Sabtu, 15 Januari 2022 - 08:25 WIB

Wah, Perempuan China Diduga Jadi Mata-mata di Parlemen Inggris!


Wah, Perempuan China Diduga Jadi Mata-mata di Parlemen Inggris!

Jakarta - Dinas keamanan Inggris telah mengingatkan tentang seorang tersangka agen mata-mata China yang aktif di parlemen negara tersebut. Agen China itu disebut "secara sadar terlibat dalam kegiatan campur tangan politik" di dalam parlemen Inggris.

Dilansir dari kantor berita AFP, Jumat (14/1/2022), kantor Ketua House of Commons atau Majelis Rendah Parlemen Inggris, Lindsay Hoyle mengkonfirmasi bahwa pihaknya telah mengirim email kepada para anggota parlemen untuk memberi tahu mereka tentang insiden tersebut, dengan berkonsultasi dengan dinas keamanan.

"Ketua menangani keamanan anggota dan proses demokrasi dengan sangat serius, itulah sebabnya dia mengeluarkan pemberitahuan ini setelah berkonsultasi dengan dinas keamanan," kata juru bicara untuk Hoyle.

Kedutaan Besar China di London membantah tuduhan itu, dengan mengatakan "kami tidak perlu dan tidak pernah berusaha untuk 'membeli pengaruh' di parlemen asing mana pun.

"Kami dengan tegas menentang tipu muslihat dan intimidasi terhadap komunitas China di Inggris," tambahnya.

Dinas keamanan Inggris menyebut tersangka mata-mata tersebut sebagai Christine Lee. Disebutkan bahwa perempuan itu "secara sadar terlibat dalam kegiatan campur tangan politik atas nama United Front Work Department di Partai Komunis China".

Lee, pengacara yang berbasis di London itu dilaporkan menyumbangkan £200.000 kepada mantan anggota kabinet bayangan Partai Buruh, Barry Gardiner dan ratusan ribu poundsterling untuk partainya.

Mantan Perdana Menteri (PM) Inggris Theresa May -- yang partai Konservatifnya dituduh mengambil keuntungan dari jutaan uang Rusia -- memberikan penghargaan kepada Lee pada 2019 atas kontribusinya pada hubungan China-Inggris.

Lee juga pernah berfoto bersama pendahulu May, mantan PM David Cameron di sebuah acara pada tahun 2015, dan secara terpisah dengan mantan pemimpin Partai Buruh, Jeremy Corbyn.

Dalam pemberitahuan yang dikirimkan oleh kantor Hoyle kepada para anggota parlemen Inggris disebutkan bahwa, Lee "memfasilitasi sumbangan keuangan untuk para anggota parlemen dan calon anggota parlemen atas nama warga negara asing yang berbasis di Hong Kong dan China".

"Fasilitasi ini dilakukan secara diam-diam untuk menutupi asal usul pembayaran. Ini jelas merupakan perilaku yang tidak dapat diterima dan langkah-langkah sedang diambil untuk memastikan itu dihentikan," demikian disampaikan dalam pemberitahuan tersebut.

Iain Duncan Smith, mantan pemimpin Konservatif dan kritikus vokal Beijing, menuntut tindakan tegas setelah badan intelijen Inggris MI5 memperingatkan soal kegiatan Lee.

"Saya katakan, sebagai anggota parlemen yang telah diberi sanksi oleh pemerintah China, bahwa ini adalah masalah yang sangat memprihatinkan," katanya.

China tahun lalu memberlakukan sanksi terhadap 10 organisasi dan individu Inggris, termasuk Duncan Smith, atas apa yang disebutnya penyebaran "kebohongan dan disinformasi" tentang pelanggaran hak asasi manusia di Xinjiang.

Smith mengeluhkan Lee yang tidak ditangkap atau dideportasi, hanya dilarang masuk parlemen.

Mantan Menteri Pertahanan Inggris Tobias Ellwood mengatakan kepada Commons bahwa "ini adalah jenis gangguan zona abu-abu yang sekarang kita antisipasi dan harapkan dari China".

"Tapi fakta bahwa ini terjadi pada parlemen ini, harus ada rasa urgensi dari pemerintah ini," tegasnya.


Sumber : https://news.detik.com/internasional...ggris?single=1

Media Berita Terkini, Secepat Kilat!

© 2021 BeritaFlash. All Rights Reserved.