Sidang Umum PBB: Menlu Rusia Tuding Eropa Sabotase Perundingan Damai Ukraina
Menlu Rusia Sergei Lavrov di Sidang Umum PBB menuduh Eropa menggagalkan perundingan damai Ukraina yang didukung Trump, Sabtu (26/9/2026).
Oleh Adi Rahmadi · · Internasional

Rangkuman
- Lavrov menuduh Eropa berupaya menggagalkan perundingan damai Ukraina yang diinginkan pemerintahan Trump
- Lavrov bertemu Menlu Jerman Wadephul, pertemuan pertama menlu Rusia-Jerman sejak sebelum perang
- Rusia menyatakan siap membantu menstabilkan Selat Hormuz di tengah kebuntuan AS-Iran
NEW YORK — Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov menggunakan panggung Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York untuk menuduh negara-negara Eropa secara aktif menghambat upaya mengakhiri perang di Ukraina. Dalam pidatonya yang berapi-api pada Sabtu (26/9/2026) waktu setempat, Lavrov menyebut Eropa berusaha menggagalkan perundingan damai yang didukung pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
"Eropa melakukan segala yang bisa dilakukan untuk menggagalkan perundingan damai yang diinginkan pemerintahan Trump," kata Lavrov di hadapan para pemimpin dunia, seperti dilansir AFP dan dikutip Detik. Ia menegaskan bahwa apa yang disebutnya "tujuan operasi militer khusus" akan tercapai apa pun keadaannya, dan ancaman terhadap keamanan Rusia akan dihilangkan.
Pidato itu disampaikan di tengah situasi lapangan yang terus memanas. Dalam 24 jam terakhir, serangan Rusia dan Ukraina dilaporkan menewaskan sedikitnya 16 orang. Kyiv menyebut serangan Rusia menewaskan sedikitnya enam orang di Sumy, Zaporizhzhia, dan wilayah Dnipropetrovsk, termasuk seorang perempuan berusia 17 tahun. Sebaliknya, Moskow mengklaim serangan Ukraina menewaskan empat orang di wilayah Krasnodar dan Belgorod, sementara pejabat yang dipasang Kremlin di wilayah pendudukan Ukraina selatan melaporkan enam korban tewas lainnya. Pejabat PBB sebelumnya telah memperingatkan meningkatnya jumlah korban sipil dalam perang tersebut.
Di sela Sidang Umum PBB, Lavrov juga menggelar pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul. Ini merupakan pertemuan pertama antara menteri luar negeri Moskow dan Berlin sejak sebelum perang pecah. Pertemuan berlangsung di tengah ketegangan tinggi: Jerman menuduh Rusia mengatur upaya serangan drone terhadap Bandara Leipzig, dan kedua negara saling memerintahkan penutupan konsulat. Seorang diplomat Jerman mengatakan Wadephul menyerukan Rusia meninggalkan jalur eskalasinya yang berbahaya terhadap Jerman, Eropa, dan NATO, serta menegaskan dukungan Berlin untuk Ukraina tidak akan goyah oleh serangan hibrida. Lavrov terakhir bertemu menlu Jerman, saat itu Annalena Baerbock, pada Januari 2022, kurang dari sebulan sebelum invasi Rusia ke Ukraina.
Dalam pidatonya, Lavrov juga menolak wacana reformasi Dewan Keamanan PBB yang memberi kursi tambahan bagi negara Barat. "Reformasi Dewan Keamanan PBB tidak boleh mencakup pemberian kursi tambahan kepada negara-negara Barat, terutama Jerman dan Jepang, yang kini berada di jalur menuju militerisme," ujarnya. Sebelumnya, Lavrov menuduh Jerman "kembali menginginkan perang".
Di luar isu Ukraina, Lavrov menyatakan Rusia siap membantu menstabilkan situasi di Selat Hormuz dan kawasan Teluk yang lebih luas, di tengah kebuntuan konflik AS-Iran. "Kita membutuhkan kepercayaan dalam hubungan antara negara-negara Teluk, negara-negara Arab, dan Iran. Kita membutuhkan arsitektur regional yang stabil," katanya, seraya menambahkan Rusia siap memberikan kontribusi konstruktif bersama negara-negara lain yang bertanggung jawab.
Pernyataan itu muncul setelah Iran mengajukan proposal gencatan senjata tujuh hari yang dapat membuka kembali Selat Hormuz, namun ditolak Trump. Menlu Iran Abbas Araghchi menyebut rencana itu telah disampaikan melalui Qatar dan mencakup penghentian seluruh permusuhan di Timur Tengah, pencairan aset Iran yang dibekukan, pencabutan sanksi minyak, dan penghentian blokade laut AS. The Wall Street Journal melaporkan Trump skeptis Teheran akan memenuhi tuntutannya dan justru mempertimbangkan kampanye pengeboman baru setelah pemilu sela AS November mendatang.
Sidang Umum PBB pekan ini juga diwarnai pidato Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan yang menyerukan penghapusan hak veto Dewan Keamanan, serta kritik China terhadap AS yang meminta Washington menghormati negara-negara Teluk dan berhenti mengancam Kuba. Perundingan yang dipimpin AS untuk mengakhiri perang Ukraina sendiri sejauh ini belum menghasilkan terobosan, sementara Kremlin berulang kali menyatakan niatnya merebut wilayah Ukraina timur yang masih dikuasai Kyiv.
Sumber
- Bicara di Sidang PBB, Menlu Rusia Tuduh Eropa Hambat Perundingan Ukraina — Detik
- Di Forum PBB, Rusia Nyatakan Siap Bantu Jaga Stabilitas Selat Hormuz — Detik
- Di Sidang Umum PBB, Rusia Sebut Siap Bantu Jaga Stabilitas Selat Hormuz — Kumparan
- Erdogan Serukan Penghapusan Hak Veto DK PBB, Mungkinkan Bisa Terwujud? — Sindonews
- China Kritik AS di PBB, Minta Hormati Negara Teluk dan Berhenti Ancam Kuba — Detik