Rupiah Tembus Rp17.997 per Dolar AS, BI Kurangi Intervensi Spot ke 30 Persen
Rupiah melemah ke Rp17.997 per dolar AS Selasa pagi. Gubernur BI Destry Damayanti memangkas intervensi spot valas menjadi sekitar 30 persen, beralih ke DNDF.
Oleh Adi Rahmadi · · Ekonomi

Rangkuman
- Rupiah melemah 19 poin ke Rp17.997 per dolar AS pada pembukaan perdagangan Selasa (29/9)
- BI memangkas porsi intervensi spot valas dari mayoritas menjadi tinggal sekitar 30 persen, beralih ke DNDF
- Gubernur BI Destry Damayanti: kenaikan BI Rate 25 bps bisa pangkas pertumbuhan ekonomi 0,1 poin persentase
JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali melemah pada pembukaan perdagangan Selasa (29/9/2026), tergerus 19 poin atau 0,11 persen ke level Rp17.997 per dolar AS dari penutupan sebelumnya Rp17.978, menurut laporan Antara. Di tengah pelemahan yang terus menguji level psikologis itu, Bank Indonesia mengungkap perubahan strategi besar dalam menjaga stabilitas mata uang Garuda.
Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti mengatakan, bank sentral telah memangkas drastis penggunaan intervensi langsung melalui transaksi spot di pasar valuta asing. "Intervensi kita pun sekarang kita sudah sangat mengurangi intervensi yang mahal, intervensi yang mahal itu adalah melalui spot. Sekarang jumlahnya sudah tinggal sekitar 30 persen dari total intervensi yang kami lakukan," kata Destry dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI, Senin (28/9), dikutip dari Kumparan.
Sebagai gantinya, BI memperbesar penggunaan instrumen domestic non-deliverable forward (DNDF) untuk menjaga stabilitas rupiah. Destry menjelaskan, intervensi spot yang langsung menjual dolar di pasar tergolong mahal, sehingga bank sentral kini lebih mengandalkan instrumen derivatif yang lebih efisien. BI juga menerapkan insentif biaya hedging untuk mendorong masuknya investasi portofolio maupun pinjaman luar negeri, sekaligus mengurangi tekanan di pasar valas. Menurutnya, kebijakan insentif itu bersifat sementara dan akan bergantung pada perkembangan data ekonomi.
Destry mengakui tekanan terhadap rupiah masih ada karena sejumlah persoalan fundamental dan struktural pada sektor eksternal Indonesia. Karena itu, intervensi tidak bisa menjadi satu-satunya solusi. "Dengan intervensi sebesar-besarnya, tapi kalau sektor eksternal kita juga masih lemah, tentu itu akan berat," ujarnya. Penguatan eksternal, kata dia, harus dijalankan lewat peningkatan ekspor dan penarikan investasi asing, yang dibahas bersama pemerintah dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).
Dalam rapat yang sama, Destry juga membuka dilema kebijakan suku bunga. Berdasarkan asesmen BI pada Agustus, kenaikan BI Rate sebesar 25 basis poin berpotensi menurunkan pertumbuhan ekonomi 0,1 poin persentase secara ceteris paribus. "Jadi misalnya ekonomi growth-nya 5,4 persen, dia jadi turun 5,3 persen menurut asesmen kami bulan Agustus kemarin," ujar Destry, seperti dilaporkan CNBC Indonesia. Padahal, tekanan inflasi global sedang meningkat akibat gejolak geopolitik yang mengerek harga minyak mentah dunia, dan bank sentral Amerika Serikat (The Fed) baru saja menaikkan suku bunga 25 basis poin menjadi 3,75-4,00 persen pada September 2026.
Meski demikian, BI memilih menahan suku bunga acuan di 5,75 persen. Pertimbangannya, inflasi domestik masih terkendali: inflasi inti berada di sekitar 2 persen, sementara inflasi umum tercatat 3,19 persen yang menurut BI lebih banyak dipicu komponen harga pangan bergejolak, bukan lonjakan permintaan. Destry menegaskan pengendalian inflasi pangan membutuhkan kolaborasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan otoritas terkait, bukan hanya instrumen suku bunga.
Dengan rupiah yang terus mendekati level Rp18.000 per dolar AS, pasar kini menanti keberhasilan bauran kebijakan BI tersebut dalam meredam tekanan tanpa harus mengorbankan pertumbuhan ekonomi. Mandat ganda BI — menjaga stabilitas rupiah sekaligus mendorong pertumbuhan sesuai Undang-Undang P2SK — membuat ruang gerak bank sentral semakin sempit dalam beberapa bulan ke depan.
Sumber
- Rupiah pada Selasa pagi melemah jadi Rp17.997 per dolar AS — Antara
- Pilihan Sulit BI Selamatkan Rupiah Tanpa Korbankan Ekonomi RI — CNBC Indonesia
- BI Kurangi Intervensi di Pasar Valas, Maksimalkan Instrumen Lain Jaga Rupiah — Kumparan