Sandera WNI Bajak Laut Somalia Bebas Setelah 5 Bulan, 5 ABK Tewas
Empat WNI awak kapal tanker MT Honour 25 akhirnya bebas dari penyanderaan perompak Somalia usai operasi penyerbuan pasukan Puntland pada 29 September 2026.
Oleh Adi Rahmadi · · Internasional

Rangkuman
- Empat WNI awak MT Honour 25 bebas setelah disandera perompak Somalia sejak 21 April 2026
- Pasukan Puntland menyerbu kapal pada 29 September 2026; lima ABK tewas ditembak perompak sebelum operasi
- 16 terduga perompak ditangkap, tiga WNI selamat dibawa ke Bosaso menunggu pemulangan
JAKARTA — Empat warga negara Indonesia yang disandera bajak laut Somalia selama lebih dari lima bulan akhirnya bebas. Aparat bersenjata Puntland, wilayah semi-otonomi di Somalia, menyerbu kapal tanker MT Honour 25 pada Selasa pagi, 29 September 2026, dan mengakhiri drama penyanderaan yang berlangsung sejak 21 April 2026.
Keempat WNI itu adalah Kapten Ashari Samadikun asal Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan; Adi Faizal, 2nd Officer asal Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan; Wahudinanto, Chief Officer asal Pemalang, Jawa Tengah; dan Fiki Mutakin asal Bogor, Jawa Barat. Mereka merupakan bagian dari 17 awak kapal tanker yang mengangkut sekitar 18.500 barel minyak menuju Mogadishu ketika dibajak di lepas pantai Somalia.
Operasi pembebasan berjalan dramatis. Wakil Menteri Informasi Puntland, Bile Qabowsade, mengatakan kepada BBC Somali bahwa lima orang sandera tewas ditembak perompak sebelum aparat berhasil menaiki kapal. Korban tewas terdiri atas tiga warga Pakistan, satu warga India, dan satu warga Myanmar. Sejumlah awak lainnya mengalami luka-luka, termasuk WNI bernama Fiki Mutakin yang disebut mengalami luka tembak.
"Hampir mati tadi juga. Tidak bisa bantu itu," kata Ashari Samadikun kepada ayahnya, Syamsuddin, melalui panggilan video sesaat setelah dibebaskan, dikutip dari BBC Indonesia. Syamsuddin menuturkan suasana di kapal sangat mencekam. "Sudah pada menangis karena ada beberapa yang cedera dan ada beberapa yang meninggal. Tapi sudah dikuasai oleh militer," ujarnya.
Pejabat setempat menyebut 16 terduga perompak telah ditangkap, sementara pelaku lainnya melarikan diri dan masih dalam pengejaran. Kapal tanker itu berlabuh di dekat pantai Somalia, di antara Kota Xaafun dan Bander Beyla. Tujuh ABK yang tidak terluka, termasuk tiga WNI — Ashari, Wahudinanto, dan Adi Faizal — dibawa dengan pengawalan ketat menuju Bosaso, sementara lima ABK yang terluka dirawat di rumah sakit di wilayah Gorawe.
Selama penyanderaan, kawanan perompak menuntut tebusan kepada perusahaan pemilik kapal, namun negosiasi tidak mencapai titik temu. Kondisi para sandera dilaporkan kian memburuk: persediaan makanan menipis dan banyak yang jatuh sakit. "Mereka hanya bertahan dengan kesabaran dan doa serta sisa beras yang harus diirit," kata Syamsuddin.
Kementerian Luar Negeri RI sebelumnya mengintensifkan koordinasi dengan otoritas Somalia, tokoh masyarakat, dan pemangku kepentingan bisnis melalui KBRI Nairobi. Direktur Perlindungan WNI Kemlu, Heni Hamidah, menyatakan prioritas utama adalah keselamatan para awak. Keluarga, termasuk ibu kandung Ashari, Sitti Aminah, dan istrinya, Santi Sanaya, sempat memohon kepada pemerintah dan Presiden Prabowo Subianto untuk bertindak cepat.
Hingga kini belum ada kepastian kapan keempat WNI itu akan dipulangkan ke Indonesia. Syamsuddin mengatakan anaknya belum bersedia pulang sebelum rekannya, Fiki Mutakin, pulih. "Anak saya sudah bebas, sudah tenang. Tinggal menunggu situasi aman kembali dan penyelesaian perusahaan," ujarnya. Peristiwa ini menandai kebangkitan kembali pembajakan di perairan Somalia yang sempat mereda beberapa tahun terakhir.
Sumber
- Drama penyanderaan berakhir, empat WNI yang disekap bajak laut Somalia telah bebas — BBC Indonesia
- Govt Steps Up Response to MT Honour 25 Hijacking, Indonesians Held by Somali Pirates — RRI
- Somali pirates kill crew on hijacked petroleum tanker - Alert — Hamer Intelligence