Karhutla 2026: 28.392 Hotspot, Kabut Asap Ganggu 12 Penerbangan Palembang
Kementan catat 28.392 titik panas sepanjang September 2026; kabut asap karhutla ganggu 12 penerbangan di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang.
Oleh Adi Rahmadi · · Lokal

Rangkuman
- Kementan mencatat 28.392 hotspot sepanjang 1-30 September 2026, Kalimantan Tengah terbanyak sekitar 10.000 titik
- Kabut asap menurunkan jarak pandang Bandara Palembang hingga 500 meter, 10 penerbangan terlambat dan 2 gagal mendarat
- Kemenhut siagakan 5.000 ASN dan kerahkan 2.579 personel Manggala Agni; motif ekonomi lahan sawit disebut jadi pemicu pembakaran
JAKARTA — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia memasuki fase mengkhawatirkan pada penghujung musim kemarau 2026. Kementerian Pertanian mencatat 28.392 titik panas (hotspot) terdeteksi sepanjang September 2026, dengan dampak nyata yang sudah dirasakan warga: kabut asap mengganggu operasional penerbangan di Palembang, Sumatera Selatan, pada Kamis (1/10/2026).
"Ter-monitor melalui beberapa satelit. Kejadian atau terdeteksinya titik panas sebanyak 28.392 itu periode hanya 1 bulan, yaitu tanggal 1 hingga tanggal 30 September kemarin," kata Direktur Perlindungan Perkebunan Kementan Hendratmojo Bagus Hudoro dalam diskusi Forum Wartawan Industri di Kementan, Kamis, dikutip dari CNBC Indonesia.
Kalimantan Tengah menjadi wilayah dengan hotspot terbanyak, sekitar 10.000 titik, disusul Kalimantan Barat sekitar 3.900-4.000 titik, Sumatera Selatan sekitar 3.500 titik, Papua Selatan 2.400 titik, Kalimantan Timur 1.300 titik, dan Kalimantan Selatan sekitar 1.070 titik. Data dihimpun dari aplikasi SiPongi Kemenhut dengan tingkat kepercayaan deteksi satelit 60 persen ke atas. Bagus menegaskan hotspot baru indikator titik panas dan tetap perlu dikonfirmasi di lapangan untuk memastikan kebakaran.
Dampaknya langsung terasa di Sumatera Selatan. Antara memberitakan kabut asap menurunkan jarak pandang di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang hingga 500 meter pada Kamis pagi. Akibatnya 10 penerbangan mengalami keterlambatan dan dua pesawat gagal mendarat.
Pemerintah merespons dengan pengerahan besar-besaran. Kementerian Kehutanan menyiagakan 5.000 ASN untuk diperbantukan, melengkapi 2.579 personel Manggala Agni yang aktif di lapangan bersama BNPB, TNI, dan Polri. "Selain mengerahkan 2.579 personel Manggala Agni yang aktif di lapangan, sesuai arahan Bapak Menteri, kami juga menyiagakan 5.000 ASN Kementerian Kehutanan untuk diperbantukan jika dibutuhkan," kata Kasubdit Pencegahan Kebakaran Hutan Kemenhut Hariyanto dalam konferensi pers di Kemenko Polkam, dikutip dari Antara.
Hariyanto mengatakan Manggala Agni saat ini menangani 67 kejadian karhutla: 30 sudah padam, 37 masih dalam proses pemadaman, tersebar di Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sumatera Selatan, dan Jambi. BNPB menyebut total 58.918 personel dan 54 helikopter dikerahkan di enam provinsi prioritas, sementara tiga helikopter Chinook bantuan pemerintah Jepang telah mengakhiri misi setelah lebih dari 40 operasi di Kalimantan Barat, menurut Detik dan Liputan6. Operasi modifikasi cuaca sudah dilakukan lima kali.
Ada kabar baik: titik panas berkepercayaan tinggi turun dari 694 titik pada 29 September menjadi 270 titik pada 30 September 2026 berdasarkan satelit Terra, Aqua, SNPP, dan NOAA-20. Secara nasional turun dari sekitar 1.000 titik menjadi 680 titik. Kemenhut juga telah memproses hukum 46 subjek karhutla di 10 provinsi, membekukan 13 izin, dan mencabut lima perizinan berusaha pemanfaatan hutan (PBPH).
Namun akar masalah belum tuntas. Ketua Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) Soewarso menilai pemadaman saja tidak cukup karena pembakaran lahan berkaitan erat dengan motif ekonomi. "Karena memang ada motif ekonomi, mau tidak mau. Jadi rata-rata yang saya tahu ya, kalau yang orang yang membakar itu rata-rata pilihannya ke sawit," kata Soewarso kepada CNBC Indonesia. Sawit bernilai ekonomi tinggi, dan membakar dianggap murah, cepat, efisien — abunya bahkan dipercaya menaikkan pH tanah dan mengendalikan hama.
Kementan menegaskan prinsip zero burning bagi seluruh pemegang izin perkebunan dan tengah memeriksa 2.210 pemegang izin yang diduga tersangkut karhutla. Sementara itu BPBD Jawa Barat mencatat 668,25 hektare karhutla selama musim kemarau, dan Okezone melaporkan banjir justru mendominasi bencana sepekan terakhir di wilayah lain — potret paradoks iklim Indonesia saat kemarau panjang dipicu El Nino, yang menurut BMKG akan membuat musim kemarau tahun ini lebih panjang dan kering.
Sumber
- Motif Ekonomi di balik Petaka Karhutla Kalimantan, Demi Lahan Sawit? — CNBC Indonesia
- Kemenhut siagakan 5.000 ASN hadapi ancaman karhutla — Antara
- 12 penerbangan terdampak kabut asap di Palembang, 2 gagal mendarat — Antara
- Kebakaran Hutan Meluas di Kalbar dan Kalteng — Liputan6
- BPBD Catat 668,25 Hektare Karhutla Selama Musim Kemarau di Jabar — Republika
- Kementan Pelototi 2.210 Pemegang Izin Perkebunan, Tersangkut Karhutla? — CNBC Indonesia