Binance Diretas, Aset Kripto Rp114 Triliun Raib: Terbesar dalam Sejarah

Bursa kripto Binance kebobolan aset senilai US$6,3 miliar atau sekitar Rp114,3 triliun; investigator menuding kelompok peretas Korea Utara TraderTraitor.

Oleh · · Teknologi

Binance Diretas, Aset Kripto Rp114 Triliun Raib: Terbesar dalam Sejarah

Rangkuman

SINGAPURA — Bursa mata uang kripto terbesar di dunia, Binance, mengonfirmasi telah diretas dengan kerugian diperkirakan mencapai US$6,3 miliar atau setara Rp114,3 triliun. Kepala keamanan informasi perusahaan siber Check Point, Jayant Dave, menyebut insiden ini sebagai "pencurian kripto terbesar sepanjang sejarah", melampaui rekor sebelumnya yakni peretasan bursa Bybit senilai US$1,5 miliar pada 2025.

Perusahaan investigasi blockchain TRM Labs mengestimasi sekitar US$6,36 miliar aset digital dipindahkan dari dompet-dompet Binance ke sepuluh jaringan blockchain berbeda, dan sebagian besar terkirim hanya dalam waktu sekitar 20 menit. Menurut laporan TRM Labs, persiapan serangan sudah dimulai setidaknya 36 jam sebelum pencurian, dengan pelaku memakai layanan pencampur kripto Tornado Cash untuk mendanai dompet mereka sebelum menerobos sistem.

CEO Binance Richard Teng mengatakan penyelidikan awal menunjukkan peretasan bermula dari laptop seorang staf teknis perusahaan. "Peretas mendapat akses ke kontainer layanan, di mana mereka mengirimkan transaksi penarikan yang tidak sah," kata Teng. Ia menegaskan serangan itu bukan tindakan sederhana. "Penyerang tidak hanya menggunakan izin satu staf, dan ini bukan tindakan sekali klik. Sejauh ini, kami belum menemukan bukti kebocoran kunci pribadi dompet apa pun."

Soal dalangnya, dua firma analitik terkemuka kompak menuding Korea Utara. TRM Labs menyatakan dengan keyakinan tinggi bahwa serangan dilakukan TraderTraitor — unit peretas yang disponsori negara Korea Utara dan juga dikenal sebagai Lazarus Group — berdasarkan intelijen on-chain dan off-chain. FBI sebelumnya mengidentifikasi kelompok yang sama sebagai pelaku peretasan Bybit. Chainalysis juga menilai serangan ini kemungkinan besar ulah TraderTraitor, dengan CEO Jonathan Levin menyebut ada kaitan dengan pola serangan-serangan Korut sebelumnya. Lembaga keamanan Barat selama ini menuding dana hasil peretasan kripto dipakai Pyongyang membiayai program nuklir dan rudalnya; pemerintah Korut selalu membantah terlibat.

Dari sisi pemulihan, Binance menyatakan sekitar setengah aset curian telah dibekukan, termasuk lewat kerja sama dengan penerbit stablecoin. Tether dan Circle mengonfirmasi membekukan total sekitar US$2,4 miliar, sementara World Liberty Financial — perusahaan kripto yang terkait keluarga Presiden AS Donald Trump — ikut membekukan dana curian lewat mitranya. "Pembekuan menghentikan uang bergerak, dan pemulihan mengikuti proses hukum," jelas Ari Redbord, kepala kebijakan global TRM Labs, kepada CNBC. Eric Jardine dari Chainalysis mengingatkan pemulihan bisa makan waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun.

Binance menegaskan akan menanggung seluruh kerugian dan sementara menonaktifkan penarikan dana sampai sistemnya dipastikan aman. "Keamanan adalah prioritas utama: penarikan dana saat ini dinonaktifkan sampai lingkungan dipastikan aman," tulis salah satu kepala eksekutif Binance, Yi He. Analis Fundstrat, Sean Farrell, menilai insiden ini belum mengancam solvabilitas Binance, mengingat dana darurat SAFU perusahaan bernilai sekitar US$1,2 miliar. Platform Binance.US yang terpisah menyatakan tidak terdampak, dan bursa Coinbase juga mengonfirmasi tidak terkena insiden ini.

Kabar peretasan langsung mengguncang pasar: harga Bitcoin anjlok lebih dari 4 persen, disusul Ethereum dan Solana. Bagi Indonesia, di mana jumlah investor kripto terus tumbuh, insiden ini menjadi pengingat keras soal risiko kustodian aset digital — sekaligus momentum bagi regulator memperketat standar keamanan siber bursa, seperti yang diserukan Chris Perkins dari Franklin Templeton.

Sumber

  1. Binance dibobol peretas, aset Rp114,3 triliun raib – 'Ini pencurian kripto terbesar dalam sejarah' — BBC Indonesia
  2. Binance's $6.3 billion hack: What we know and what comes next — CNBC

Topik

Berita terkait