Rupiah Ditutup Melemah ke Rp18.080 per Dolar AS, Tertekan Lonjakan Harga Minyak Dunia
Oleh Adi Rahmadi · · Ekonomi

Rangkuman
- Nilai tukar rupiah ditutup melemah 20 poin atau 0,11 persen ke level Rp18.080 per dolar AS pada perdagangan Jumat, 23 Oktober 2026.
- Pelemahan dipicu lonjakan harga minyak dunia setelah serangan drone Houthi ke fasilitas minyak Arab Saudi, dengan Brent menembus 111,40 dolar AS per barel.
- Analis memprediksi rupiah bergerak fluktuatif dan berpotensi melemah di rentang Rp18.080 hingga Rp18.130 per dolar AS pada perdagangan berikutnya.
JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada akhir perdagangan Jumat, 23 Oktober 2026. Dikutip dari Okezone, rupiah tergerus 20 poin atau sekitar 0,11 persen ke level Rp18.080 per dolar AS.
Sebelumnya, dikutip dari Kompas TV, rupiah sudah dibuka melemah 14 poin atau 0,08 persen ke Rp18.074 per dolar AS pada pembukaan perdagangan, dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp18.060 per dolar AS.
Pelemahan rupiah terjadi di tengah lonjakan harga minyak dunia yang dipicu meningkatnya kekhawatiran terhadap keamanan pasokan energi akibat eskalasi ketegangan di Timur Tengah.
Analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan salah satu sentimen datang dari eksternal, yakni kekhawatiran akan adanya gangguan lebih lanjut pada pasokan energi menyusul serangan kelompok Houthi terhadap Arab Saudi.
Saudi Aramco pada Kamis memerintahkan evakuasi kantor pusatnya di Dhahran, yang terletak di kawasan Teluk dekat Bahrain, seiring meningkatnya pertempuran antara eksportir minyak mentah terbesar di dunia tersebut dan kelompok Houthi yang berbasis di Yaman.
"Bentrokan antara kelompok Houthi dan koalisi pimpinan Arab Saudi yang mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional terus berkecamuk sejak kelompok Houthi yang berafiliasi dengan Iran bergerak maju menuju Bab el-Mandeb, sebuah jalur pelayaran strategis di mulut Laut Merah," tulis Ibrahim dalam risetnya, dikutip dari Okezone.
Dikutip dari Kompas TV, harga minyak dunia naik lebih dari 2 persen pada Kamis, 22 Oktober 2026, setelah serangan pesawat nirawak atau drone terhadap ladang minyak Shaybah milik Saudi Aramco meningkatkan kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan energi. Minyak mentah Brent yang menjadi acuan internasional diperdagangkan pada level 111,40 dolar AS per barel atau naik 2,4 persen. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) asal AS naik 2,22 persen menjadi 99,30 dolar AS per barel.
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai kenaikan harga minyak global menjadi salah satu faktor yang menekan nilai tukar rupiah. "Harga minyak melonjak menyusul pernyataan kelompok Houthi (Ansarullah Yaman) yang mengumumkan rencana untuk menyerang infrastruktur minyak Arab Saudi di Yanbu dan Bandara Dammam," ucap Josua mengutip Antara.
Dari sisi domestik, Ibrahim menjelaskan kombinasi antara harga minyak yang tinggi dan lonjakan harga pangan menimbulkan guncangan ganda (double shock) yang secara langsung menekan ketahanan fiskal dan stabilitas ekonomi nasional.
Sebagai negara pengimpor bersih minyak (net oil importer), kenaikan harga minyak mentah internasional di atas asumsi makro APBN secara otomatis melipatgandakan kebutuhan belanja negara untuk subsidi BBM dan LPG serta kompensasi energi. Setiap kenaikan Indonesian Crude Price (ICP) memperlebar defisit APBN.
"Dalam hal tersebut Pemerintah dihadapkan pada pilihan sulit (fiscal space) yaitu menahan harga energi domestik yang berisiko memperlebar defisit APBN atau menyesuaikan harga energi domestik tetapi akan berdampak terhadap inflasi sehingga akan memberatkan masyarakat," jelas Ibrahim.
Tingginya impor energi juga meningkatkan kebutuhan devisa dolar AS yang menekan nilai tukar rupiah. Pelemahan mata uang berisiko memperbesar biaya pembayaran imbal hasil (yield) dan pokok utang luar negeri, serta membuat daya beli masyarakat menurun, terutama kelompok menengah ke bawah.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp18.080 hingga Rp18.130 per dolar AS.
Sumber
- Rupiah Ditutup Melemah ke Rp18.080 per Dolar AS — Okezone
- Rupiah Hari Ini 23 Oktober 2026 Melemah ke Rp18.074, Tertekan Harga Minyak Dunia — Kompas TV
- Rupiah Spot Ditutup Melemah 0,11% ke Rp18.080 per Dolar AS pada Jumat 23 Oktober 2026 — Kontan
Berita terkait
- Daya Beli Kelas Menengah Tertekan, Konsumsi Rumah Tangga Jadi Sorotan
- Kelas Menengah Tertekan, Mesin Konsumsi Ekonomi Indonesia Kehilangan Tenaga
- Realisasi Investasi 2 Tahun Prabowo Tembus Rp3.923 Triliun
- IHSG Tembus 4.996, Prabowo Panggil Menteri Ekonomi hingga Gubernur BI
- Dua Hari Usai Blackout Batam, Dirut PLN Darmawan Prasodjo Dicopot Lewat RUPSLB Malam Hari