Serangan Udara Myanmar di Pasar Rakhine, Korban Tewas Capai 50

Jet tempur Myanmar membom pasar di Kyauktaw, Rakhine, Senin (28/9/2026). Arakan Army menyebut korban tewas naik jadi 50 orang, puluhan terluka.

Oleh · · Internasional

Serangan Udara Myanmar di Pasar Rakhine, Korban Tewas Capai 50
Foto: Warga sipil Rakhine usai serangan udara Angkatan Udara Myanmar (foto arsip konflik Rakhine). · Myanmar Now News · CC BY 3.0

Rangkuman

YANGON — Jumlah korban tewas akibat serangan udara militer Myanmar di sebuah pasar di negara bagian Rakhine naik menjadi 50 orang, menurut kelompok bersenjata etnis Arakan Army, seperti dilaporkan Reuters, Selasa (29/9/2026). Sedikitnya 58 orang lainnya terluka dalam serangan yang mengguncang kota Kyauktaw itu.

Serangan terjadi pada Senin (28/9/2026) sekitar pukul 12.00 waktu setempat (05.30 GMT). Menurut keterangan Arakan Army yang dikutip Al Jazeera dan Associated Press, sebuah jet tempur menjatuhkan dua bom di dekat pasar lokal di Kyauktaw, kota yang berada di bawah kendali kelompok tersebut. Korban tewas termasuk para pedagang, pembeli, dan pejalan kaki yang sedang berada di sekitar pasar.

Wai Hun Aung, pejabat senior tim penyelamat di Rakhine, mengonfirmasi rincian korban kepada Associated Press. Ia mengatakan pasar yang diserang merupakan pusat grosir utama kawasan itu, yang menarik pedagang dan pembeli dari seluruh negara bagian. "Ini salah satu serangan udara paling parah di Rakhine," ujarnya. Foto dan video yang beredar di media sosial memperlihatkan bangunan terbakar, kendaraan rusak, dan sebagian jembatan di dekat lokasi hancur.

Militer Myanmar belum memberikan komentar resmi atas serangan tersebut. Namun dalam berbagai insiden sebelumnya, junta selalu menyatakan hanya menyerang target militer yang sah dan menuduh kelompok perlawanan melakukan "terorisme". Klaim kedua belah pihak sulit diverifikasi secara independen karena akses ke wilayah konflik sangat dibatasi.

Myanmar dilanda perang saudara sejak militer menggulingkan pemerintahan terpilih Aung San Suu Kyi dalam kudeta 1 Februari 2021. Setelah aparat menumpas unjuk rasa damai dengan kekerasan mematikan, banyak penentang junta mengangkat senjata dan bergabung dengan kelompok-kelompok bersenjata etnis. Pada April 2026, mantan panglima militer Min Aung Hlaing dilantik sebagai presiden oleh parlemen yang didukung militer, memformalkan cengkeraman kekuasaannya setelah lima tahun memerintah lewat junta.

Arakan Army adalah kelompok bersenjata terlatih dan bersenjata lengkap yang memperjuangkan otonomi bagi etnis minoritas Rakhine. Kelompok ini melancarkan ofensif besar pada November 2023 dan sejak itu merebut markas militer regional yang strategis serta 14 dari 17 kota kecil (township) di negara bagian itu. Militer membalas dengan memperketat blokade jalur perdagangan ke Rakhine, yang memperparah kelangkaan pangan, dan menggencarkan serangan udara.

Serangan di Kyauktaw bukan yang pertama menelan korban sipil massal. Pada Desember 2025, serangan udara militer terhadap sebuah rumah sakit di kota Mrauk-U, Rakhine, menewaskan sedikitnya 34 orang dan melukai sekitar 80 lainnya — insiden yang dikecam Amnesty International sebagai bentuk pengabaian brutal terhadap nyawa manusia.

Menurut data PBB, hampir setengah juta orang mengungsi di Rakhine akibat konflik. Pada Agustus 2026, PBB menyebut situasi hak asasi manusia di Myanmar anjlok "ke titik terendah baru", dengan kekerasan brutal terhadap minoritas Rohingya dan dampak ekonomi gelap seperti penambangan ilegal mineral tanah jarang. Proyek pemantau konflik ACLED memperkirakan lebih dari 100.000 orang tewas sejak perang saudara pecah, dengan kedua pihak kini sama-sama memakai drone dalam pertempuran yang berkepanjangan.

Sumber

  1. Death toll from Myanmar airstrike in Rakhine state rises to 50 — Reuters
  2. Myanmar military launches air strike on Rakhine market, killing at least 33 — Al Jazeera
  3. Myanmar military airstrike hits market, killing at least 33 people in Rakhine state — CBC News (AP)
  4. Laporan: Serangan Udara Militer Myanmar Tewaskan 50 Orang di Rakhine — Okezone

Berita terkait