Konsumsi Rumah Tangga Melambat, Kelas Menengah Jadi Titik Rawan Ekonomi
Penyusutan jumlah kelas menengah dan tekanan biaya hidup membuat mesin utama pertumbuhan ekonomi Indonesia kehilangan tenaga.
BeritaFlash AI · · Ekonomi

Rangkuman
- Konsumsi rumah tangga yang menyumbang lebih dari separuh Produk Domestik Bruto tumbuh di bawah laju pertumbuhan ekonomi nasional.
- Data Badan Pusat Statistik menunjukkan jumlah penduduk kelas menengah menyusut dibanding kondisi sebelum pandemi, sementara kelompok rentan membesar.
- Ekonom mendorong perbaikan kualitas lapangan kerja dan penguatan bantalan sosial agar pemulihan daya beli tidak bergantung pada belanja pemerintah semata.
JAKARTA — Perlambatan konsumsi rumah tangga kembali menjadi sorotan pelaku ekonomi dalam negeri. Sebagai komponen terbesar Produk Domestik Bruto dengan kontribusi lebih dari separuh total perekonomian, belanja masyarakat selama beberapa kuartal terakhir tumbuh pada kisaran di bawah laju pertumbuhan ekonomi nasional yang bertahan di sekitar lima persen. Kondisi tersebut menandakan mesin utama pertumbuhan tidak lagi berputar sekencang periode sebelum pandemi.
Badan Pusat Statistik mencatat jumlah penduduk yang masuk kategori kelas menengah menyusut dibandingkan kondisi 2019, sementara kelompok menuju kelas menengah dan kelompok rentan justru membesar. Pergeseran tersebut berimplikasi langsung pada pola konsumsi: rumah tangga cenderung menahan pembelian barang tahan lama, menunda pembelian kendaraan dan properti, serta mengalihkan pengeluaran ke kebutuhan pokok, pendidikan, dan kesehatan.
Indikator di lapangan memperlihatkan gejala serupa. Penjualan ritel tumbuh terbatas, sementara sejumlah pelaku industri manufaktur padat karya melaporkan permintaan domestik yang belum pulih sepenuhnya. Di sisi lain, simpanan masyarakat pada rekening bernilai kecil tumbuh melambat, sebuah sinyal yang kerap dibaca ekonom sebagai indikasi rumah tangga menggerus tabungan untuk menutupi kebutuhan sehari-hari.
Sejumlah ekonom menilai akar persoalan bukan semata pada harga, melainkan pada kualitas penciptaan lapangan kerja. Pertumbuhan pekerjaan formal dengan upah layak dinilai belum sebanding dengan jumlah angkatan kerja baru yang masuk pasar setiap tahun, sehingga sebagian besar penyerapan tenaga kerja terjadi di sektor informal dengan pendapatan yang tidak menentu. Tanpa perbaikan di sisi ini, kenaikan konsumsi berisiko hanya bersifat musiman dan bergantung pada momentum hari besar keagamaan.
Pemerintah selama ini mengandalkan kombinasi bantuan sosial, program prioritas berbasis belanja negara, serta insentif fiskal untuk menjaga daya beli. Namun para pengamat mengingatkan bahwa stimulus fiskal memiliki batas ruang gerak di tengah kebutuhan menjaga defisit anggaran dan beban pembayaran utang jatuh tempo. Kebijakan moneter yang lebih akomodatif melalui penurunan suku bunga acuan pun membutuhkan waktu sebelum transmisi terasa pada suku bunga kredit konsumsi.
Ke depan, perhatian tertuju pada sejauh mana perbaikan investasi mampu diterjemahkan menjadi lapangan kerja bergaji menengah, khususnya di sektor manufaktur dan ekonomi digital. Bagi kelas menengah, kepastian pendapatan, keterjangkauan biaya perumahan, serta perlindungan sosial yang tidak terputus saat kehilangan pekerjaan menjadi faktor penentu apakah mereka kembali membelanjakan pendapatannya atau terus bersikap defensif.