Kekerasan Seksual Ponpes Abul Barokat NTB, 16 Korban Kini Berani Bersuara
Belasan korban dugaan kekerasan seksual di Ponpes Abul Barokat Wannafahat NTB bersuara usai investigasi BBC. Polisi periksa pimpinan ponpes berinisial AIS.
Oleh Adi Rahmadi · · Hukum

Rangkuman
- 16 orang kini bersuara soal dugaan kekerasan seksual di Ponpes Abul Barokat Wannafahat, Lombok Tengah; 12 di antaranya sudah diperiksa polisi
- Tuduhan mengarah ke pendiri ponpes berinisial AIS yang diperiksa sebagai saksi Senin 28 September dan membantah semua tuduhan
- LPA Mataram menyebut ada terduga pelaku lain dari lingkungan ponpes; TGB Zainul Majdi ambil alih kepemimpinan dan dorong penegakan hukum
MATARAM — Sebanyak 16 orang kini berani bersuara terkait dugaan kekerasan seksual yang mereka alami selama berada di Pondok Pesantren Abul Barokat Wannafahat, Desa Bunkate, Kecamatan Jonggat, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Dari jumlah itu, 14 orang merupakan nama baru di luar korban yang lebih dulu terungkap melalui investigasi BBC Eye. Sebanyak 12 orang di antaranya telah menjalani pemeriksaan polisi.
Tuduhan para korban mengarah kepada pendiri pesantren berinisial AIS yang biasa dipanggil Abah. Modus yang dituturkan para korban berpola sama: ditawari menjadi istri kedua, lalu dicabuli. Seorang mantan santriwati berinisial Z menuturkan ada korban yang mengaku hampir diperkosa di sebuah ruangan gelap antara pukul satu hingga tiga dini hari, tetapi berhasil menyelamatkan diri. Peristiwa itu dipendamnya selama empat tahun karena mengira hanya dialami dirinya sendiri.
"Dia pendam sampai menyakiti dirinya, hampir bunuh diri. Saat melihat kami berani speak up, dia juga langsung bilang juga korban dan mau speak up karena sudah lama memendam semua sendiri," tutur Z, dikutip dari BBC News Indonesia, Selasa 29 September 2026. Mantan santri lain berinisial Y menyebut puluhan orang menghubunginya melalui WhatsApp dan pesan langsung media sosial setelah investigasi tayang, meski tidak semua siap bersuara. "Yang masih bimbang untuk memutuskan apakah ikut speak up atau enggak itu masih banyak," katanya.
Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kota Mataram Joko Jumadi mengungkapkan para korban yang melapor mengalami pelecehan pada periode 2019 hingga 2021. Ia juga menyebut ada terduga pelaku lain dari lingkungan pondok, seorang pengajar yang menggunakan modus mengajari silat sebelum melecehkan santri. LPA tengah berkomunikasi dengan Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI), organisasi yang menaungi ponpes, menagih komitmen perlindungan korban — termasuk jaminan santri yang keluar tidak dibebani biaya penalti Rp5 juta seperti yang selama ini berlaku.
AIS sendiri telah diperiksa penyidik Polres Lombok Tengah sebagai saksi pada Senin 28 September. Usai pemeriksaan, ia kembali membantah seluruh tuduhan. Sebelumnya, dalam konferensi pers di Mataram pada Rabu 23 September malam, AIS menyatakan mundur dari seluruh jabatannya di lingkungan pesantren dengan alasan menjaga kegiatan belajar-mengajar tetap berjalan normal. Ia menyebut tuduhan itu fitnah, persoalan pribadi, dan mengancam melaporkan balik mantan santrinya Y yang dianggap menyebarkan tuduhan sepihak tanpa klarifikasi terlebih dahulu.
Ketua Umum Pengurus Besar NWDI Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi kini mengambil alih kepemimpinan Pesantren Abul Barokat Wannafahat. Ia menegaskan akan mengawal proses hukum. "Harus kita dorong penegakan hukumnya, didorong betul-betul. Apalagi kita mendengar bahwa sudah ada tambahan bukti. Karena memang keadilan itu harus tegak," kata TGB. Padahal, menurut pengakuan dua korban, mereka pernah melaporkan sejumlah kasus kekerasan seksual ke NWDI pada 2023 namun tidak pernah ada tindak lanjut.
Komisioner Komnas Perempuan Devi Rahayu menilai kasus kekerasan seksual di pesantren merupakan fenomena gunung es. "Kasus kekerasan seksual di pesantren selalu dengan jumlah korban yang banyak dan diduga kuat merupakan fenomena gunung es akibat minimnya pelaporan dan kuatnya tekanan terhadap korban," ujarnya. Kepolisian Lombok Tengah menyatakan masih mendalami kasus ini dan status hukum para pihak yang diperiksa belum ditingkatkan.
Sumber
- Belasan korban dugaan kekerasan seksual di Ponpes Abul Barokat NTB bersuara — BBC Indonesia
- Ahmad Imanuddin Suma dari Pimpinan Ponpes Abul Barokat Wannafahat, Bantah Dugaan Pelecehan Seksual — Lombok Editor