IHSG Anjlok 3 Persen ke 5.121 Tertekan Keputusan The Fed, Rupiah Justru Menguat ke Rp18.125
Oleh Adi Rahmadi · · Ekonomi

Rangkuman
- IHSG anjlok 3,04 persen ke level 5.121,97 pada perdagangan Kamis (29/10/2026), berbalik arah dari pembukaan yang menguat ke 5.305,20, dengan saham BBCA jatuh 5,7 persen sebagai pemberat utama indeks.
- Pelemahan dipicu keputusan The Fed mempertahankan suku bunga di 3,75-4,00 persen yang tidak bulat, dengan dua pejabat mendukung kenaikan 25 basis poin dan pasar memperkirakan peluang kenaikan Desember sekitar 80 persen.
- Rupiah justru menguat 0,28 persen ditutup di Rp18.125 per dolar AS, berbalik arah setelah sempat tertekan mendekati Rp18.200 dan Bank Indonesia melakukan intervensi.
JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 3,04 persen ke level 5.121,97 pada perdagangan Kamis (29/10/2026), tertekan keputusan Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) mempertahankan suku bunga dengan sinyal hawkish. Di sisi lain, rupiah justru menguat 0,28 persen ditutup di Rp18.125 per dolar AS.
IHSG sebenarnya dibuka menguat di level 5.305,20, naik 22,89 poin atau 0,43 persen dari penutupan kemarin di 5.282,31, dan sempat menyentuh titik tertinggi 5.320,90. Namun indeks berbalik arah dan merosot tajam pada sekitar satu jam pertama perdagangan hingga menembus area 5.200 sebelum pukul 10.00 WIB, dikutip dari CNBC Indonesia.
Memasuki sesi siang, pergerakan cenderung mendatar di kisaran 5.140 hingga 5.180, sebelum kembali tertekan sekitar pukul 14.00 WIB. Titik terendah hari ini tercatat di 5.118,28. Pada sesi pertama, IHSG ditutup turun 2,6 persen ke 5.142.
Saham Pemberat Indeks
Berdasarkan data Refinitiv, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) anjlok 5,7 persen di posisi Rp4.970 per saham dengan kapitalisasi pasar Rp606,5 triliun, menjadi pemberat indeks. Saham pemberat lainnya adalah PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), PT Astra International Tbk (ASII), dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN).
Sementara saham penahan koreksi di antaranya PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY), PT Temas Tbk (TMAS), PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS), dan PT Bali Towerindo Sentra Tbk (BALI). Volume transaksi tercatat 173,2 juta lot dengan nilai transaksi Rp7,39 triliun.
Dipicu Keputusan The Fed
Pelemahan IHSG terutama dipicu keputusan The Fed mempertahankan suku bunga acuan di level 3,75-4,00 persen pada Kamis (29/10/2026) yang tidak bulat. Dua pejabat, Lisa Cook dan Beth Hammack, mendukung kenaikan 25 basis poin.
Ketua The Fed Kevin Warsh menolak memberi sinyal arah kebijakan berikutnya, seraya menegaskan bank sentral masih berupaya mengembalikan inflasi ke target 2 persen. Pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada Desember mencapai sekitar 80 persen, sementara imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun naik ke 5,042 persen setelah keputusan diumumkan.
Pasar juga menantikan rilis data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) AS September 2026 pada Kamis malam pukul 19.30 WIB, serta keputusan suku bunga Bank Sentral Eropa (ECB) pukul 20.15 WIB. Lonjakan imbal hasil SBN domestik juga menjadi perhatian pelaku pasar.
Rupiah Justru Menguat
Berbeda dengan bursa saham, rupiah menguat 0,28 persen dengan dolar AS ditutup turun ke Rp18.125, dikutip dari CNBC Indonesia. Rupiah dibuka menguat di Rp18.170-Rp18.173 per dolar AS pada pagi hari.
Penguatan ini berbalik arah setelah rupiah melemah pada perdagangan Rabu (28/10) yang ditutup di Rp18.184 per dolar AS, dan sempat tertekan mendekati level Rp18.200. Bank Indonesia dilaporkan melakukan intervensi dan menyerap SBN untuk stabilisasi, dikutip dari Bisnis.
Dalam sepekan terakhir, rupiah tertahan di atas Rp18.100 per dolar AS di tengah sentimen negatif, termasuk ancaman downgrade dari MSCI terhadap pasar saham Indonesia. Pelaku pasar kini menanti kombinasi hasil data inflasi PCE AS dan keputusan ECB malam ini sebagai penentu arah pasar keuangan domestik pada perdagangan Jumat.
Sumber
- Breaking! IHSG Anjlok 3%, Saham BCA Turun 5%, Ini Penyebabnya — CNBC Indonesia
- Rupiah Menguat 0,28%, Dolar AS Ditutup Turun ke Rp18.125 — CNBC Indonesia
- Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Hari Ini, Kamis 29 Oktober 2026 — Bisnis
- Sentimen Negatif Masih Banyak, Rupiah Betah di Atas Rp18.100 per Dolar AS — Tribunnews
Berita terkait
- Rupiah Melemah ke Rp18.135 per Dolar AS Tertekan Harga Minyak Dunia
- Singapura Siap Tempuh Upaya Hukum Respons Pangkas Ekspor Gas Indonesia, EMA: Cadangan Energi Aman
- IHSG Melemah ke 5.420 di Tengah Konsultasi MSCI
- BI Perkuat Intervensi Triple untuk Stabilkan Nilai Tukar Rupiah
- Rupiah Ditutup Melemah ke Rp18.080 per Dolar AS, Tertekan Lonjakan Harga Minyak Dunia