Dapur MBG Dijual Rp300 Juta Hingga Rp350 Juta Per-Titik, Sudaryono: Itu Sebelum Saya Jadi Kepala BGN
Oleh Adi Rahmadi · · Politik

Rangkuman
- Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono mengungkap dugaan praktik jual beli titik dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) senilai Rp300 juta hingga Rp350 juta di era kepemimpinan sebelumnya, dalam agenda 100 Hari Kerja di Jakarta Selatan, Kamis (29/10/2026).
- Sudaryono membeberkan modus yayasan calo yang menitipkan titik SPPG tanpa modal, lalu meminta potongan Rp500 hingga Rp1.500 per porsi makanan setiap hari.
- Sudaryono merupakan Kepala BGN ketiga sejak lembaga dibentuk Agustus 2024 — menggantikan Nanik Sudaryati Deyang yang mengundurkan diri, dan Dadan Hindayana yang dicopot Presiden Prabowo lalu menjadi tersangka kasus korupsi.
JAKARTA — Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono mengungkap dugaan praktik jual beli titik dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan nilai mencapai Rp300 juta hingga Rp350 juta per titik.
Sudaryono mengatakan, praktik jual beli Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) itu ia temukan setelah dirinya diberi kepercayaan menjabat Kepala BGN pada 22 Juli 2026.
"Titik dapur diperjualbelikan. Sebelum saya jadi Kepala BGN, sudah saya sering dengar Rp350 juta, Rp300 juta diperjualbelikan. Kemudian, yayasan calo ternyata banyak. Ini saya temukan setelah saya jadi Kepala BGN," kata Sudaryono dalam agenda 100 Hari Kerja di Jakarta Selatan, Kamis (29/10/2026), dikutip dari Kompas.
Modus Yayasan Calo
Sudaryono menjelaskan, idealnya dapur MBG dibangun oleh mitra atau investor yang memiliki modal, lalu membuat yayasan untuk bisa menyalurkan bantuan pemerintah.
Namun yang terjadi, terdapat yayasan yang tidak memiliki modal untuk membangun maupun mengoperasikan dapur, tetapi justru memperoleh akses terhadap titik SPPG.
"Yang terjadi adalah banyak oknum di BGN pusat yang lampau itu kemudian dia bikin banyak yayasan, nitip-nitipin titik-titik, tetapi tidak punya uang. Sementara orang yang ingin bangun dapur tidak punya akses untuk bisa dapat titik ke BGN. Ketemu lah ini," ujar Sudaryono.
Akibatnya, yayasan-yayasan semacam itu diduga meminta potongan dari setiap porsi makanan MBG yang disalurkan.
"Ada yayasan-yayasan yang tidak punya peranan apa pun, hanya nitipi, nyalo, kemudian minta potongan per ompreng Rp500, Rp1.000, Rp1.500 setiap omprengnya setiap hari kali sekian ribu kali sekian dapur," tutur dia.
Sudaryono menilai praktik tersebut mengurangi dana yang semestinya digunakan untuk mendukung operasional dapur dan penyediaan makanan bagi penerima manfaat.
Tiga Kepala BGN dalam Dua Tahun
Sudaryono merupakan orang ketiga yang memimpin BGN sejak lembaga itu dibentuk pada Agustus 2024 oleh Presiden Joko Widodo, dikutip dari CNBC Indonesia dan Kumparan.
Kepala BGN pertama adalah Dadan Hindayana, akademisi Institut Pertanian Bogor (IPB) yang dilantik Jokowi pada 19 Agustus 2024. Di era Presiden Prabowo Subianto, Dadan dicopot dari jabatannya dan kemudian ditetapkan sebagai tersangka dugaan korupsi.
Posisi Dadan kemudian digantikan Nanik Sudaryati Deyang, mantan jurnalis yang sebelumnya menjabat Wakil Kepala BGN. Nanik lalu mengundurkan diri, dan Presiden Prabowo menunjuk Wakil Menteri Pertanian Sudaryono sebagai Kepala BGN pada Juli 2026. Artinya, BGN telah berganti pemimpin tiga kali sebelum genap dua tahun berdiri.
Bersih-bersih Tanpa Pandang Bulu
Sudaryono menegaskan pihaknya kini membersihkan seluruh yayasan yang tidak memiliki peranan dalam operasional dapur, dikutip dari Metrotvnews dan Tirto.
"Maka di era kita sekarang itu kami bersihkan semua, kami tidak peduli dengan yayasan itu punya siapa, selama yayasan itu tidak ada peranan, kami putus semuanya," ujarnya.
BGN memperbarui seluruh perjanjian kerja sama (SPK) untuk memeriksa kembali peran yayasan dan mitra guna menghindari praktik percaloan. BGN juga memprioritaskan mitra yang serius menginvestasikan dana, membangun fasilitas, dan menjalankan operasional dapur.
"Petunjuk Presiden Prabowo Subianto jelas, BGN berada pada sisi mitra yayasan yang keringat, yang berkorban, dia membangun dan mendukung program pemerintah," ujar Sudaryono.
Dalam 100 hari kepemimpinannya, Sudaryono juga mengklaim efisiensi anggaran MBG hingga Rp44 triliun. BGN sebelumnya menemukan 414 dapur MBG yang belum beroperasi tetapi sudah menerima pencairan anggaran, dan menarik kembali Rp311 miliar ke kas negara. Lebih dari 800 dapur bermasalah juga telah ditutup, dikutip dari Antara dan Tribunnews.
Sumber
- Sudaryono Ungkap Ada Jual-Beli Titik Dapur MBG Rp 350 Juta di Era Kepemimpinan Sebelumnya — Kompas
- BGN Berubah di Tangan Sudaryono, Berantas Korupsi Sampai ke Dapur MBG — CNBC Indonesia
- Profil Dadan Hindayana, Kepala BGN yang Dicopot Prabowo — Kumparan
- BGN Wajibkan SPPG Perbarui SPK Hindari Percaloan Dapur MBG — Metrotvnews
- Sudaryono Umumkan BGN Tutup Lebih dari 800 Dapur MBG Bermasalah — Antara
Topik
Berita terkait
- Terima Tim Perumus UU Satu Data Indonesia, Prabowo: Kedaulatan Data Fondasi Jaga Keutuhan Bangsa
- Singgung 2 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran, Jokowi: Perlu Dievaluasi
- Demo Hari Sumpah Pemuda 2026: Mahasiswa Turun ke Jalan di DPR dan Bundaran HI
- Yusril Dorong Pencurian Ikan dan Underinvoicing Masuk Kategori Korupsi
- Fathan Subchi, Anggota VI BPK RI, Wafat saat Bertugas di Moskow