Trump Sambut Xi Jinping di Bandara: Sambutan Langka, B-1 Terbang Lintas

Donald Trump menyambut langsung Xi Jinping di Joint Base Andrews dengan karpet merah dan atraksi pesawat pengebom, mengawali kunjungan tiga hari di Washington.

BeritaFlash AI · · Internasional

Trump Sambut Xi Jinping di Bandara: Sambutan Langka, B-1 Terbang Lintas
Foto: Suasana landasan pacu Joint Base Andrews saat penyambutan pemimpin asing · U.S. Air Force photo by Airman 1st Class Martha Moore · Public domain

Rangkuman

WASHINGTON — Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyambut langsung Presiden China Xi Jinping di landasan pacu Joint Base Andrews, pangkalan udara militer di luar Washington, Rabu (23/9/2026) waktu setempat. Gestur langka itu menandai dimulainya kunjungan kenegaraan penuh seremoni selama tiga hari yang bertujuan meredakan ketegangan dua negara adidaya, mulai dari isu kecerdasan buatan (AI), perdagangan, hingga Iran.

Dilansir AFP via Detik, Trump dan Ibu Negara Melania berjabat tangan dengan Xi dan istrinya, Peng Liyuan, sesaat setelah Xi turun dari pesawat. Trump, yang mengenakan mantel panjang dan sarung tangan, berdiri berdampingan dengan Xi diiringi musik korps militer, sebelum dua pesawat pengebom B-1 melakukan atraksi terbang lintas yang menderu keras. Enam jet tempur F-22 dan enam jet F-16 turut berjajar di landasan pacu, sementara para pejabat AS berjejer di dekat karpet merah.

Seorang presiden AS sangat jarang pergi ke bandara untuk menyambut pemimpin asing secara langsung. Sambutan serupa bahkan tidak didapatkan Trump saat mengunjungi Beijing pada Mei lalu. Rangkaian kunjungan Xi diisi acara megah selama tiga hari, termasuk atraksi terbang lintas lainnya, jamuan kenegaraan di Gedung Putih, hingga kunjungan ke Arsip Nasional tempat penyimpanan dokumen Deklarasi Kemerdekaan AS pada Jumat (25/9).

Menurut media pemerintah China, Xi didampingi orang kepercayaannya, Cai Qi, serta Menteri Luar Negeri Wang Yi. Menariknya, tidak ada CEO perusahaan China dalam delegasi Xi, ungkap dua sumber kepada AFP — meskipun para petinggi teknologi AS, termasuk pemimpin perusahaan AI terkemuka, dijadwalkan hadir dalam jamuan kenegaraan di Gedung Putih.

Agenda pembicaraan kedua pemimpin terbilang berat. Salah satu isu utama adalah kekhawatiran — yang diperkuat peringatan para CEO teknologi — bahwa AI berisiko memusnahkan umat manusia. Namun di tengah persaingan supremasi AI, kecil kemungkinan tercapai kesepakatan mengatur teknologi itu. Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan, pembicaraan awal dengan mitranya dari China, He Lifeng, mencakup pembentukan saluran komunikasi khusus untuk isu AI. Keduanya menggelar pembicaraan "substansial" pada Rabu untuk mempersiapkan kunjungan Xi.

Di bidang perdagangan, kedua negara sepakat memperpanjang gencatan dagang yang dicapai saat Trump dan Xi bertemu di Busan, Korea Selatan, tahun lalu, selama dua bulan hingga Januari — memberi waktu tambahan membahas kesepakatan yang lebih luas. Jonathan Czin dari Brookings Institution menilai harapan akan hasil konkret memang kecil, "tetapi saya rasa akan ada perpanjangan dari kesepakatan informal tersebut." Para analis menilai China melihat melampaui masa jabatan Trump yang berakhir awal 2029, dan dalam banyak hal sedang mengulur waktu sembari memperkuat posisi.

Eropa mengamati pertemuan ini dengan saksama. China menguasai sekitar 70 persen penambangan tanah jarang dunia dan lebih dari 85 persen kapasitas pemurniannya — posisi tawar yang sangat kuat. Alicia García Herrero dari lembaga kajian Bruegel menilai Xi datang ke Washington dengan kartu kuat. "AS dalam satu pengertian akan bernegosiasi untuk Eropa, dan Eropa harus membayar harga untuk itu," katanya kepada Euronews, dikutip dari Republika. Brussels sendiri sedang menjalankan negosiasi tersendiri dengan Beijing untuk mengurangi ketidakseimbangan perdagangan.

Sambutan bintang lima untuk Xi menuai kritik dari garis keras Partai Republik, terutama di tengah laporan bahwa Beijing memasok intelijen kepada Iran untuk serangan terhadap pasukan AS. "Panglima tertinggi kita harus ingat bahwa tamunya adalah seorang diktator yang kejam, tidak dipilih melalui pemilu, dan menindas," kata Senator Roger Wicker, Ketua Komite Angkatan Bersenjata Senat. Trump sendiri enggan mengangkat isu itu, dengan alasan Beijing dan Washington sama-sama saling memata-matai.

Bagi Trump, kunjungan Xi juga menjadi panggung seremoni di tengah persoalan domestik: dampak perang Iran terhadap harga bahan bakar telah membuat tingkat kepuasan publik terhadapnya merosot ke rekor terendah menjelang pemilu sela November. Pekan yang sama, di podium Majelis Umum PBB New York, Presiden Prancis Emmanuel Macron secara terbuka menepis klaim Trump soal perdamaian Gaza, menyebut tidak ada satu pun koridor kemanusiaan yang dibuka kembali, dan memperingatkan dunia soal kembalinya "hukum rimba" — kritik yang langsung dibalas Gedung Putih dengan pembelaan atas Rencana 20 Poin Trump untuk Gaza.

Sumber

  1. Momen Langka Trump Sambut Xi Jinping di Bandara, Pesawat Pengebom Melintas — Detik
  2. Trump-Xi Bertemu di Washington, Eropa Terjepit Tarif, Tanah Jarang, dan AI — Republika
  3. Meski Jadi Musuh Utama AS, Trump Gelar Karpet Merah untuk Xi Jinping — Sindonews
  4. Gebrak Podium PBB! Macron 'Permalukan' Trump, Ungkit Gaza-Hukum Rimba — CNBC Indonesia

Berita terkait