Iran eksekusi mati Hossein Pedaran, dituduh jadi mata-mata Mossad

Iran mengeksekusi Hossein Pedaran, dituduh menyuplai lokasi situs militer di Isfahan ke Mossad; tuduhan kehakiman Iran belum bisa diverifikasi independen.

Oleh · · Internasional

Iran eksekusi mati Hossein Pedaran, dituduh jadi mata-mata Mossad
Foto: Cakrawala Teheran dengan Menara Milad dan Pegunungan Alborz · Julia Maudlin · CC BY 2.0: Attribution

Rangkuman

TEHERAN — Iran mengeksekusi mati seorang pria yang dinyatakan bersalah menjadi mata-mata Israel. Hossein Pedaran dieksekusi dengan cara digantung setelah Mahkamah Agung Iran menguatkan vonis hukuman mati terhadapnya, menurut kantor berita Mizan yang dikelola badan kehakiman Iran, seperti dilansir Reuters, Sabtu (19/9/2026).

Mizan menyebut Pedaran divonis atas tuduhan spionase dan kerja sama intelijen dengan Israel. "Pedaran memberikan kepada badan intelijen Mossad milik Israel informasi mengenai situs-situs militer sensitif di Provinsi Isfahan," demikian laporan Mizan yang dikutip Reuters. Menurut badan kehakiman Iran, aktivitas spionase itu dilakukan Pedaran demi keuntungan finansial.

Eksekusi ini dikaitkan otoritas Iran dengan perang 12 hari antara Iran dan Israel. Informasi mengenai situs rudal tersebut disebut diserahkan kepada Mossad selama konflik berlangsung. Namun penting dicatat: tuduhan terhadap Pedaran berasal dari keterangan badan kehakiman Iran dan belum dapat diverifikasi secara independen. Reuters tidak melaporkan adanya bukti lain yang dapat mengonfirmasi tuduhan tersebut.

Eksekusi Pedaran bukan kasus tunggal. Awal pekan ini, Mizan juga mengumumkan eksekusi Ali Ardestani atas tuduhan serupa — spionase untuk Mossad dengan memberikan informasi sensitif negara — setelah hukumannya disetujui Mahkamah Agung. Sepanjang tahun ini, Teheran meningkatkan tajam penangkapan dan eksekusi orang-orang yang dituduh bekerja sama dengan Mossad, sebagai upaya menangkal spionase di tengah perang terbuka dengan Israel dan Amerika Serikat yang telah berlangsung lebih dari enam bulan.

Konfrontasi langsung kedua negara meletus setelah bertahun-tahun perang bayangan berupa serangan terselubung, operasi siber, dan perang proksi. Eskalasi memuncak ketika Israel, didukung Amerika Serikat, menyerang fasilitas nuklir Iran. Sejak itu gelombang eksekusi terhadap terduga kolaborator Israel terus berlanjut, dan kelompok-kelompok HAM mencatat lonjakan hukuman mati di Iran tahun ini.

Di tengah perang, tekanan internasional terhadap kedua pihak juga menguat. Para ahli Perserikatan Bangsa-Bangsa pekan ini menyatakan ada dasar untuk meyakini Amerika Serikat melakukan kejahatan perang dalam serangan-serangannya di Iran, termasuk serangan mematikan Februari lalu terhadap sebuah sekolah dasar di Minab dan kompleks olahraga di Lamerd — serangan yang hingga kini tidak diakui Washington.

Sementara itu, celah diplomatik tipis masih terbuka. Amerika Serikat dilaporkan mengizinkan delegasi Iran, termasuk Presiden Masoud Pezeshkian dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, menghadiri sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York, tepat ketika perang melewati tanda enam bulan. Qatar sebelumnya menjadi mediator pembicaraan tidak langsung Washington-Teheran, meski hingga kini belum ada terobosan berarti dan harga minyak dunia tetap tertekan oleh ketidakpastian di Selat Hormuz.

Bagi Indonesia, perkembangan di kawasan ini tetap penting dicermati. Ketegangan di Selat Hormuz selama berbulan-bulan telah mendorong harga minyak mentah dunia ke level tertinggi sejak 2022, yang berimbas langsung ke harga bahan bakar dan energi di dalam negeri. Perang Iran juga mengubah peta diplomatik Timur Tengah: negara-negara Arab yang frustrasi dengan konflik berkepanjangan mulai menyuarakan sikap lebih tegas, sementara serangan terhadap kapal tanker dan fasilitas energi terus menambah risiko gangguan pasokan global.

Sumber

  1. Iran Eksekusi Mati Pria yang Dituduh Jadi Mata-mata Israel — CNN Indonesia
  2. Iran executes man convicted of spying for Israel's Mossad — TRT World
  3. US-Israel war with Iran | Latest News and Updates — BBC

Berita terkait