Krisis Air Global Mengancam, PBB Peringatkan Separuh Dunia Hadapi Kelangkaan
Laporan terbaru badan dunia menyebut tekanan terhadap sumber daya air tawar kian memburuk akibat perubahan iklim, urbanisasi, dan tata kelola yang lemah.
Oleh Adi Rahmadi · · Internasional

Rangkuman
- Lebih dari separuh populasi dunia diperkirakan mengalami kelangkaan air pada sebagian waktu dalam setahun.
- Perubahan iklim memperparah siklus kekeringan dan banjir, sementara cadangan air tanah terus menyusut.
- Negara berkembang di Asia dan Afrika disebut paling rentan karena keterbatasan infrastruktur dan pendanaan.
Peringatan mengenai krisis air global kembali mengemuka dalam forum internasional setelah sejumlah lembaga di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyoroti memburuknya ketersediaan air tawar di berbagai belahan dunia. Para ahli menyebut tekanan terhadap sumber daya air kini tidak lagi menjadi persoalan lingkungan semata, melainkan isu keamanan, ekonomi, dan stabilitas politik yang menuntut respons lintas negara.
Berdasarkan sejumlah kajian global, lebih dari separuh penduduk bumi diperkirakan mengalami kelangkaan air setidaknya selama satu bulan dalam setahun. Kondisi tersebut dipicu oleh kombinasi pertumbuhan penduduk perkotaan yang pesat, peningkatan permintaan air untuk pertanian dan industri, serta pencemaran yang mengurangi jumlah air layak konsumsi. Di sejumlah kawasan, eksploitasi air tanah berlangsung jauh melampaui kemampuan alam untuk memulihkannya.
Perubahan iklim memperkeruh situasi dengan mengacaukan pola curah hujan. Beberapa wilayah menghadapi kekeringan berkepanjangan, sementara wilayah lain diterjang banjir yang justru merusak infrastruktur penyediaan air bersih. Mencairnya gletser di kawasan pegunungan tinggi, yang selama ini menjadi penyangga pasokan air bagi ratusan juta orang di Asia Selatan dan Asia Tengah, turut menambah ketidakpastian jangka panjang.
Negara-negara berpendapatan rendah dan menengah disebut paling rentan. Keterbatasan anggaran membuat pembangunan jaringan distribusi, instalasi pengolahan, dan sistem sanitasi berjalan lambat. Di banyak kota besar, kebocoran pipa yang tidak tertangani menyebabkan sebagian besar air bersih hilang sebelum sampai ke konsumen. Kelompok masyarakat miskin perkotaan dan perempuan kerap menanggung beban terberat karena harus mengeluarkan biaya dan waktu lebih besar untuk memperoleh air.
Sejumlah pakar menilai persoalan utama bukan semata kelangkaan fisik, melainkan tata kelola yang belum memadai. Subsidi yang tidak tepat sasaran, lemahnya penegakan aturan terhadap pencemaran industri, serta minimnya koordinasi pengelolaan sungai lintas batas dinilai memperbesar risiko konflik antarnegara maupun antarwilayah di masa depan. Diplomasi air pun semakin sering disebut sebagai agenda penting dalam hubungan internasional.
Di sisi lain, sejumlah inisiatif menunjukkan adanya jalan keluar. Investasi pada daur ulang air limbah, pemanenan air hujan, efisiensi irigasi, serta restorasi ekosistem hulu dinilai mampu mengurangi tekanan secara signifikan jika dijalankan konsisten. Komunitas internasional diharapkan memperkuat pendanaan dan alih teknologi bagi negara berkembang agar target akses air bersih dan sanitasi yang aman bagi seluruh penduduk dunia tidak semakin jauh dari jangkauan.
Topik
Berita terkait
- Krisis Air Global Kian Mendesak, PBB Peringatkan Ancaman bagi Dua Miliar Penduduk
- Krisis Air Global Mengancam, PBB Peringatkan Separuh Dunia Hadapi Kelangkaan
- Sudan di Ambang Kelaparan Massal, PBB Sebut Krisis Pengungsian Terbesar Dunia
- Serangan Bandara Dammam: 1 Tewas, Aramco Evakuasi Karyawan dari Dhahran
- Kerusuhan Prancis: Polisi Larang Demo di Paris 22 Oktober