PLTP Gunung Ungaran Jadi Polemik: Warga Tolak, PLN Sebut Masih Kajian

Rencana PLTP Gunung Ungaran 55 MW memicu penolakan warga dan petisi ribuan tanda tangan karena ancam sumber air dan Candi Gedong Songo.

BeritaFlash AI · · Lokal

PLTP Gunung Ungaran Jadi Polemik: Warga Tolak, PLN Sebut Masih Kajian
Foto: Gunung Ungaran dilihat dari Kota Ungaran, Kabupaten Semarang. Rencana proyek PLTP 55 MW di gunung ini memicu penolakan warga. · M.akbar.raf · CC BY-SA 4.0

Rangkuman

SEMARANG — Rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) di Gunung Ungaran, Jawa Tengah, memicu polemik dan gelombang penolakan warga hingga menjadi salah satu topik paling ramai dibicarakan di media sosial X sepanjang Jumat (25/9/2026). Tagar PLTPGunungUngaran, Geothermal, dan KabarJateng menempati urutan teratas trending topic Indonesia, mencerminkan besarnya perhatian publik terhadap nasib gunung yang menjadi penopang hidup warga Kabupaten Semarang dan sekitarnya itu.

Proyek ini direncanakan berkapasitas sekitar 55 megawatt, sesuai potensi panas bumi Ungaran-Telomoyo yang tercantum dalam Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL). Pemerintah Provinsi Jawa Tengah sebelumnya menyebut potensi pengembangan panas bumi Gunung Ungaran mencapai 55 MW, dengan investasi diperkirakan sekitar 300 juta dolar AS dan pengeboran ditargetkan mulai akhir 2028. Namun rencana itu ditolak sebagian warga sejak awal karena lokasinya berada di kawasan hulu yang memiliki situs budaya Candi Gedong Songo.

Penolakan warga terorganisasi lewat Aliansi Semar Gugat, gabungan komunitas dan masyarakat dari lereng Gunung Ungaran dan Gunung Telomoyo. Pada 2 September 2026, aliansi ini menggelar konsolidasi di Camp Kendalisodo, Glodogan, Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang. Koordinator aliansi yang akrab disapa Mbah Rahman mengatakan kawasan itu selama ini menjadi penopang kehidupan petani yang bergantung pada kelestarian ekosistem, kesuburan lahan, dan ketersediaan air bersih. "Kami khawatir proyek geothermal akan menyebabkan dampak kerusakan lingkungan dan bahkan akan bisa membunuh tanaman yang ada," ujarnya, dikutip dari beritajateng.tv.

Aliansi menilai aktivitas pengeboran berisiko mengganggu ekosistem, mencemari sumber air bersih, dan mengancam mata pencaharian warga yang mayoritas bertani. Mereka juga menyoroti potensi dampak terhadap Candi Gedong Songo, situs sejarah yang sekaligus menjadi tulang punggung pariwisata warga sekitar. Gelombang penolakan juga mengalir lewat petisi daring. Petisi bertajuk penyelamatan Gunung Ungaran dari pengeboran yang mengancam sumber air telah diteken lebih dari 10 ribu orang, sementara petisi penolakan lain diikuti hampir 5 ribu tanda tangan, menurut Tribun Jateng.

WALHI turut mempertanyakan urgensi proyek ini. Menurut catatan mereka, sistem kelistrikan Jawa Tengah dan DIY justru sedang surplus sekitar 2.200 MW, sehingga alasan kebutuhan energi dinilai lemah. Kekhawatiran serupa disuarakan akademisi. FISIP Universitas Diponingoro membuka ruang dialog untuk mencari solusi bersama atas polemik mega proyek geothermal di kawasan Gedongsongo, menurut Suara Merdeka.

Menjawab gelombang penolakan, PT PLN (Persero) menegaskan proyek masih berada dalam tahap perencanaan dan studi kelayakan. "Saat ini rencana tersebut masih dalam tahap perencanaan dan belum memasuki tahap konstruksi maupun pengeboran," kata Senior Manager Perijinan, Pertanahan dan Komunikasi PLN UIP Jawa Bagian Tengah, Ferdyan Hijrah Kusuma, dalam pernyataannya di Semarang, dikutip dari Antara. Ia menambahkan, PLN menghormati aspirasi masyarakat dan setiap tahapan akan mengacu pada hasil kajian teknis, keselamatan, lingkungan, sosial, tata ruang, perizinan, hingga pelestarian cagar budaya.

PLN juga memastikan aspek kebutuhan air dan potensi dampaknya terhadap lingkungan menjadi bagian dari kajian sebelum proyek memasuki tahap berikutnya. Sebelum menentukan lokasi sumur, penelitian geologi dan geofisika akan dilakukan untuk memahami kondisi batuan, air, panas, dan struktur bawah permukaan. Kementerian ESDM sebelumnya berkomitmen menjaga kawasan cagar budaya dalam pengembangan panas bumi Ungaran dan menyebut pengembangan dilakukan bertahap.

Meski demikian, warga dan pegiat lingkungan belum yakin. Bagi mereka, pengalaman proyek ekstraktif di berbagai daerah menunjukkan kajian di atas kertas kerap berbeda dengan kenyataan di lapangan. Dengan dukungan puluhan ribu tanda tangan petisi dan solidnya aliansi lintas desa, polemik PLTP Gunung Ungaran tampaknya masih akan panjang — dan PLN maupun pemerintah dituntut lebih transparan sebelum satu pun bor menyentuh tanah Ungaran.

Sumber

  1. PLN sebut PLTP Gunung Ungaran masih tahap kajian — Antara
  2. Gelar Konsolidasi, Aliansi Semar Gugat Tolak Rencana Proyek Geotermal Gunung Ungaran dan Telomoyo — BeritaJateng.tv
  3. Central Java's abundant electricity supply raises questions about the urgency of the geothermal project on Mount Ungaran — Kompas
  4. PLTP Gunung Ungaran Jadi Polemik, Undip Buka Ruang Dialog soal Energi, Lingkungan, dan Candi Gedongsongo — Suara Merdeka

Berita terkait