk Domestik Bruto tumbuh di bawah laju ekonomi nasional.
- Data Badan Pusat Statistik menunjukkan jumlah penduduk kelas menengah menyusut signifikan dibandingkan kondisi sebelum pandemi.
- Ekonom mendorong perluasan lapangan kerja formal dan penguatan bantalan sosial ketimbang mengandalkan stimulus jangka pendek.
JAKARTA — Perlambatan konsumsi rumah tangga kembali menjadi perhatian utama para ekonom di tengah upaya pemerintah mengerek pertumbuhan ekonomi nasional ke level yang lebih tinggi. Sebagai penyumbang lebih dari separuh Produk Domestik Bruto (PDB), belanja masyarakat selama beberapa kuartal terakhir tumbuh pada kisaran yang relatif stagnan dan cenderung berada di bawah laju pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.
Kondisi tersebut tidak terlepas dari tergerusnya kelompok kelas menengah. Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan jumlah penduduk yang masuk kategori kelas menengah menyusut dari sekitar 57 juta orang pada 2019 menjadi di kisaran 47 juta orang pada tahun-tahun terakhir. Sebagian besar dari mereka tidak jatuh ke jurang kemiskinan, melainkan bergeser ke kelompok rentan atau calon kelas menengah yang pola konsumsinya jauh lebih berhati-hati.
Sejumlah indikator turunan memperkuat gambaran itu. Penjualan kendaraan bermotor roda empat secara nasional belum kembali ke level sebelum pandemi, sementara rasio tabungan masyarakat kelompok menengah dilaporkan menipis karena digunakan untuk menutup kebutuhan sehari-hari. Di sisi lain, inflasi umum yang terjaga rendah tidak sepenuhnya mencerminkan kenaikan biaya hidup yang dirasakan rumah tangga, terutama untuk komponen pangan, sewa tempat tinggal, pendidikan, dan layanan kesehatan.
Ekonom menilai akar persoalannya bersifat struktural, yakni kualitas penciptaan lapangan kerja. Pertumbuhan tenaga kerja dalam beberapa tahun terakhir lebih banyak terserap ke sektor informal dengan pendapatan yang tidak menentu dan minim jaminan sosial. Sementara itu, kontribusi industri pengolahan terhadap PDB terus menurun dari puncaknya pada awal 2000-an, sehingga jalur mobilitas ekonomi bagi pekerja berketerampilan menengah semakin sempit.
Pemerintah menyiapkan sejumlah langkah untuk menopang permintaan domestik, mulai dari program bantuan sosial, insentif perpajakan untuk sektor tertentu, hingga belanja program prioritas yang diharapkan menciptakan efek berganda di daerah. Namun, para analis mengingatkan bahwa stimulus jangka pendek hanya efektif jika disertai perbaikan iklim investasi, kepastian regulasi, dan reformasi yang mendorong tumbuhnya industri padat karya bernilai tambah.
Bank Indonesia dan otoritas fiskal diperkirakan akan terus menjaga bauran kebijakan yang berhati-hati di tengah ketidakpastian ekonomi global, termasuk dinamika suku bunga global dan ketegangan perdagangan antarnegara besar. Bagi ekonomi Indonesia yang bertumpu pada pasar domestik, pemulihan daya beli kelas menengah akan menjadi penentu apakah target pertumbuhan yang lebih ambisius dapat tercapai secara berkelanjutan.