Operasi SAR Arupadhatu 1 Didorong Dibuka Usai Jenazah Surakman Teridentifikasi
PFI dan DPR mendesak Basarnas membuka kembali operasi SAR gabungan mencari 5 jurnalis dan 2 ABK Arupadhatu 1 yang hilang di Selat Sunda sejak 7 September 2026.
BeritaFlash AI · · Lokal

Rangkuman
- Jenazah Surakman (60), ABK Arupadhatu 1, teridentifikasi lewat tes DNA DVI Polri pada Rabu, 23 September 2026, setelah ditemukan warga di perairan Enggano, Bengkulu Utara, 12 September.
- PFI Pusat dan Wakil Ketua DPR Cucun Ahmad Syamsurijal mendesak Basarnas membuka kembali operasi SAR gabungan untuk mencari 5 jurnalis dan 2 ABK yang masih hilang.
- Basarnas menyatakan belum membuka operasi khusus, tetapi mengalihkan pencarian ke operasi kesiapsiagaan dan menyebarkan informasi ke nelayan serta stasiun radio pelayaran.
JAKARTA — Desakan agar operasi pencarian korban kapal Arupadhatu 1 dibuka kembali menguat setelah jenazah Surakman (60), salah satu anak buah kapal (ABK), resmi teridentifikasi melalui tes DNA tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri pada Rabu, 23 September 2026. Persatuan Fotografer Indonesia (PFI) Pusat dan pimpinan DPR kini meminta Basarnas dan tim SAR gabungan TNI/Polri kembali menyisir perairan Selat Sunda hingga Enggano untuk mencari lima jurnalis dan dua ABK yang masih dinyatakan hilang.
Kapal cepat Arupadhatu 1 membawa rombongan lima jurnalis foto dan tiga ABK berangkat dari pesisir Carita, Pandeglang, Banten, untuk meliput erupsi Gunung Anak Krakatau. Kapal dinyatakan hilang kontak pada Senin, 7 September 2026. Tim SAR Gabungan langsung membuka operasi pencarian menyusuri perairan Banten, Lampung, hingga Bengkulu dengan mengerahkan 24 alat utama, meliputi KRI, kapal Basarnas, kapal Polairud, dan helikopter. Setelah 10 hari tanpa hasil, operasi resmi dihentikan pada 17 September 2026.
Titik terang muncul ketika warga menemukan sesosok mayat terdampar di perairan sekitar Sawang Bengkok, Desa Kahpayu, Kecamatan Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara, pada Sabtu, 12 September 2026. Lokasi itu berjarak sekitar 350 kilometer dari titik awal hilangnya kapal di Selat Sunda. Setelah 10 hari proses identifikasi, hasil tes DNA yang dicocokkan dengan sampel anak kandung almarhum, Yayat Suryadi, memastikan jenazah tersebut adalah Surakman, salah satu dari tiga ABK kapal.
Ketua Umum PFI Pusat Dwi Pambudo menilai penemuan ini sebagai bukti baru yang menjadi dasar pembukaan kembali operasi. "PFI meminta penyisiran intensif dilakukan kembali secara fokus di kawasan radius ditemukannya jenazah tersebut serta jalur perairan arah Selat Sunda menuju Enggano," kata Dwi, dikutip dari Liputan6. Ia mengingatkan komitmen otoritas SAR saat penutupan operasi bahwa pencarian akan dibuka otomatis jika ada petunjuk baru. "Harapan kami dan pihak keluarga sama sekali belum padam. Waktu sangat berharga, dan setiap detiknya berarti bagi keselamatan mereka," tegasnya.
Dari Senayan, Wakil Ketua DPR Cucun Ahmad Syamsurijal juga mendorong Basarnas membuka kembali operasi SAR. "Ini tentang kemanusiaan. Kita minta Basarnas untuk melakukan pencarian kembali, sampai bukan hanya yang pewarta, termasuk juga yang (insiden KM) Virgo," kata Cucun kepada wartawan, Kamis (24/9/2026), dilansir Sindonews.
Keluarga korban menyambut penemuan ini dengan harapan besar. "Besar banget harapan kami setelah adanya penemuan ini akan ada upaya pencarian lanjutan, agar kami sebagai keluarga bisa mendapatkan kepastian yang terbaik dari suami, Amin," ujar Rodiyah Nasution, istri jurnalis Yudistiro Pranoto. Hal senada disampaikan Aning, istri fotografer Donal Husni, yang memohon Basarnas membuka lagi pencarian karena belum satu pun jurnalis ditemukan.
Namun Basarnas bergeming. Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii menegaskan pencarian tidak dihentikan sepenuhnya, melainkan dialihkan menjadi operasi kesiapsiagaan atau operasi rutin sesuai sektor masing-masing. "Bukan operasi tidak dilaksanakan. Operasi tidak dibuka secara khusus lagi, artinya menghadirkan seluruh kekuatan untuk melaksanakan operasi, itu enggak. Tapi operasi dialihkan ke operasi kesiapsiagaan atau operasi rutin yang diarahkan kepada wilayah-wilayah tertentu," kata Syafii, Rabu (23/9/2026). Dalam skema itu, Basarnas menyebarluaskan informasi keberadaan korban kepada nelayan, warga, dan kapal yang beraktivitas di perairan, termasuk lewat stasiun radio pelayaran.
Tujuh korban masih berstatus hilang: dua ABK dan lima jurnalis foto, yakni Yudistiro Pranoto (iNews), Donal Husni (jurnalis lepas), Arie Basuki (Merdeka.com), Firdaus Wajidi (Anadolu Agency), dan Muhammad Bagus Khoirunas (LKBN Antara). Surakman sendiri di mata keluarga dan warga dikenal sebagai sosok baik yang berbaur dengan masyarakat. Anak keduanya, Yayat, mengenang ayahnya sebagai orang yang tak pernah mengeluh sekalipun kondisinya sedang tidak baik-baik saja, seperti dilaporkan Antara.
Dengan teridentifikasinya satu jenazah, tekanan publik terhadap Basarnas diprediksi terus meningkat. PFI dan keluarga menegaskan akan terus mengawal hingga seluruh korban ditemukan, hidup atau meninggal, demi kepastian bagi keluarga yang sudah lebih dari dua pekan menanti.
Sumber
- Mendorong Operasi SAR Dibuka Lagi Pascatemuan 1 Jenazah ABK Arupadhatu — Liputan6
- Jenazah 1 Kru Kapal Ditemukan, DPR Dorong Basarnas Buka Operasi SAR Cari 5 Jurnalis dan 2 ABK Hilang — Sindonews
- Sosok Surakman ABK Arupadhatu 1 di mata warga dan keluarga — Antara