Normalisasi Kali Tersendat, Warga Bantaran Hadapi Musim Hujan dengan Cemas

Proyek normalisasi sungai di sejumlah kawasan padat penduduk belum rampung menjelang puncak musim hujan, memicu kekhawatiran warga akan banjir berulang.

Oleh · · Lokal

Normalisasi Kali Tersendat, Warga Bantaran Hadapi Musim Hujan dengan Cemas
Foto: Antara · Antara

Rangkuman

Memasuki puncak musim hujan, kecemasan kembali menyelimuti warga yang tinggal di bantaran kali pada sejumlah kawasan padat penduduk. Proyek normalisasi sungai yang dijanjikan rampung tahun ini nyatanya masih menyisakan pekerjaan di beberapa segmen, terutama pada ruas yang bersinggungan langsung dengan permukiman dan bangunan semipermanen.

Di lapangan, pemandangan kontras terlihat jelas. Pada segmen yang telah ditangani, dinding turap beton berdiri rapi dengan jalan inspeksi di sisinya. Namun hanya berjarak beberapa ratus meter, tanggul masih berupa tumpukan karung pasir dan susunan bambu yang diikat seadanya oleh warga. Di titik inilah luapan air kerap terjadi lebih dulu ketika hujan deras mengguyur selama lebih dari dua jam.

Sejumlah warga menyebut persoalan utama bukan pada kemauan mereka untuk pindah, melainkan pada kejelasan skema ganti rugi dan lokasi relokasi. Mereka mengaku telah beberapa kali mengikuti pertemuan dengan petugas kelurahan, tetapi belum memperoleh kepastian waktu. Sembari menunggu, warga menempuh langkah mandiri: meninggikan lantai rumah, memindahkan instalasi listrik ke posisi lebih tinggi, serta menghidupkan kembali jadwal ronda banjir pada malam hari.

Dari sisi pemerintah daerah, kendala pembebasan lahan diakui menjadi penghambat terbesar, di samping keterbatasan ruang fiskal dalam anggaran tahun berjalan. Sebagai langkah antara, dinas terkait menyatakan memfokuskan pekerjaan pada pengerukan sedimen di titik-titik penyempitan, perbaikan pintu air, serta penambahan unit pompa mobile yang dapat dipindahkan sesuai kebutuhan di lokasi rawan genangan.

Kalangan pemerhati tata kota menilai pendekatan yang bertumpu pada pembangunan fisik semata tidak akan memadai tanpa pembenahan drainase lingkungan dan pengendalian alih fungsi lahan di kawasan hulu. Penanganan banjir, menurut mereka, menuntut koordinasi lintas wilayah karena aliran sungai tidak mengenal batas administratif. Tanpa itu, pekerjaan normalisasi di hilir berisiko hanya memindahkan titik genangan.

Badan penanggulangan bencana daerah mengimbau warga di kawasan rawan untuk menyiapkan tas siaga berisi dokumen penting, obat-obatan, dan pakaian ganti, serta memastikan jalur evakuasi terdekat dapat diakses. Posko kesiapsiagaan disebut telah diaktifkan di sejumlah kelurahan, lengkap dengan perahu karet dan logistik dasar, guna mempercepat respons apabila ketinggian air melewati ambang siaga.

Topik

Berita terkait