BI Perkuat Intervensi Triple untuk Stabilkan Nilai Tukar Rupiah
BI melakukan intervensi triple (triple intervention) pada transaksi spot dan domestic non-deliverable forward (DNDF) di pasar domestik, transaksi non-deliverable forward (NDF) di pasar luar negeri (offshore), serta pembelian surat berharga negara (SBN) di pasar sekunder.
Oleh Adi Rahmadi · · Ekonomi

Rangkuman
- Nilai tukar rupiah melemah 9 poin atau 0,05 persen ke level Rp18.089 per dolar AS pada pembukaan perdagangan Senin, 26 Oktober 2026, melanjutkan tren pelemahan sejak menembus level Rp18.000 pada 16 Oktober lalu.
- Bank Indonesia memperkuat strategi stabilisasi melalui intervensi triple: transaksi spot dan DNDF di pasar domestik, NDF di pasar luar negeri, serta pembelian SBN di pasar sekunder.
- BI menyebut pelemahan rupiah sejalan dengan mata uang kawasan dan menegaskan cadangan devisa tetap kuat di US$146,3 miliar per akhir September 2026, sementara insentif term premium sejak Juni 2026 telah menarik aliran modal asing US$9,9 miliar.
JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah pada pembukaan perdagangan Senin, 26 Oktober 2026. Dikutip dari Antara, rupiah bergerak turun 9 poin atau 0,05 persen menjadi Rp18.089 per dolar AS, dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp18.080 per dolar AS.
Pelemahan ini melanjutkan tren tekanan terhadap mata uang Garuda sejak menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS pada 16 Oktober 2026 lalu. Mengutip data dari Bisnis, rupiah bahkan diprediksi bergerak menuju level Rp18.200 per dolar AS dalam perdagangan hari ini seiring penguatan dolar AS.
Berdasarkan data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) dan kurs transaksi Bank Indonesia, nilai tukar rupiah pada 26 Oktober 2026 tercatat di kisaran Rp17.978 hingga Rp18.159 per dolar AS.
Langkah Bank Indonesia Perkuat Rupiah
Di tengah tekanan berkelanjutan, Bank Indonesia (BI) menegaskan komitmennya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui serangkaian langkah strategis. Dikutip dari BeritaSatu, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea menyatakan tekanan terhadap pasar keuangan domestik berpotensi berlanjut seiring arus keluar dana dari aset portofolio Indonesia.
"Di tengah meningkatnya sentimen risk-off global yang mendorong penguatan dolar AS dan menekan pasar keuangan domestik, arus keluar dana dari aset portofolio domestik diperkirakan masih berlanjut," ujar Erwin dalam keterangan tertulisnya.
Untuk meredam tekanan, BI melanjutkan intervensi melalui kombinasi instrumen di pasar keuangan, baik di dalam maupun luar negeri. Strategi yang dikenal sebagai intervensi triple (triple intervention) ini mencakup transaksi spot dan domestic non-deliverable forward (DNDF) di pasar domestik, transaksi non-deliverable forward (NDF) di pasar luar negeri (offshore), serta pembelian surat berharga negara (SBN) di pasar sekunder untuk menjaga stabilitas pasar surat utang.
BI juga menjaga kecukupan likuiditas serta mengelola struktur suku bunga di pasar uang untuk mendukung stabilitas pasar keuangan. Selain itu, bank sentral memperkuat koordinasi dan komunikasi dengan korporasi dan pelaku pasar untuk memastikan mekanisme pasar berjalan baik.
Dari sisi kebijakan moneter, BI mempertahankan suku bunga acuan (BI-Rate) di level 5,75 persen dengan suku bunga lending facility 6,50 persen sebagai bagian dari strategi memperkuat stabilitas rupiah. Sejak 2 Juni 2026, BI juga menerapkan ketentuan threshold tunai pembelian valas terhadap rupiah tanpa underlying sebesar 25.000 dolar AS per pelaku untuk mengurangi tekanan spekulatif di pasar valas.
Salah satu instrumen andalan BI adalah kebijakan insentif term premium yang diterapkan sejak Juni 2026. Kebijakan ini dilaporkan berhasil menarik aliran masuk modal asing sebesar 9,9 miliar dolar AS hingga 20 Oktober 2026, membantu menopang permintaan aset rupiah.
Fundamental Ketahanan Eksternal Masih Terjaga
Meski rupiah melemah, BI menilai pergerakannya masih sejalan dengan mata uang negara-negara kawasan. Pelemahan rupiah tercatat terbatas sebesar 0,28 persen secara quarter-to-date (QTD).
BI juga memastikan posisi cadangan devisa Indonesia tetap terjaga di level 146,3 miliar dolar AS pada akhir September 2026. Cadangan devisa ini menjadi penopang utama ketahanan eksternal dalam menghadapi gejolak keuangan global dan menjaga stabilitas nilai tukar.
Sebelumnya, rupiah juga mendapat tekanan dari faktor domestik, yakni kombinasi harga minyak dunia yang tinggi — yang sempat menembus 111,40 dolar AS per barel akibat ketegangan di Timur Tengah — serta lonjakan harga pangan yang menambah beban fiskal Indonesia sebagai negara pengimpor minyak bersih.
Ke depan, BI menyatakan akan terus memantau kondisi pasar serta menjalankan langkah stabilisasi untuk menjaga nilai tukar rupiah bergerak sesuai fundamental ekonomi Indonesia.
Sumber
- Rupiah pada Senin pagi melemah 9 poin jadi Rp18.089 per dolar AS — Antara
- Rupiah Jebol Rp 18.000, BI Siap Intervensi Pasar Valas — BeritaSatu
- Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS Hari Ini, Senin 26 Oktober 2026 — Bisnis
- Rupiah Melemah ke Rp18.085 per Dolar AS Hari Ini, 26 Oktober 2026 — Tirto
Berita terkait
- Singapura Siap Tempuh Upaya Hukum Respons Pangkas Ekspor Gas Indonesia, EMA: Cadangan Energi Aman
- Rupiah Ditutup Melemah ke Rp18.080 per Dolar AS, Tertekan Lonjakan Harga Minyak Dunia
- Daya Beli Kelas Menengah Tertekan, Konsumsi Rumah Tangga Jadi Sorotan
- Kelas Menengah Tertekan, Mesin Konsumsi Ekonomi Indonesia Kehilangan Tenaga
- Realisasi Investasi 2 Tahun Prabowo Tembus Rp3.923 Triliun