BI Rate Diproyeksi Bertahan 5,75 Persen, Rupiah Tertekan Arus Modal Keluar
LPEM FEB UI memproyeksikan BI menahan suku bunga acuan 5,75 persen di RDG September 2026 di tengah tekanan rupiah dan kenaikan bunga The Fed.
BeritaFlash AI · · Ekonomi

Rangkuman
- LPEM FEB UI memproyeksikan BI Rate tetap 5,75 persen pada pengumuman RDG, Rabu 23 September 2026 pukul 14.00 WIB.
- Inflasi Agustus 2026 naik ke 3,19 persen yoy; rupiah terdepresiasi 6,8 persen secara year to date.
- The Fed menaikkan bunga 25 bps ke 3,75-4,00 persen pada 16 September, kenaikan pertama sejak Juli 2023, sementara harga Brent menembus 100 dolar AS.
JAKARTA — Bank Indonesia (BI) diperkirakan mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) September 2026. Hasil kebijakan itu dijadwalkan diumumkan Rabu (23/9/2026) pukul 14.00 WIB.
Proyeksi itu disampaikan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI). "Bank Indonesia diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya di level 5,75 persen pada September 2026," tulis riset LPEM FEB UI, dikutip dari Republika.
Salah satu pertimbangannya adalah inflasi yang naik menjadi 3,19 persen secara tahunan (yoy) pada Agustus 2026 dari 2,88 persen pada Juli, terutama didorong komponen harga bergejolak seperti daging ayam, cabai, dan beras. Ekonom LPEM FEB UI Teuku Riefky menilai tingkat inflasi itu masih berada dalam sasaran BI sebesar 1,5 hingga 3,5 persen dan belum menunjukkan tekanan permintaan domestik yang kuat. BI sebelumnya menaikkan BI Rate secara kumulatif 100 basis poin pada Mei hingga Juni 2026, sehingga dinilai masih punya ruang untuk menahan, menurut Kumparan.
Dari sisi perdagangan, neraca perdagangan Indonesia kembali surplus 121,9 juta dolar AS pada Juli 2026 setelah defisit 450,5 juta dolar AS pada Juni. Namun secara kumulatif Januari hingga Juli 2026, surplus hanya 3,70 miliar dolar AS, turun 84,4 persen dibandingkan 23,77 miliar dolar AS pada periode yang sama tahun lalu.
Tekanan justru datang dari eksternal. Bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve, menaikkan suku bunga acuannya 25 basis poin menjadi 3,75 hingga 4,00 persen pada 16 September 2026 — kenaikan pertama sejak Juli 2023. Kondisi itu terjadi di tengah kembali meningkatnya konflik di Timur Tengah yang mendorong harga minyak Brent menembus 100 dolar AS per barel.
Riefky mengatakan kombinasi kenaikan bunga The Fed dan harga energi menekan rupiah. Secara kumulatif, Mata Uang Garuda telah terdepresiasi 6,8 persen secara year to date, meski sempat menguat ke kisaran Rp 17.500 hingga Rp 17.600 per dolar AS pada pekan kedua September. Pasar keuangan kemudian mencatat arus modal keluar seiring menguatnya ekspektasi kenaikan suku bunga AS.
Meski begitu, Indonesia dinilai punya bantalan eksternal yang cukup kuat. Cadangan devisa pada Agustus 2026 naik menjadi 146,5 miliar dolar AS dari 145,3 miliar dolar AS pada bulan sebelumnya.
"Dengan mempertimbangkan berbagai perkembangan tersebut, kami berpandangan bahwa Bank Indonesia sebaiknya mempertahankan suku bunga acuannya di 5,75 persen pada RDG September 2026," demikian pernyataan LPEM FEB UI. Sindonews melaporkan pasar juga meramalkan BI menahan bunga di tengah tekanan rupiah. Pengumuman resmi RDG pada siang ini akan mengonfirmasi apakah proyeksi para ekonom tersebut terbukti.
Sumber
- BI Diperkirakan Pertahankan Suku Bunga 5,75 Persen, Rupiah Menguat — Republika
- BI Rate Diproyeksi Tetap 5,75 Persen di Tengah Tekanan Rupiah dan Global — Kumparan
- Rupiah Tertekan, BI Diramal Masih Tahan Suku Bunga di Level 5,75% — Sindonews