Rob Kian Sering Menggenangi Pesisir Utara Jawa, Warga Tinggikan Rumah Berulang Kali
Banjir rob yang datang hampir setiap bulan memaksa warga pesisir menguras tabungan untuk meninggikan lantai rumah, sementara solusi jangka panjang masih berjalan lambat.
BeritaFlash AI · · Lokal
Rangkuman
- Banjir rob di sejumlah desa pesisir utara Jawa kini terjadi hampir setiap siklus pasang purnama, bukan lagi musiman.
- Warga menempuh cara swadaya dengan meninggikan lantai rumah hingga beberapa kali dalam satu dekade, dengan biaya puluhan juta rupiah.
- Pemerintah daerah mendorong kombinasi tanggul, pompa, dan rehabilitasi mangrove, namun penurunan muka tanah dinilai menjadi tantangan terbesar.
Genangan air laut yang masuk ke permukiman atau yang dikenal sebagai banjir rob kembali menjadi persoalan utama warga di sejumlah desa pesisir utara Jawa. Berbeda dengan satu dekade lalu ketika rob dianggap gejala musiman, kini genangan kerap muncul mengikuti siklus pasang purnama setiap bulan. Air masuk ke rumah pada pagi hari, surut menjelang sore, lalu kembali keesokan harinya selama beberapa hari berturut-turut.
Sejumlah warga mengaku telah meninggikan lantai rumah lebih dari sekali. "Rumah saya sudah tiga kali ditinggikan sejak 2015. Sekarang tinggi plafon tinggal satu setengah meter," ujar seorang warga desa pesisir yang ditemui di lokasi genangan. Biaya peninggian lantai untuk rumah berukuran sedang disebut berkisar puluhan juta rupiah, angka yang berat bagi keluarga nelayan dan buruh tambak dengan penghasilan tidak menentu.
Dampak rob tidak berhenti pada kerusakan bangunan. Lahan tambak yang tergenang air payau berlebih membuat produktivitas budi daya bandeng dan udang menurun. Akses jalan desa yang terendam juga mengganggu distribusi hasil tangkapan ke pasar, sementara sebagian anak sekolah harus menempuh jalan memutar atau meliburkan diri saat pasang tinggi. Beberapa keluarga memilih pindah ke daerah yang lebih tinggi, meninggalkan rumah yang tenggelam separuh badan.
Pemerintah daerah di kawasan terdampak umumnya menempuh tiga pendekatan: pembangunan tanggul dan sistem polder, pengoperasian pompa air, serta rehabilitasi hutan mangrove sebagai penahan gelombang alami. Namun sejumlah akademisi kebencanaan menilai upaya tersebut belum menyentuh akar persoalan, yaitu penurunan muka tanah yang dipicu pengambilan air tanah berlebihan serta beban bangunan di kawasan pesisir. Tanpa pengendalian eksploitasi air tanah dan penyediaan air bersih perpipaan yang memadai, tanggul setinggi apa pun dinilai hanya menunda masalah.
Organisasi masyarakat sipil yang bekerja di kawasan pesisir mendorong agar penanganan rob diperlakukan sebagai agenda adaptasi jangka panjang, bukan respons darurat tahunan. Usulan yang mengemuka mencakup pemetaan zona rawan yang diperbarui secara berkala, skema bantuan peninggian rumah berbasis kelompok, serta pengembangan mata pencaharian alternatif bagi warga yang lahan tambaknya tidak lagi produktif.
Bagi warga pesisir sendiri, persoalannya lebih sederhana dan mendesak: kepastian bahwa rumah yang mereka tinggali masih layak dihuni lima atau sepuluh tahun mendatang. Selama jawaban itu belum tersedia, mereka akan terus mengumpulkan uang untuk sekali lagi meninggikan lantai, sekaligus menunggu kebijakan yang mampu menahan laju air laut yang perlahan merangsek ke ruang tamu mereka.