Selasa, 04 Januari 2022 - 18:11 WIB

Teror Varian Omicron dan Keajaiban Indonesia

OMICRON, varian mutakhir Covid-19, kini meneror seluruh umat dunia. Entah gelombang keberapa, yang pasti serangan varian baru Covid-19 sekarang bikin panik pemerintah di mana pun.

Mereka kembali pontang-panting mengatur ulang perencanaannya. Belum ada penelitian berapa prosentase jenis Omicron dalam penyebaran Covid-19 sekarang, namun pemerintah cepat pasang kuda-kuda. Seakan yang melakukan serangan semuanya varian Omicron.

Bayangkan, itu semua terjadi justru ketika semua negara bersiap memasuki tahun baru 2022 dengan harapan baru, kehidupan normal baru, segera memulihkan ekonomi, pembukaan border internasional, sekolah tatap muka 100 % --- tiba-tiba pecah kabar mengenai Omicron. Varian baru Covid-19 itu pertama kali diidentifikasi di Afrika.

Penularan Omicron, menurut para ahli memiliki kecepatan limakali lebih cepat dibandingkan varian Covid-19 sebelumnya. Namun, daya rusaknya masih disangsikan seganas varian Delta, misalnya.

Di Channel Realita TV bulan lalu, Siti Fadillah, mantan Menkes RI, hampir yakin Omicron tidak seganas Delta. Penilaian itu berdasar teori mendasar mengenai virus. Katanya, kecepatan Omicron berbanding terbalik dengan keganasannya.

Betulkah? Itulah yang sampai sekarang menjadi "utang" ilmuwan para peneliti virus yang belum ditunaikan.

Kasus fatal atau kematian akibat penularan Omicron memang belum tercatat besar. Bisa dihitung dengan jari.

Suri Adlina, putri bungsu saya yang bekerja di Melbourne, Australia, minggu lalu terpapar Covid-19 varian Omicron ini. Tiga hari merasakan kepala pusing, tenggorokan gatal, batuk dan lemas.

Dipandu petugas Kementerian Kesehatan Australia, dia diminta isolasi mandiri selama sepuluh hari di apartemennya. Diberikan panadol untuk meredakan pusing, dan obat batuk untuk meredakan tenggorokan gatal dan batuk.

Hari keempat, dia sudah merasakan kondisinya membaik. "Rasanya kaya kena flu," nilainya.

Dia malah sempat mengatakan, kadar Omicron ini di bawah flu berat. Tapi, saya sanksi, saya tahu, itu diutarakan dengan tujuan menenangkan orangtuanya supaya tidak panik.

Benar pun, tapi kesimpulan itu sangat sumir untuk jadi patokan. Suri Adlina masih muda, usia 26 tahun. Tidak punya penyakit bawaan. Bagaimana dengan pasien lanjut usia yang punya komorbid?

Jerman, Inggris, Rusia, Israel, AS, Saudi, Australia yang mendapat serangan balik Covid19 bulan lalu, sudah merasakan dahsyatnya kecepatan penularan Omicron. Angka penularan Covid-19 meningkat signifikan.

Data per 3 Januari di seluruh dunia, kasus baru Covid19 mencatat kenaikan angka cukup besar, sekarang: 2.363.665 pertanggal 3 Januari. Atau rata-rata dalam 7 hari: 1.568.986. Sebagian dicurigai Omicron, kalau tidak mau dikatakan sebagian besar.

Di AS saja pertanggal 3 Januari, mencatat angka tertinggi: 1.003.043. Rata-rata harian selama 7 hari: 478.869. Inggris: 136.228 jiwa. Perancis: 67.461. Australia: 30.000 pada hari sama. Padahal, dua minggu lalu, saya masih mencatat kasus harian Australia sekitar 1300 jiwa.

Tidak berlaku lockdown di sana meski mengalami kenaikan kasus. Pemerintah cukup percaya diri dengan vaksinasi warga yang sudah melebihi 80 %. Saya sudah bersiap mengunjugi Si Bungsu begitu border yang dijanjikan November tahun lalu, dibuka. Tapi, nyatanya tidak.

Menlu RI, Retno Marsudi, mengatakan sementara ini yang dibuka (baru saja) untuk pelajar dan pekerja musiman.

"Saya baru saja cek kembali kepada Pak Dubes," kata Menlu, Minggu (2/1) malam lewat japri di WA.

Empati Menlu

"Bagaimana kondisi Ananda, Pak? Please, let me know, jika ada yang dapat dibantu KJRI," sambung ibu Retno yang baik hati itu menunjukkan empatinya. Usai mengikuti tulisan saya, "Kisah Putri Bungsu Terpapar Omicron di Melbourne".

Keajaiban Indonesia

"Keajaiban" terjadi di Indonesia. Padahal, secara kasat mata kita menyaksikan betapa masyarakat euforia merespons penurunan drastis penularan Covid-19 di Tanah Air.

Meskipun dilarang, tetap saja mereka berkerumun merayakan liburan Natal dan Tahun Baru di rumah maupun di tempat umum. Di restoran, di mall, di jalan-jalan, euforia itu tampak kebablasan. Seakan sudah merdeka dari pandemi.

Secara angka-angka, dengan negara tetangga saja, Singapura dan Malaysia, yang tingkat kepatuhan warganya tinggi, Indonesia masih unggul.

Per tanggal 3 Januari, "hanya" 265 kasus, rata-rata harian selama seminggu: 222. (Singapura: 464 kasus baru dan Malaysia: 2.690).

Di Indonesia, Jakarta yang dominan, sekitar 50% dari kasus Nasional. Maklum. Ini Ibu Kota. Pintu gerbang Indonesia. Destinasi satu-satunya penerbangan asing. Wajar jika Omicron pertama kali ditemukan di sini.

Begitu pun data terakhir di Indonesia, masih " kecil", sekitar 168 jiwa yang terpapar varian itu.

Masih ingat awal Covid-19 menulari dua orang Indonesia pertama pada awal Maret 2020? Kurang dari sebulan, penularannya sudah mencapai 10 ribu jiwa.

Omicron di Indonesia ditemukan pertama kali pada diri seorang petugas di Wisma Atlet, 16 Desember. Penularannya relatif bisa dibendung dengan angka "hanya" 160-an. Sebagian sudah sembuh dan tidak ada kematian.

Diskriminasi

Yang kita tidak tahan di Tanah Air itu hanya gegernya. Bukin panik rakyat. Saling silang pendapat di tengah masyarakat. Antara otoritas versus pengamat. Tambah seru karena penanganan otoritas serba paradoks.

Koordinator penanganan Covid-19 Jawa Bali, Luhut Binsar Panjaitan, Selasa (4/1), mengumumkan Omicron sudah menyebar ke mana-mana. PPKM Jawa - Bali pun dinaikkan kembali levelnya ke Level 2.

Namun, saat bersamaan pemerintah memangkas masa karantina bagi pendatang dari luar negeri. Padahal, jelas-jelas varian itu dibawa pendatang dari luar negeri. Tadinya karantina 10 hari (dari negara yang bukan konsentrasi Omircon) menjadi 7 hari.

Sedangkan pendatang dari negara yang terkonsentrasi Omicron semula 14 hari menjadi 10 hari. Sementara itu pelajar sudah mulai sekolah tatap muka sejak Senin (3/1) dengan kapasitas 100 %.

Rasanya, tidak lama lagi soal vaksin ketiga (booster) kembali akan memicu gaduh di tengah masyarakat. Pemerintah merencanakan kick-off vaksin booster untuk masyarakat umum, 12 Januari. Berbayar atau gratis? Tunggu putusan yang akan diumumkan pemerintah dalam waktu dekat.

Mengacu pada UU No 6/2018 Tentang Kekarantinaan Kesehatan sebenarnya menjadi kewajiban pemerintah melindungi masyarakat.

"Setiap orang mempunyai hak mendapatkan pelayanan kesehatan dasar sesuai kebutuhan medis, kebutuhan pangan, dan kebutuhan kehidupan sehari- hari lainnya selama karantina. (Pasal 8).

Soal karantina dan lama karantina juga bikin gaduh. Berubah-ubah. Tantowi Yahya, mantan Dubes RI di New Zealand, sepulang ke Tanah Air, menjalani karantina 10 hari.

Hari Selasa Tantowi sudah menjalani 8 hari karantina. Sempat dia tanya, apakah ketentuan baru soal karantina berlaku surut? Dia bertanya di WAG. Saya meresponsnya dengan kelakar.

"Anggap saja lagi berpuasa Pak Dubes. Yang lebaran (karantina) cepat, berarti Muhammadiyah. Yang lebarannya belakangan, NU. Ikut pemerintah".

Ada juga diskriminasi dalam aturan karantina ini. Sempat dinikmati anggota DPR RI, Mulan Jameela, dan keluarga secara terang-terangan.

Ada juga permainan agensi hotel. Sebenarnya, itu tak perlu terjadi tempo hari jika otoritas konsisten memberlakukan aturan yang ada. Atau: bebaskan saja para pendatang dari luar negeri karantina di rumah masing-masing dengan persyaratan ketat. Sambil dipantau melalui aplikasi Satgas Covid-19.

Kalau melanggar, baru dikenakan sanksi dan denda berat. Metode itu berlaku di beberapa negara. Buat apa pula bikin aturan yang ujungnya hanya memberatkan keuangan negara maupun rakyat yang sudah payah akibat pandemi. []

Penuli adalah wartawan senior

Media Berita Terkini, Secepat Kilat!

© 2021 BeritaFlash. All Rights Reserved.