Kepala BNPB Minta Maaf soal 'Hidup Normal' di Tengah Karhutla Kalimantan

Kepala BNPB Suharyanto minta maaf atas pernyataan 'hidup normal' saat karhutla Kalimantan. Ia menegaskan penanganan kabut asap masih jadi prioritas pemerintah.

BeritaFlash AI · · Lokal

Kepala BNPB Minta Maaf soal 'Hidup Normal' di Tengah Karhutla Kalimantan
Foto: Citra satelit NASA: kabut asap karhutla menyelimuti Kalimantan (Borneo). · NASA image by Joshua Stevens (LANCE MODIS Rapid Response) · Public domain

Rangkuman

JAKARTA — Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto meminta maaf atas pernyataannya yang menyebut 'roda kehidupan masyarakat berjalan normal' di tengah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kabut asap yang mengepung Kalimantan. Pernyataan itu sebelumnya ia sampaikan dalam rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto pada Rabu (23/9/2026) dan memicu sorotan publik.

Dalam klarifikasinya, Jumat (25/9/2026), Suharyanto menjelaskan bahwa kata 'normal' yang ia maksud hanyalah indikator terbatas terkait aktivitas dasar masyarakat, seperti lalu lintas darat, perdagangan, dan pelayanan masyarakat, yang masih tetap berjalan. "Pernyataan tersebut tidak dimaksudkan untuk menyimpulkan bahwa kondisi lingkungan telah normal, dan mengabaikan kondisi faktual terkait kesulitan dan penderitaan masyarakat terdampak. Dan bukan juga dimaksudkan untuk mereduksi fakta menurunnya kualitas hidup masyarakat terdampak karhutla dan kabut asap," kata Suharyanto, dikutip dari Detik.

Pernyataan awal Suharyanto di depan Presiden memang menuai reaksi keras di media sosial. Sejumlah unggahan warga Kalimantan menyertakan foto dan video kabut asap tebal dengan nada keberatan. Salah satu komentar yang ramai dikutip berbunyi bahwa kondisi masyarakat "bukan normal tapi terpaksa". Dalam laporan yang sama, Suharyanto juga memperkirakan karhutla baru akan berakhir paling cepat pada pertengahan Oktober 2026.

Suharyanto mengakui masyarakat di sejumlah wilayah, khususnya Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat, masih menghadapi dampak serius kabut asap. Kualitas udara memburuk, kesehatan masyarakat menurun, dan kegiatan pendidikan serta aktivitas lainnya terganggu. Ia juga menyebut tebalnya kabut asap di dua provinsi itu telah mengganggu penerbangan komersial maupun operasi udara untuk penanganan karhutla.

"Saya memahami penggunaan kata 'normal' dapat menimbulkan persepsi seolah-olah kondisi masyarakat tidak terdampak. Untuk itu, saya perlu meluruskan bahwa kondisi karhutla masih memerlukan penanganan serius dan pemerintah tidak menganggap persoalan ini telah selesai," tutur Suharyanto, seperti dilaporkan CNN Indonesia.

Ia pun menyampaikan permohonan maaf secara terbuka. "Saya memohon maaf kepada masyarakat terdampak karhutla jika pilihan kata yang saya gunakan dalam laporan tersebut dinilai menimbulkan kesan bahwa pemerintah menganggap kondisi masyarakat di tengah bencana kabut asap sebagai situasi yang biasa saja. Bukan begitu maksud saya," lanjutnya.

Suharyanto memastikan BNPB bersama kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, TNI, Polri, Manggala Agni, serta relawan terus melakukan pemadaman, penanganan dampak kesehatan, dan perlindungan masyarakat. "Kami juga terus memperbaiki dan mengintegrasikan data dari seluruh unsur di lapangan agar informasi yang disampaikan kepada Presiden dan kepada masyarakat menggambarkan kondisi secara utuh dan akurat. Keselamatan, kesehatan dan kualitas hidup masyarakat terdampak, selalu menjadi prioritas utama kami," imbuhnya.

Kontroversi ini muncul di tengah perhatian besar pemerintah terhadap karhutla. Pada pekan yang sama, Presiden Prabowo menggelar diskusi dengan para pakar dan mengkritik adanya delapan peraturan daerah yang membolehkan masyarakat membakar lahan hingga dua hektare, yang ia sebut menjadi celah biang kerok karhutla. Prabowo juga menegaskan akan terus menyelidiki korporasi yang diduga berada di balik kebakaran hutan dan lahan.

Sumber

  1. Kepala BNPB Minta Maaf, Luruskan Maksud 'Hidup Normal' Saat Kabut Karhutla — Detik
  2. Kepala BNPB Klarifikasi soal 'Kehidupan Berjalan Normal' Saat Karhutla — CNN Indonesia
  3. Kepala BNPB Klarifikasi soal 'Kehidupan Normal' di Tengah Karhutla Kalimantan — Kumparan
  4. Prabowo Kritik Perda Bolehkan Masyarakat Bakar Lahan 2 Hektare — CNN Indonesia

Berita terkait