Pencabutan Gelar Man City: Khaldoon Al Mubarak Tegaskan Tak Bersalah

Khaldoon Al Mubarak angkat bicara usai Man City dinyatakan bersalah atas 114 dari 115 dakwaan FFP, saat wacana pencabutan delapan gelar juara membelah Inggris.

Oleh · · Olahraga

Pencabutan Gelar Man City: Khaldoon Al Mubarak Tegaskan Tak Bersalah
Foto: Stadion Etihad, markas Manchester City, yang masa depan gelar juaranya dipertaruhkan di sidang FFP · Mike Pennington · CC BY-SA 2.0

Rangkuman

MANCHESTER — Ketua Manchester City Khaldoon Al Mubarak akhirnya angkat bicara setelah klubnya dinyatakan bersalah atas 114 dari 115 dakwaan pelanggaran regulasi finansial (FFP) Premier League. Dalam pernyataan resmi klub yang dikutip Antara, Minggu (27/9), Al Mubarak menegaskan keyakinan bahwa The Citizens tidak bersalah.

"Proses di Premier League masih panjang, dan keyakinan serta tekad kami untuk membuktikan bahwa Klub tidak bersalah tetap sama kuatnya seperti saat masalah ini bermula," tegas Al Mubarak. Ia mengaku banyak hal yang ingin disampaikan agar publik memahami dasar keyakinan klub, tetapi ketentuan kerahasiaan yang ketat dalam proses hukum mencegahnya berbicara lebih jauh. Sebelum pernyataan itu dirilis, klub mengaku telah melalui beberapa pemeriksaan hukum.

Al Mubarak juga merujuk pernyataan klub pada Februari 2023, saat dakwaan pertama kali diumumkan. Menurutnya, setiap kata dalam pernyataan itu memiliki makna penting dan sepenuhnya benar. Klub menegaskan selama delapan tahun menghormati prosedur yang berlaku, dengan keyakinan bahwa dewan dan jajaran eksekutif Premier League bertindak sebagai regulator independen, imparsial, dan adil.

Di luar pernyataan resmi, perdebatan publik justru berkembang liar. Komisi independen Premier League berpotensi menjatuhkan sanksi berat dalam sanction hearing yang akan digelar dalam waktu dekat. Spektrum hukumannya lebar: pengurangan poin masif, denda besar, ancaman degradasi, hingga yang paling kontroversial — pencabutan delapan trofi juara yang diraih City pada periode 2009 hingga 2018, era ketika pelanggaran diduga terjadi.

Dikutip dari Kumparan, otoritas Premier League dan klub-klub anggotanya dilaporkan kurang bergairah mencabut gelar secara retrospektif, meski opsi itu belum sepenuhnya sirna karena keputusan akhir ada di tangan panel independen. Jika gelar dicabut, liga menghadapi dua pilihan rumit: membiarkan catatan juara musim tersebut kosong, atau menyerahkannya kepada tim peringkat kedua.

Skenario realokasi trofi langsung memicu polemik. Mantan manajer Manchester United Jose Mourinho sempat melontarkan sindiran soal peluang timnya dinobatkan sebagai juara musim 2017-2018, ketika United finis kedua dengan selisih 19 poin dari City. "Saya pikir kami masih memiliki peluang memenangkan liga tersebut... dan kemudian mereka harus membayar bonus saya serta memberikan medalinya," kata Mourinho.

Penghapusan gelar bukan tanpa preseden. Juventus kehilangan dua gelar Serie A pada 2005 dan 2006 akibat skandal Calciopoli — gelar 2005 dikosongkan, gelar 2006 diserahkan ke Inter Milan. Di Inggris, Elgin City pernah dicabut status juaranya di Highland League musim 1992-1993 karena memainkan pemain tidak sah. Namun kasus City dinilai jauh lebih kompleks karena menyangkut aturan keuangan, bukan pengaturan skor. Wacana ini juga membuka kecurigaan serupa terhadap Chelsea, yang kedapatan melakukan pembayaran rahasia kepada agen transfer pada 2011 hingga 2018.

Dari dalam skuad, gelandang Rodri membela pencapaian rekan-rekannya. Peraih Ballon d'Or itu menegaskan perjuangan para pemain di lapangan tidak bisa dinilai semata dengan uang. "Apa yang telah kami lakukan, mereka tidak akan bisa merampasnya dari kami. Itu dibayar dengan kerja keras, pengorbanan, dan perjuangan bersama setiap hari," ujarnya.

Ancaman paling nyata justru datang dari luar lapangan: gelombang gugatan ganti rugi dari klub-klub rival yang merasa dirugikan secara finansial, mulai dari kegagalan juara, gagal lolos ke kompetisi Eropa, hingga degradasi. Seorang pengacara olahraga yang dikutip Kumparan memperingatkan efek dominonya bisa menyasar pemain yang kehilangan bonus, staf, hingga agen yang kehilangan komisi. "Ini tidak ada habisnya dan berpotensi sangat merusak ekosistem sepak bola," katanya. Premier League kini memasuki fase ketidakpastian panjang yang ujungnya akan ditentukan panel independen.

Sumber

  1. Khaldoon Al Mubarak yakin Manchester City tak bersalah — Antara
  2. Ketua Man City Khaldoon Al Mubarak Yakin Klub Tak Bersalah di Kasus FFP — Republika
  3. Dilema Pencabutan Gelar Juara Manchester City di Liga Inggris — Kumparan

Berita terkait