Demo Pelajar Prancis Memanas, 5.000 Orang Ditangkap Polisi
Bentrokan pelajar dengan polisi meluas di sejumlah kota Prancis; 5.000 orang ditangkap sejak Senin, 735 sekolah terganggu, guru ancam mogok.
Oleh Adi Rahmadi · · Internasional

Rangkuman
- Polisi antihuru-hara bentrok dengan pelajar SMA di Paris, Marseille, Strasbourg, Rennes, dan kota lain pada Jumat (2/10); sekitar 5.000 orang ditangkap sejak Senin, sebagian besar remaja.
- Aksi protes soal kondisi kelas, kekurangan guru, dan pemangkasan anggaran pendidikan telah mengganggu 735 sekolah; 65 tenaga pendidik terluka, termasuk 40 kepala sekolah.
- KBRI Paris mengimbau WNI menghindari lokasi demo dan menyediakan hotline darurat +33 6 21 12 21 09.
JAKARTA — Gelombang demonstrasi pelajar sekolah menengah di Prancis berubah menjadi bentrokan dengan polisi antihuru-hara di sejumlah kota pada Jumat (2/10/2026). Menteri Dalam Negeri Prancis Laurent Nunez mengatakan kepada stasiun televisi TF1 bahwa polisi telah menangkap sekitar 5.000 orang sejak Senin, sebagian besar dari mereka remaja.
Kerusuhan tersebar luas. Di Strasbourg, Prancis timur, jalan-jalan dipenuhi gas air mata. Di Marseille di selatan, kembang api diarahkan ke barisan polisi. Di Rennes di barat, demonstran membakar tempat sampah. Di Pantin, pinggiran Paris, massa membakar sejumlah benda termasuk pagar dan melemparkan petasan ke arah polisi antihuru-hara sebelum melarikan diri.
Insiden paling mengkhawatirkan terjadi di La Ciotat, dekat Marseille. Juru bicara otoritas pendidikan setempat mengatakan seorang remaja menyemprotkan bensin ke seorang guru. Rekaman yang ditayangkan BFM TV memperlihatkan seorang pria memegangi wajahnya setelah sosok bertudung dan bermasker menyemprotkan cairan dari botol ke arahnya. Reuters menyatakan tidak dapat memverifikasi secara independen situasi dalam rekaman itu.
Menurut AFP, aksi protes telah mengganggu aktivitas di 735 sekolah. Demonstrasi pecah di kawasan Paris pada pekan lalu — gelombang mobilisasi pelajar disebut sudah berjalan sejak 21 September — lalu menyebar ke berbagai wilayah dan berubah semakin keras. Para pelajar mengeluhkan jam sekolah yang panjang, jumlah siswa per kelas yang membengkak, kondisi ruang kelas, serta kekurangan tenaga pengajar.
Pemerintah merespons dengan nada keras. Sehari sebelum bentrokan Jumat, pemerintah menggelar pertemuan krisis; sumber yang dekat dengan perdana menteri menyebut demonstrasi telah berubah dari gerakan protes menjadi kekerasan perkotaan. Menteri Kehakiman Gerald Darmanin bahkan menuduh gerakan itu telah "dibajak oleh orang luar". Sementara Menteri Pendidikan Edouard Geffray mengungkapkan 65 tenaga pendidikan terluka selama kerusuhan, termasuk 40 kepala sekolah.
Gejolak ini datang hanya sekitar enam bulan sebelum pemilihan presiden Prancis berikutnya, ketika jajak pendapat secara konsisten menunjukkan ketidakpopuleran Presiden Emmanuel Macron dan pemerintahannya yang berhaluan kanan-tengah. Rencana pemangkasan anggaran yang dinilai memperburuk pendanaan sektor pendidikan turut memicu kemarahan pelajar dan guru. Sejumlah pelajar di wilayah Paris yang ditemui Reuters awal pekan ini mengaku memilih tidak ikut aksi pada Jumat karena khawatir kekerasan semakin meluas.
"(Kekerasan) itu disesalkan, tetapi ketika tuntutan tidak didengar selama bertahun-tahun, dan mengingat konteks politik dan geopolitik, ada beberapa kondisi yang membuat para siswa berada dalam kondisi kecemasan yang nyata," kata guru Sandra Champain-Seller, dikutip CNBC Indonesia dari Reuters.
Eskalasi belum berhenti. Serikat pekerja menyerukan aksi mogok guru pada Selasa (6/10) mendatang, hanya sepekan setelah pekerja sektor publik melakukan mogok kerja. Kelompok pelajar juga menyerukan demonstrasi lanjutan pada hari yang sama.
Kedutaan Besar Republik Indonesia di Paris mengeluarkan imbauan bagi warga negara Indonesia di Prancis. Melalui akun Instagram resminya, KBRI Paris meminta WNI memperhatikan perkembangan situasi keamanan, menghindari keterlibatan dalam demonstrasi, memantau pengumuman sekolah dan universitas soal penutupan atau pembelajaran daring, serta merencanakan perjalanan dengan mempertimbangkan kondisi lalu lintas.
"KBRI Paris terus memantau perkembangan situasi dan mengimbau masyarakat Indonesia untuk mengutamakan keselamatan diri dan keluarga," demikian bunyi imbauan tersebut. WNI yang membutuhkan bantuan darurat dapat menghubungi hotline KBRI Paris di nomor +33 6 21 12 21 09.
Sumber
- Chaos! Pelajar Demo Massal, Rusuh dengan Polisi-5.000 Orang Ditangkap — CNBC Indonesia
- KBRI Paris Imbau WNI Hindari Lokasi Demo Pelajar di Prancis — Kumparan