Maskapai Iran Dilarang Terbang ke UEA, Tunduk pada Sanksi Baru AS
Uni Emirat Arab batalkan seluruh penerbangan maskapai Iran sejak tengah malam setelah AS jatuhkan sanksi ke 27 maskapai Iran.
BeritaFlash AI · · Internasional

Rangkuman
- UEA batalkan seluruh penerbangan maskapai Iran sejak tengah malam, Kamis (24/9), menurut laporan ISNA yang dikutip AFP
- AS menjatuhkan sanksi terhadap 27 maskapai Iran dan 9 perusahaan asing; berlaku sejak 23 September
- Bessent ancam negara atau perusahaan yang tetap melayani maskapai Iran akan dikeluarkan dari sistem dolar AS
JAKARTA — Uni Emirat Arab (UEA) menghentikan seluruh penerbangan maskapai Iran mulai Kamis (24/9/2026), menjadi negara terbaru yang tunduk pada tekanan sanksi Amerika Serikat terhadap sektor penerbangan sipil Iran. Langkah ini memutus salah satu rute udara tersibuk Teluk dan menambah isolasi ekonomi Teheran di tengah memanasnya konfrontasi dengan Washington.
Kantor berita Iran, ISNA, melaporkan seluruh penerbangan maskapai Iran menuju UEA telah dibatalkan sejak tengah malam, seperti dikutip AFP dan diberitakan CNN Indonesia. Sebuah penerbangan Iran Airtour yang dijadwalkan berangkat dari Teheran menuju Dubai bahkan dibatalkan hanya beberapa saat sebelum lepas landas pada Kamis pagi. Seorang penumpang mengaku baru diberitahu soal pembatalan itu ketika hendak mencetak tiket di bandara. Detail tersebut sejauh ini bersumber dari laporan pihak Iran dan belum ada pernyataan resmi otoritas penerbangan UEA.
Pembatalan massal itu merupakan dampak langsung dari sanksi baru yang diumumkan Menteri Keuangan AS Scott Bessent pada Senin (21/9). Departemen Keuangan AS menjatuhkan sanksi terhadap 27 maskapai penerbangan Iran dan sembilan perusahaan asing yang dituduh membantu operasional mereka, termasuk perusahaan yang berbasis di Turki, UEA, Malaysia, dan Kazakhstan. Kebijakan itu berlaku mulai Rabu (23/9), sehari sebelum pembatalan penerbangan di UEA.
"Semua maskapai penerbangan Iran akan ditutup di seluruh dunia," kata Bessent dalam wawancara dengan CNBC, seperti dikutip Al Arabiya. Ia menegaskan siapa pun yang tetap memberi layanan kepada maskapai Iran akan menghadapi konsekuensi berat. "Jika mereka mendarat, Anda tidak boleh menyediakan bahan bakar, Anda tidak boleh memberikan layanan pendaratan, Anda tidak boleh menjual tiket kepada mereka, atau Anda akan dikeluarkan dari sistem dolar," ujarnya seperti dikutip AFP.
Bessent menyebut langkah ini bagian dari upaya yang dilaporkan media Iran sebagai "D-Day ekonomi" atau Operation Economic Outcast — kampanye tekanan maksimum untuk mengisolasi Teheran setelah upaya mengakhiri perang di Timur Tengah lewat jalur militer mengalami kebuntuan. Dalam wawancara yang sama, Bessent juga menyebut China "sangat terlibat" dalam upaya penerapan sanksi terhadap Iran, termasuk penutupan akses maskapai.
Sanksi sektor penerbangan ini melanjutkan serangkaian pembatasan yang telah diberlakukan Washington terhadap Teheran sebelumnya. Bedanya, paket terbaru ini menargetkan layanan esensial penerbangan internasional — bahan bakar, layanan darat, hingga penjualan tiket — sehingga praktis meng-grounded-kan armada Iran dari jaringan udara global. Sejumlah negara dilaporkan mulai menghentikan atau membatasi penerbangan maskapai Iran sejak ancaman itu disampaikan, meski belum semua mengumumkan secara resmi.
Tekanan ekonomi ini berlangsung di tengah ketegangan tinggi antara Iran dan AS serta Israel. Dalam pidatonya di Sidang Umum PBB di New York, Rabu (23/9), Presiden Iran Masoud Pezeshkian bersikap menantang, menyatakan Teheran tidak akan pernah "bertekuk lutut" setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan "memusnahkan" Iran bila kesepakatan damai tidak tercapai. Pengamat menilai penutupan rute UEA bisa merambat ke gangguan perjalanan warga, jalur dagang informal, serta harga tiket dan kargo di kawasan Teluk dalam beberapa pekan ke depan.
Sumber
- Tunduk Sanksi AS, UEA Larang Maskapai Iran Beroperasi — CNN Indonesia
- Ikuti Sanksi AS, Uni Emirat Arab Larang Maskapai Iran Beroperasi — Detik
- US treasury chief says Iran airlines to be 'shut down' Sept. 23 — Al Arabiya