Kerusuhan Prancis: 2.300 Ditangkap, Jam Malam Diberlakukan di Sejumlah Kota

Lebih dari 2.300 orang ditangkap dan hampir 1.000 polisi terluka dalam kerusuhan Prancis; jam malam diberlakukan, Italia mengerahkan 500 tentara di Milan.

Oleh · · Internasional

Kerusuhan Prancis: 2.300 Ditangkap, Jam Malam Diberlakukan di Sejumlah Kota
Foto: Barisan polisi dan api di jalanan Paris saat kerusuhan, 17 Oktober 2026. · Jorge Jaramillo · CC BY-SA 4.0

Rangkuman

PARIS — Prancis memberlakukan jam malam terbatas di sejumlah kota besar menyusul kerusuhan akhir pekan yang disebut sebagai salah satu yang terburuk dalam beberapa tahun terakhir. Lebih dari 2.300 orang ditangkap dan hampir 1.000 polisi serta anggota gendarmerie terluka dalam bentrokan dengan demonstran pada Sabtu (17/10/2026), menurut Kementerian Dalam Negeri Prancis yang dikutip Okezone dari Aljazeera.

Perdana Menteri Prancis Sebastien Lecornu pada Senin (19/10/2026) mengumumkan telah meminta otoritas regional memberlakukan jam malam terbatas. Di Paris, jam malam berlaku di kawasan Place de la Republique dan jalan-jalan sekitar pusat perbelanjaan Les Halles mulai pukul 23.00 hingga 06.00 waktu setempat. Seluruh pertemuan dan demonstrasi dilarang di ibu kota mulai pukul 20.00. Kebijakan serupa diterapkan di Lyon, Nice, dan Coulaines — beberapa aturan secara khusus menyasar anak di bawah umur — serta di Lille dan tiga komune di sekitarnya untuk Senin dan Selasa malam.

Skala kerusuhan kali ini luar biasa. Lebih dari 500.000 orang turun ke jalan di seluruh Prancis menuntut perbaikan kondisi pendidikan serta memprotes tingginya biaya hidup dan memburuknya pelayanan publik. Sebagian besar aksi berjalan damai, namun di sejumlah kota berubah menjadi kerusuhan: penjarahan toko, pembakaran gedung balai kota, serta serangan terhadap kantor polisi dan fasilitas pemerintah oleh perusuh bertopeng. Seorang demonstran dilaporkan kehilangan tangan akibat terkena granat pengendali massa yang dilemparkan polisi.

Pejabat kepolisian Prancis, Nunez, secara terbuka mengakui aparat kehilangan kendali di sejumlah lokasi. 'Pada hari Sabtu di beberapa kota besar, Anda tidak bisa menatap mata para pemilik toko setelah ratusan toko dijarah dan mengatakan kepada mereka bahwa kami belum kehilangan kendali,' katanya. Ia memperkirakan sekitar 60.000 personel penegak hukum dikerahkan di seluruh Prancis, namun jumlah itu tidak memadai menghadapi besarnya massa perusuh. Di Paris saja, sekitar 350 orang ditangkap pada Minggu (18/10) dan sepanjang malamnya.

Gelombang kerusuhan tidak hanya melanda Prancis. Mengutip CNBC Indonesia dari CNBC International, demonstrasi serupa pecah di Italia, Spanyol, Portugal, dan Albania pada Sabtu dan Minggu dengan pemicu berbeda-beda namun berakar pada persoalan yang sama: biaya hidup. Di Milan, Italia, bentrokan antara pengunjuk rasa dan polisi, penjarahan toko, dan perusakan properti berlangsung dua hari hingga pemerintah mengerahkan 500 tentara untuk 'mempertahankan Milan'. Para perusuh menyerang polisi dengan batu dan bongkahan paving serta membakar barikade.

Di Spanyol, kemarahan publik dipicu kasus Maricarmen Abascal, perempuan 87 tahun yang diusir dari tempat tinggalnya setelah harga sewa dinaikkan 230 persen oleh sebuah dana investasi, lalu meninggal dua pekan kemudian. Di Portugal, ribuan orang memprotes lonjakan harga perumahan — Eurostat mencatat kenaikan harga rumah tahunan di Portugal mencapai 16,5 persen, tertinggi di Uni Eropa. Di Albania, demonstran melemparkan bom molotov ke arah polisi menuntut pengunduran diri PM Edi Rama atas buruknya kondisi universitas dan mahalnya biaya kuliah.

Akar persoalan di Prancis sendiri berlapis. Profesor di American Graduate School di Paris, Douglas Yates, menyebut tiga faktor menyatu menjadi 'badai dahsyat': inflasi yang menggerus daya beli, manuver partai oposisi menjelang pemilu presiden 2027, dan gerakan pelajar yang menuntut perbaikan fasilitas sekolah. Data Insee menunjukkan pengangguran Prancis naik ke 8,3 persen atau 2,7 juta orang pada kuartal II 2026, dengan pengangguran usia 15-24 tahun mencapai 21,6 persen. Harga energi melonjak 21,3 persen, dan daya beli rumah tangga beranggotakan dua dewasa dan dua anak diperkirakan turun setara 1.200 euro per tahun sejak 2024.

Pemerintahan Presiden Emmanuel Macron sendiri berada dalam posisi fiskal sulit. Usulan anggaran 2027 dari PM Lecornu — yang bertujuan mempersempit defisit yang diproyeksikan 5,4 persen dari PDB — mencakup pembekuan indeks gaji pegawai negeri dan pengetatan penggantian biaya cuti sakit, kebijakan yang justru memicu kemarahan lebih luas. Imbal hasil obligasi pemerintah Prancis naik dan euro melemah pada Senin karena investor khawatir pada stabilitas utang negara itu.

Dari Jakarta, Menteri Luar Negeri Arrmanatha Christiawan Nasir memastikan pemerintah terus memantau keamanan warga negara Indonesia di Prancis dan sejumlah negara Eropa lainnya. 'Tentu terus kita pantau situasi di Eropa, khususnya di Prancis dan beberapa negara lainnya,' kata Menlu yang akrab disapa Tata itu di Kompleks Istana Kepresidenan, Selasa (20/10/2026). Sementara itu, Presiden AS Donald Trump dikabarkan menjadikan kerusuhan Prancis sebagai bahan kampanye pemilu sela di Amerika Serikat.

Sumber

  1. Kerusuhan di Prancis: 2.300 Orang Ditangkap dan Hampir 1.000 Polisi Terluka — Okezone
  2. Prancis Rusuh, Jam Malam Diberlakukan di Sejumlah Kota — Okezone
  3. Apa yang Membuat Eropa Chaos, Prancis-Italia Rusuh Besar-besaran? — CNBC Indonesia
  4. Kerusuhan Kian Meluas, Pemerintah Italia Kerahkan 500 Tentara Bersiaga — CNBC Indonesia
  5. Demo Ricuh di Prancis dan Italia, Menlu Pastikan Keamanan WNI Terus Dipantau — Okezone
  6. Trump Jadikan Demo Rusuh Prancis Bahan Kampanye Pemilu Sela AS — Detik

Berita terkait