Dugaan Peretasan Binance Guncang Pasar Kripto, Tether-Circle Bekukan Dana Rp46 Triliun
Oleh Adi Rahmadi · · Teknologi

Rangkuman
- Circle dan Tether membekukan dana total US$2,54 miliar (Rp46,08 triliun) yang diduga terkait peretasan bursa kripto Binance; perusahaan analitik Arkham Intelligence mengaitkan aset hampir US$6 miliar (Rp108,8 triliun) dengan 55 dompet yang diduga terlibat.
- Binance menyatakan tengah menginvestigasi potensi masalah keamanan dan menegaskan dana pengguna sepenuhnya aman; pendiri Changpeng Zhao menyebut insiden ini tampaknya merupakan sebuah peretasan.
- Bitcoin anjlok lebih dari 3 persen hingga di bawah level US$80.000 (Rp1,45 miliar) menyusul kabar tersebut, sementara Ether turun hampir 4 persen dan Solana melemah sekitar 3 persen.
JAKARTA — Pasar kripto dunia terguncang setelah sejumlah perusahaan kripto, termasuk Circle Internet Group dan Tether, membekukan dana sebesar US$2,54 miliar atau sekitar Rp46,08 triliun yang diduga terkait peretasan pada bursa kripto Binance, dikutip darii CNBC, Jumat (30/10/2026).
Binance, bursa kripto terbesar di dunia berdasarkan volume perdagangan, tidak secara eksplisit mengonfirmasi apakah telah mengalami peretasan.
"Tim kami telah menerima laporan mengenai potensi masalah keamanan dan sedang melakukan investigasi aktif," ujar juru bicara Binance. "Yakinlah bahwa dana pengguna sepenuhnya aman," tambahnya.
Melalui platform X, Binance menyatakan perdagangan di Binance Alpha telah dihentikan sementara, seraya menambahkan total dana yang telah diverifikasi dan dibekukan saat ini mencapai US$2,54 miliar.
Pernyataan Para Eksekutif
Pendiri sekaligus mantan CEO Binance, Changpeng Zhao (CZ), menyatakan melalui unggahan di X bahwa dana pengguna aman dan ia yakin seluruh dana nasabah akan terlindungi sepenuhnya. Zhao, yang kini tidak lagi mengelola bursa tersebut, juga menyebutkan insiden ini tampaknya merupakan sebuah peretasan.
CEO Circle, Jeremy Allaire, mengungkapkan perusahaannya telah membekukan lebih dari 800 juta USD Coin (USDC) yang terkait dengan insiden tersebut. CEO Tether Paolo Ardoino juga menyampaikan di X bahwa perusahaannya telah membekukan lebih dari 1,5 miliar stablecoin USDT yang diduga berkaitan dengan potensi peretasan tersebut.
Salah satu pendiri Binance lainnya, Yi He, menyatakan Ripple — perusahaan yang terkait dengan aset XRP dan RLUSD — turut membantu menghentikan pergerakan dana US$200 juta atau Rp3,6 triliun yang diduga terkait dengan serangan tersebut.
Dampak Ditaksir Rp108 Triliun
Dana yang dibekukan mungkin hanya sebagian kecil dari total aset yang terdampak. Penyedia data kripto Arkham Intelligence mengaitkan aset digital senilai hampir US$6 miliar atau Rp108,8 triliun — termasuk Bitcoin, Ether, Solana, dan berbagai stablecoin — dengan 55 alamat dompet yang diduga terlibat dalam potensi peretasan ini.
Arkham melakukan identifikasi, pelacakan, dan penandaan terhadap dompet kripto dengan menganalisis data blockchain yang tersedia untuk publik, serta informasi dari komunitasnya.
Harga Kripto Tertekan
Bitcoin, mata uang kripto yang paling banyak dipantau di dunia, anjlok lebih dari 3 persen menyusul pernyataan para eksekutif tersebut, hingga jatuh ke bawah level US$80.000 atau Rp1,45 miliar. Ether turun hampir 4 persen, sementara Solana melemah sekitar 3 persen.
Tekanan jual di pasar kripto pekan ini memang telah meningkat setelah keputusan bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve, yang membuat investor mempertimbangkan ulang prospek aset berisiko, dikutip dari Republika.
Peretasan bukanlah hal yang jarang terjadi di dunia kripto. Pada tahun 2025, bursa Bybit mengalami kerugian sekitar US$1,5 miliar atau Rp27,2 triliun akibat peretasan. Baru-baru ini, Bitget juga kehilangan aset digital senilai lebih dari US$350 juta atau Rp6,34 triliun dalam sebuah insiden pencurian siber.
Sumber
- Circle dan Tether Bekukan Dana Rp 46 Triliun Usai Binance Diduga Kena Peretasan — Liputan6
- Cryptocurrency exchange Binance says it's investigating a potential security incident — Times Herald
- Bitcoin Melemah Usai Keputusan The Fed, Investor Diminta Waspadai Volatilitas — Republika
Berita terkait
- Ekspansi Pusat Data AI di Indonesia Diuji Ketersediaan Listrik dan Air
- Pusat Data AI Menjamur di Indonesia, Beban Listrik dan Air Jadi Sorotan
- Data Pribadi Menkomdigi Meutya Hafid Diduga Bocor, Diperjualbelikan Rp2.000
- Pusat Data Kian Haus Listrik, Indonesia Hadapi Dilema Energi Kecerdasan Buatan
- Pusat Data AI Menjamur, Beban Listrik dan Air Jadi Pekerjaan Rumah Indonesia