Hotspot Karhutla Melonjak di 1.350 Titik, Kualitas Udara Palangkaraya Masuk Kategori Berbahaya

Oleh · · Lokal

Hotspot Karhutla Melonjak di 1.350 Titik, Kualitas Udara Palangkaraya Masuk Kategori Berbahaya
Foto: BeritaFlash · BeritaFlash

Rangkuman

JAKARTA — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia terus menjadi perhatian serius. Hingga 23 Oktober 2026 pagi, jumlah titik panas (hotspot) dengan tingkat kepercayaan tinggi tercatat mencapai 1.350 titik, meningkat 542 titik dibandingkan sebelumnya, dengan Kalimantan Tengah sebagai wilayah tertinggi, dikutip dari RRI.

Kementerian Kehutanan mencatat secara kumulatif pada periode 17-30 September 2026 terdapat 9.080 hotspot dengan rata-rata 649 titik per hari, dengan puncak pada 20 September 2026 sebanyak 1.843 titik. Sementara pada periode 1-13 Oktober 2026 tercatat 7.519 hotspot, dengan jumlah tertinggi pada 8 Oktober sebanyak 1.029 titik, dikutip dari Metro TV.

Humas Kementerian Kehutanan Ristianto Pribadi mengatakan meski sempat terjadi penurunan hotspot nasional sebesar 77,5 persen dalam 24 jam hingga 13 Oktober 2026, Sumatera Selatan justru mencatat peningkatan kumulatif sebesar 92 persen dibandingkan periode sebelumnya sehingga menjadi fokus utama penanganan.

"Sumatera Selatan ini ada peningkatan 92 persen sehingga memang ini menjadi fokus utama kami di Kementerian Kehutanan untuk lebih memberikan perhatian khusus kepada penanganan karhutla di Sumatera Selatan," kata Ristianto.

Untuk mendukung pemadaman, Kementerian Kehutanan mengerahkan 1.419 personel Manggala Agni di enam provinsi prioritas, sekitar 5.000 aparatur sipil negara (ASN) yang disiagakan, serta sekitar 50 unit armada udara untuk water bombing dan pemadaman udara sepanjang Januari hingga Oktober 2026. Selain pemadaman, tim gabungan juga menyelamatkan 232 individu satwa liar terdampak karhutla, termasuk 71 orangutan di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.

Kualitas Udara Kategori Berbahaya di 12 Wilayah

Dampak karhutla terhadap kualitas udara sangat nyata. Berdasarkan data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) per 13 Oktober 2026, kualitas udara di 12 wilayah terdampak karhutla masuk kategori berbahaya, dengan enam wilayah di antaranya berada di Kalimantan Tengah — menjadikannya provinsi dengan sebaran kualitas udara berbahaya terbanyak, dikutip dari Jawapos.

Direktur Kesehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Then Suyanti menyampaikan Palangkaraya mencatat angka ISPU tertinggi yakni 4.055. Berikutnya Kabupaten Katingan 868, Kabupaten Gunung Mas 766, dan Kabupaten Barito Selatan 652. Keempat wilayah tersebut berada di Kalimantan Tengah.

"Kategori berbahaya ini cukup banyak ya, itu ada 12 yang berbahaya yang berada di enam di Provinsi Kalimantan Tengah, terus ada satu di Kalimantan Selatan, dua di Jambi, dua di Sumatera Selatan, dan satu di Riau," ujar Then.

Wilayah lain dengan kualitas udara berbahaya meliputi Kabupaten Pali (Kalimantan Selatan) dengan ISPU 523, Palembang 492, Kabupaten Kotawaringin Timur 462, Kabupaten Muaro Jambi 371, Kota Jambi 351, Kabupaten Musi Rawas 321, Kota Prabumulih 313, dan Kabupaten Siak (Riau) 320. Parameter kritisnya berupa partikel PM2.5 maupun PM10.

Selain itu, sembilan wilayah lainnya masuk kategori sangat tidak sehat, yakni Kabupaten Tebo dan Tanjung Jabung Timur (Jambi), Kabupaten Murung Raya dan Kapuas (Kalteng), Kabupaten Bengkalis dan Kampar (Riau), Pontianak (Kalbar), Kabupaten Morowali (Sulteng), serta Kabupaten Ogan Ilir (Sumsel). Perkembangan terbaru per 22 Oktober 2026, data Kemenkes menunjukkan ada 16 wilayah dengan kualitas udara kategori berbahaya dan 7 wilayah sangat tidak sehat.

Dampak Kesehatan dan Imbauan

Kemenkes mencatat lebih dari 300.130 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) secara kumulatif per 16 Oktober 2026 di wilayah terdampak karhutla. Sebelumnya per 11 Oktober 2026 tercatat 277.075 kasus ISPA di 63 kabupaten/kota.

Then menjelaskan, asap karhutla mengandung partikel halus PM2.5, karbon monoksida, nitrogen dioksida, hingga senyawa organik beracun yang berdampak pada kesehatan. "Ini berakibat terhadap risiko kesehatan karena kita tahu asap kebakaran hutan dan lahan mengandung partikel halus, yaitu PM2.5, maupun karbon monoksida, nitrogen dioksida, dan senyawa organik beracun," jelasnya.

Gangguan yang dapat muncul antara lain ISPA dengan gejala batuk, sesak napas, pilek, dan radang tenggorokan, serta berpotensi memperburuk asma, memicu PPOK, iritasi mata dan kulit, hingga meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke pada lansia.

Dampak kabut asap juga memaksa penyesuaian di sektor pendidikan. Di Kalimantan Tengah, 135 satuan pendidikan atau sekitar 32 persen telah dialihkan ke Belajar Dari Rumah (BDR) daring penuh, dengan 339 murid dilaporkan terdampak ISPA.

Kemenkes mengimbau masyarakat di wilayah terdampak mengurangi paparan asap, membatasi aktivitas di luar ruangan, menggunakan masker yang sesuai, dan mewaspadai gejala gangguan pernapasan — terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita asma dan PPOK, serta pekerja lapangan.

Sumber

  1. Kualitas Udara di 12 Wilayah Terdampak Karhutla Masuk Kategori Berbahaya, Terbanyak di Kalteng — Jawapos
  2. Kemenhut Ungkap Hotspot Karhutla Nasional Turun 77,5% — Metro TV
  3. Hotspot Karhutla Melonjak Jadi 1.350 Titik, Kalteng Tertinggi — RRI
  4. ISPU Kalteng Capai 563, Kualitas Udara Masuk Kategori Berbahaya akibat Kabut Asap Karhutla — Hai Kalteng

Berita terkait