Kualitas Udara Palembang Level Sangat Berbahaya, PM2.5 Tembus 903

BMKG mencatat PM2.5 di Stasiun Musi 2 Palembang mencapai 903,6 µg/m³ pada Minggu (4/10) pagi akibat kabut asap karhutla, level hitam sangat berbahaya.

Oleh · · Lokal

Kualitas Udara Palembang Level Sangat Berbahaya, PM2.5 Tembus 903
Foto: MODIS Land Rapid Response Team, NASA GSFC · Public domain

Rangkuman

PALEMBANG — Kualitas udara Kota Palembang, Sumatera Selatan, berada pada level sangat berbahaya pada Minggu (4/10) pagi akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla), dengan konsentrasi partikulat halus PM2.5 menembus angka tertinggi 903,6 mikrogram per meter kubik (µg/m³).

Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumsel Wandayantolis mengatakan, berdasarkan pantauan Stasiun PM2.5 Musi 2 Palembang, kualitas udara hingga pagi hari masuk kategori hitam atau sangat berbahaya bagi kesehatan masyarakat. Angka 903,6 µg/m³ itu tercatat sekitar pukul 05.00 WIB — lebih dari 16 kali lipat ambang batas aman 55 µg/m³ yang lazim dipakai dalam sistem indeks kualitas udara.

"Kondisi tersebut salah satunya dipengaruhi oleh adanya asap karhutla yang terjadi di beberapa wilayah di Sumsel yang terbawa masuk ke Kota Palembang," kata Wandayantolis, dikutip Antara. Partikulat PM2.5 adalah partikel udara berukuran lebih kecil dari atau sama dengan 2,5 mikrometer yang dapat menembus jauh ke dalam paru-paru dan pembuluh darah. Pengukuran dilakukan dengan metode penyinaran sinar beta (beta attenuation monitoring).

Pantauan lapangan memperlihatkan kabut asap pekat menyelimuti sejumlah titik kota, termasuk kawasan Jembatan Musi IV. Detik melaporkan indeks pencemaran udara di kota itu sempat menyentuh angka 780 pada Minggu siang, masih jauh di atas ambang kategori berbahaya. Jarak pandang terganggu dan bau asap menyengat terasa hingga ke dalam ruangan.

Wandayantolis mengimbau masyarakat membatasi aktivitas di luar ruangan, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penderita gangguan pernapasan, untuk mencegah infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). "Jika terpaksa harus ke luar rumah, sebaiknya melindungi diri dengan masker dan kacamata," ujarnya.

Kabut asap di Palembang bukan kejadian baru tahun ini. Catatan BMKG dan pemberitaan sebelumnya menunjukkan kualitas udara kota itu berulang kali masuk kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat sejak Agustus 2026, seiring meluasnya karhutla di sejumlah kabupaten di Sumatera Selatan selama musim kemarau. Pada 2 Oktober lalu, kabut asap tebal juga dilaporkan menyelimuti kota dan mengganggu jarak pandang.

Persoalan karhutla di Sumatera dan Kalimantan tahun ini bahkan mendapat sorotan internasional. Aktor dan aktivis lingkungan Leonardo DiCaprio, melalui unggahan di media sosialnya, menyoroti dampak kebakaran hutan Indonesia terhadap habitat orangutan — unggahan yang ramai dibagikan ulang warganet Indonesia akhir pekan ini.

Dinas Kesehatan setempat sebelumnya mencatat peningkatan keluhan ISPA setiap kali kabut asap pekat menyelimuti kota. Para dokter mengingatkan paparan PM2.5 dalam kadar setinggi ini dapat memicu serangan asma, memperberat penyakit jantung, dan berbahaya bagi perkembangan paru-paru anak.

Hingga Minggu sore, belum ada pengumuman resmi mengenai kebijakan khusus seperti pembelajaran jarak jauh untuk sekolah-sekolah di Palembang. BMKG menyatakan terus memantau perkembangan konsentrasi PM2.5 dan penyebaran titik panas, serta mengimbau pemadaman karhutla di hulu segera dipercepat agar beban asap ke permukiman berkurang.

Sumber

  1. BMKG sebut kualitas udara di Palembang di level sangat berbahaya — Antara
  2. Kabut Asap Selimuti Palembang, Kualitas Udara Masuk Kategori Berbahaya — Detik
  3. Foto: Dikepung Asap Karhutla, Kualitas Udara Palembang Masuk Kategori Berbahaya — Kumparan
  4. Leonardo DiCaprio Soroti Nasib Orangutan Imbas Karhutla di Kalimantan-Sumatera — Kumparan

Berita terkait